Tamu Istimewa di Rumah Kami (2)

Menyadari bahwa saya salah jalan, akhirnya saya menyetop angkot KWK B 01, jurusan Grogol-Muara Karang. Dengan badan berkeringat karena berjalan dan kepanasan di bawah sinar matahari sore, plus polusi udara Jakarta. Ditambah lagi rasa stress waktu yang semakin petang dan ketakutan terlambat sampai di Bandara, di atas angkot saya hanya bisa diam dalam kecemasan dan detak jangtung yang semakin kencang. Saat itu saya hanya bisa berdoa, sayang doa saya itu jelek yang sungguh tidak pantas untuk ditiru, yaitu agar pesawat yang membawa Fitri sedikit delay dan jangan mendarat dulu sebelum saya sampai di bandara. Enak banget!  🙂

Belum lagi sampai di persimpangan Pluit Selatan, yang di bagian utara persimpangannya terdapat halte busway yang sebelumnya sudah saya lewati bersama Zulfikar Akbar, saya langsung turun dari angkot, membayar ongkos Rp. 2.000,- lalu berjalan cepat menuju lampu merah, setelah sampai belok kekiri memasuki jalan Pluit Selatan, lalu tancap gas berjalan  lebih cepat lagi seperti atlet triathlon, menuju titik kumpul menunggu taksi, sekitar 200 meter dari persimpangan.

Di tempat menunggu taksi saya hanya sendiri, tapi taksi yang bisa saya tumpangi tidak ada, yang lewat cuma taksi tertentu yang tidak bisa di pakai buat lifting. Waktu berjalan terus, saya tak berani melihat jam yang ada di telepon genggam, karena jam bagi saya saat itu saya rasakan sebagai dentang kematian menuju tiang gantungan, huh! Terbayang Fitri luntang lantung jadi gelandangan di bandara.

Dari jauh saya melihat taksi yang biasanya mau buat lifting, tapi dua orang penumpang yang wajahnya mirip Ahok lebih dulu menyetopnya, saya hanya bisa menarik nafas, bahwa penantian saya akan semakin lama.Sementara di bandara kelihatan Fitri duduk bengong dengan wajah putus asa di tangga ruang tunggu, dengan pandangan mata menerawang, sambil berusaha menahan airmatanya agar tak jatuh berderai. Aduh anakku.

Saat aku tercenung itu, taksi yang baru di naiki dua penumpang tadi menepi di hadapanku. Sopirnya keluar dari taksi, sambil menyembulkan kepala dari balik taksinya dia menggamit saya. Begitu juga kaca pintu depan sebelah kiri yang lebih dekat kepada saya terbuka. “Ayo, naik! Penumpang yang duduk dibagian depan memanggil kearah saya.

Bagaikan lepas dari beban yang menghimpit, saya segera menuju taksi itu, membuka pintu, naik dan duduk di kursi belakang. Sekaligus menghembuskan nafas lega. Di bandara terbayang Fitri tengah melipat kedua tangannya dan meletakkan di atas lutut, lalu meopangkan kepalanya diatas tangan itu, setetes air jatuh menimpa anak tangga bandara di mana Fitri duduk.

Untuk menuju bandara Soekarno-Hatta, saya biasa melakukan lifting taksi atau tepatnya taksi patungan di jalan Pluit Selatan, jalan yang menuju  bandara. Soalnya banyak diantara taksi itu yang berangkat menuju bandara dalam keadaan kosong. Daripada mereka kosong maka sering mereka menerima penumpang yang naik seperti naik bis kota, yaitu ongkos patungan masing-masing diantara penumpang, biasanya setiap penumpang itu membayar Rp. 10.000,- per orang. Disini terjadi kerjasama saling menguntungkan. Bagi sopir taksi, taksinya tidak kosong, sedang bagi penumpang, mereka membayar cukup murah dibanding bila mereka menumpang taksinya sendirian. Kecuali bila berkeluarga. Tentu saja mereka akan duduk berdampingan dengan para penumpang lain yang tak pernah bertemu sebelumnya, sama-sama asing.

Hal ini pulalah yang saya lakukan untuk menjemput Anazkia dan Fitri ini. Hanya saja karena sudah cukup lama tidak melakukannya, saya sampai lupa dimana saya seharusnya naik taksi tersebut. Yang teringat hanyalah taksi yang menuju bandara, namun lupa dimana mangkalnya. Makanya saya sempat nyasar. Aduh malunya.

Sambil mengobrol dengan dua penumpang yang kemudian saya ketahui mau ke pontianak itu, saya mulai menghitung jarak tempuh, lalu memperkirakan kami akan sampai di bandara dalam 20 menit.

Obrolan kami di taksi itu juga tak sepenuhnya lancar, karena penumpang yang duduk di sebelah kanan saya, rupanya belum begitu fasih berbahasa  Indonesia. Hal itu di katakan sendiri oleh temannya yang duduk di depan di samping sopir.

Begitu memasuki area bandara sopir menanyakan saya mau turun dimana, saya lalu mengambil telepon genggam sambil memgharapkan kalau Fitri sempat memberitahu pesawat yang dia tumpangi. Alhamdulillah, apa yang saya harapkan itu rupanya di kabulkan Tuhan. Ada sms masuk dari Fitri, isinya benar-benar singkat, dua kata : Batavia pak.

Kami masuk keterminal B, dua penumpang yang menuju Pontianak itu turun di sana. Setelah keduanya turun, taksi melaju ke terminal C, sekarang giliran saya yang turun. Tapi sebelum keluar dari taksi saya menyodorkan uang Rp. 10.000,- kepada sopir. Walau dia tadi telah menerima pembayan penuh dari penumpang tadi sesuai yang tetera di argometer, tapi saya tak mau jadi penumpang gratis.

Begitu turun dari taksi saya langsung menuju terminal kedatangan dan melihat jadwal dari monitor yang terdapat di beberapa tempat. Pada barisan paling atas terlihat dengan jelas, Batavia dari Padang sudah mendarat!. Duarrrr….!

Saya lalu melihat ke sekeliling saya, tidak begitu banyak penumpang yang terlihat baru keluar dari dari dalam. Saya lalu menuju pintu keluar penumpang dan mendekati pagar pembatas. Beberapa penumpang keluar ruang kedatangan, tapi saya tak melihat Fitri. Dengan perasaan tak karuan saya menunggu beberapa saat, sambil berfikir. Apakah saya akan menunggu di sini atau berkeliling mencari Fitri? Pada saat kritis itu nada sms di telepon saya terdengar. Begitu telepon itu keluar dari kantong, dari display terlihat jelas nama pengirimnya, Fitri!

Pak dian fitri lah d soetta, apak lah dima?

Bahasa sandi yang hanya di ketahui oleh orang Minang! 🙂

Saya tidak mau membalas sms Fitri, terlalu lambat bagi orang tua seperti saya ini untuk mengetiknya, lebih cepat bila saya menelponnya!

“Assalamualaikum…” suara  Fitri terdengar dari seberang sana.

Saya lalu mengatakan, bahwa saya sudah menunggu di pintu keluar ruang kedatangan. Sejenak kemudian hubungan terputus.

Satu sms lagi masuk dari Fitri:

Nunggu brg sbnta pak

Lagi-lagi bahasa sandinya orang Minang. 🙂

Setelah menunggu sekitar 10 menit, diantara para penumpang yang bergerak dari ruang kedatangan, dari jauh saya melihat wajah yang walaupun baru sekali ini bertemu, namun sudah begitu familiar di mata saya. Rupanya Fitri juga telah mengenal saya, dari jauh dia tersenyum dan sayapun membalasnya.

Begitu Fitri sampai di teras penjemput, sebuah ritual ayah dan anak yang berpisah puluhan tahun pun terjadi, saya lalu membisikkan ketelinganya: Indak jadi jadi gelandangan kan Fit?

“Indak pak…” balasnya sambil tersenyum.

 

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.