Seorang Balita di tengah Pergolakan PRRI (8): Senjata Itu Meledak di Samping Kepalaku

Ralat:

Mohon maaf. Ada kesalahan postingan, seharusnya postingan ini yang terbit lebih dulu, bukan yang kemarin dengan sub judul: Umi Hilang

DK

Kehadiranku di dalam tahanan markas tentara di nagari Magek itu sedikit mewarnai keadaan disana. Aku lebih banyak diam, karena suasana disana memang tak terasa nyaman bagiku, juga bahasa para tentara itu yang tak satupun aku mengerti, bila mereka berbicara sesamanya, umi bilang itu bahasa Jawa. Tapi aku juga tak merasa ketakutan, melihat tentara bersileweran dengan memanggul berbagai macam senjata.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di tengah Pergolakan PRRI (8): Senjata Itu Meledak di Samping Kepalaku”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (7): Menikmati Masakan Jawa

Aku terbangun hari sudah siang. Umi tidak ada disampingku, aku lalu duduk sambil melihat ke sekeliling. Aku melihat umi sedang berada di sudut bok yang berfungsi sebagai dapur, melihat aku bangun umi lalu mendekatiku. Umi mengemasi balai-balai tempat tidur kami, melipat kain panjang yang menjadi alas tidurku dan juga selimut. Sambil bekerja umi menanyaiku apakah aku mau mandi, aku mengangguk. Selesai membereskan tempat tidur kami, umi memangku aku keluar dari bok.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (7): Menikmati Masakan Jawa”

Berkelana di Ranah Minang (2): Padang, Antara Was-was dan Kepasrahan

Pukul 12 lewat beberapa menit, penumpang pesawat Lion Air menuju Padang dipersilakan naik pesawat di pintu 14. Para penumpang yang tadinya berkumpul di pintu 12 sesuai dengan yang tertera di tiket, terpaksa harus keluar dari ruang tunggu pintu 12 dan berrebutan menuju pintu 14.

Saya berusaha menahan diri agar tidak ikut-ikutan berebutan keluar dari pintu 12, dan berjalan santai menuju ruang tunggu keberangkatan pintu 14.

Lanjutkan membaca “Berkelana di Ranah Minang (2): Padang, Antara Was-was dan Kepasrahan”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (6): Aku Menginap di Tahanan

 

Kami masuk kedalam bok, setelah umi ditanyai oleh tentara yang berjaga diluar. Sampai di dalam umi, meletakkan aku di salah satu balai-balai bambu. Aku duduk, sementara umi meletakkan barang bawaannya, pakaian ganti, dan dua bungkus nasi yang dibungkus pakai daun pisang yang dibawa dari rumah. Sementara umi pergi berwudhuk kesumur diluar bok, aku memperhatikan keadaan di sekelingku.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (6): Aku Menginap di Tahanan”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (5)

Aku dibawa Umi ke bok

 

Sore, setelah shalat ashar, umi bersiap untuk kembali ke bok. Kakakku satu persatu mulai memperlhatkan ketidak relaannya umi kembali masuk tahanan. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, yang dapat mereka lakukan hanyalah menangis, ada yang sesungukan dan ada pula yang hanya terdiam membisu dengan pandangan mata menerawang, sementara airmatanya mengalir membasahi pipinya yang setiap saat dihapus dengan kain panjang yang dikenakannya . Aku hanya diam dan membisu, memperhatikan umi berbenah. Umi juga kulihat tak kuat menahan kesedihannya untuk berpisah lagi dengan anak-anaknya. Air matanya tergenang, namun di tahan agar tak pecah menjadi tangisan dan memperburuk suasana. Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (5)”