
Membuat reportase kompetisi melukis, adalah pengalaman baru bagi saya, apalagi ini adalah Kompetisi Melukis Internasional yang diadakan oleh Pemda DKI dengan penyelenggara Jakarta Art Award 2012 yang beralamat di North Art Space, Pasar Seni Ancol. Saya yang tidak memahami genre atau aliran lukis melukis ini, dihadapkan pada hasil karya sekitar seratus orang meliputi kategori : kontemporer, modern, post tradisional, tradisional, klasikal. Seperti yang di jelaskan oleh panitia penyelenggara, sungguh membuat saya jadi terpana.
Dari tema yang di usung tahun ini yang berjudul Dunia Ideal, kompetisi lukis yang memasuki yang ke 4 ini, tidak hanya diikuti atau mempertandingkan para pelukis dalam negeri. Panitia telah mengembangkan kompetisi ini menjadi berskala internasional, hasilnya, para pelukis asingpun berdatangan mengirimkan hasil karya mereka. Mereka berdatangan dari Lebanon, Jerman, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Inggris, Korea dan Italia.
Fauzi Bowo, gubernur DKI Jakarta dalam pidato malam pengumuman pemenang kompetisi ini mengharapkan, siapapun nanti yang akan memimpin Jakarta, semoga acara ini tak berhenti hanya sampai disini. Dia mengharapkan agar kegiatan ini berlanjut dan berkembang terus dengan peserta yang lebih banyak dari seluruh penjuru dunia. Dari apa yang disampaikan Fauzi Bowo tersebut, sayapun membayangkan kelak Jakarta akan menjadi kiblat para pelukis dunia, tentu saja dengan penyelenggaraan yang lebih hebat lagi.
Diikuti oleh 1120 orang pelukis yang di dalamnya termasuk 25 orang pelukis dari mancanegara, Jakarta Art Award 2012 berhasil menampilkan lebih dari 3300 lukisan. Ini adalah awal sebuah pesta untuk para pelukis Indonesia dan dunia nantinya.
Lalu siapa yang beruntung kali ini mendapatkan predikat juara dan menggondol uang hadiah senilai Rp. 100.000.000,-? Dia adalah Sapto Sugiyo Utomo, pelukis kelahiran Kendal, Jawa Tengah tahun 1971 dan jebolan IKIP Semarang ini, berhasil mendapatkan nilai tertinggi dari dewan juri yang di ketuai oleh Prof. Srihadi Sudarsono MA. Dengan lukisan berjudul “Keluarga Sakinah” Sapto berhasil menyingkirkan lebih 3300 karya pelukis lainnya, termasuk diantara 100 lukisan yang berhak masuk grand final.
Seperti apa hasil karya Sapto Sugiyo Utomo ini? silakan anda nikmati di foto pertama postingan ini. Stiker berwarna kuning emas bertuliskan Winner dan diatasnya lambang Jakarta Art Award ini telah menunjukkan posisi hasil karya Sapto ini.

Foto kedua disini saya tampilkan hasil karya Mai Erard, pelukis wanita kelahiran Terbes, Perancis, namun kini tinggal dan berkarya di Bali. Pelukis yang belajar melukis secara otodidak dan cukup fasih berbahasa Indonesia ini, memberi judul “Compres Love, Love, Love2” pada lukisannya, berhasil menyabet sebagai satu-satunya hadiah yang bernilai US$ 7000 dari tiga hadiah bernilai sama untuk kategori pelukis asing.

Selanjutnya kita nikmati disini 5 hasil karya anak negeri yang berhasil menyabet 5 hadiah kedua yang bernilai masing-masing Rp. 75.000.000,- untuk setiap pemenang.
1. Banu Arsana, pelukis kelahiran Yogyakarta 17 Maret 1954, jebolan ISI Yogyakarta dengan judul lukisan “Siluet Insan Kamil”


3. S. Dwi Stya (Acong), lahir di Malang, Jawa Timur, 26 Maret 1977. Pendidikan Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta, memberikan judul “Hari Yang Indah” untuk hasil karyanya.

4. Sentot Widodo, Lahir di Yogyakarta, 6 Juni 1966. Pendidikan SMSR Yogyakarta (1982) dan FSRD ISI Yogyakarta (1986). Sentot memberikan judul “Reparasi Nurani” untuk hasil karya lukisannya yang hitam putih ini.

5. Vani Hidayatur Rahman, pelukis termuda yang meraih hadiah juara 2 ini adalah kelahiran Semarang 17 Juni 1981. Vani memberi judul “Unity” atas karyanya yang memperlihatkan para pekerja pembuat kapal kayu.

Disamping hadiah uang tunai, semua pemenang ini juga mendapatkan piagam penghargaan dari panitia Jakarta Art Award 2012.
Suatu hal yang menarik juga dari JAA 2012 ini, adalah adanya pengakuan atas keberadaan para blogger dari pemerintah DKI, yang disampaikan oleh gubernur Fauzi Bowo dalam pidato sambutannya. Hal ini tentu sangat menggembirakan bagi kita para blogger yang selama ini masih dipandang sebelah mata, dibanding media mainstream seperti televisi dan media cetak lainnya. Dan kita para blogger juga tentu tidak akan pernah ragu untuk membantu menyuarakan atau melaporkan hal-hal yang berada di luar jangkauan media mainstream itu. Katrena memang disanalah keunggulan kita para blogger, yang tidak di batasi waktu dan tempat ini, apalagi yang namanya deadline.








Foto-foto lukisan yang saya tampilkan disini diambil dari buku Katalog Pameran Jakarta Art Award 2012.
Foto lainnya adalah milik pribadi.

Wahh..keren nih reportasenya! Terimakasih ya pak Dian sudah menyempatkan datang di JAA 2012
Terima kasih juga bung Amril, sudah mengundang dan memberi kesempatan untuk hadir di sana….
Salam
Wahhh kerenn..Full Photo. Lengkap deh. Calon juara nih pak Dian 🙂
Terima kasih bung Dzulfikar, saya hanya bisa mengaminkan do’a Anda dalam hati…
Salam