Lado tanak dengan campuran daun singkong dan jengkol
Setiap ibu rumah tangga pasti punya resep andalan untuk disajikan ke tengah keluarga, begitu juga keluarga saya. Resep andalan keluarga saya adalah “Lado Tanak”. Bagaimana nikmatnya lado tanak ini, mungkin bisa ditanyakan kepada teman-teman yang sempat menikmatinya sewaktu acara Kompasianival 2012 di Gandaria City, Kebayoran Baru.
Lado tanak yang bahan utamanya adalah daun singkong ini, menjadi andalan keluarga karena bahan bakunya mudah dicari dan harganya relatif murah. Begitu juga Lado Tanak ini juga bisa diberi bermacam variasi campurannya. Misalnya Jengkol, Kentang, Singkong, Petai, Ikan Teri dan banyak lagi, tergantung kreatifitas dan ketersediaan bahan yang ada.
Memasak Lado Tanak juga tidaklah terlalu ruwet. Sebagaimana masakan yang berasal dari daerah Minang pada umumnya, Lado Tanak dimasak dengan memakai santan atau digulai. Kelapanya juga harus lebih banyak dari biasanya agar santannya kental. Bumbu pelengkapnya adalah daun salam, daun kunyit, serai dan tentu saja garam, tanpa ditambahi bumbu masak apapun seperti MSG atau mecin. Bila ditambahi mecin, maka rasa khas Lado Tanak ini akan hilang. Jadi semua bumbu yang dipakai adalah bumbu alami, bukan bumbu yang dibuat oleh pabrik.
Lado Tanak dengan kombinasi daun singkong dan petai
Sebagaimana namanya Lado Tanak, maka “lado” alias cabe adalah bumbu yang paling dominan, karena pedasnya cabe inilah yang membuat Lado Tanak ini begitu nikmat saat disantap, membuat keringat bercucuran karena lahapnya makan. Tapi tingkat kepedasan ini sebenarnya juga bisa disesuaikan dengan lidah keluarga. Bila keluarga memang senang masakan pedas, silakan cabenya dilebihkan dari biasanya. Begitu juga sebaliknya, bila keluarga kurang suka dengan yang pedas, bisa saja cabenya dikurangi. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah, bila cabenya pas-pasan atau hanya sedikit, karena keluarga tidak suka masakan pedas, maka ciri khas Lado Tanak ini akan kehilangan ciri khasnya. Karena apa yang dimasak itu tak ubahnya dengan masakan gulai daun singkong biasa.
Satu hal lagi kelebihan Lado Tanak ini adalah tahan lama, bisa berhari-hari. Yang penting harus rajin memanaskannya setiap hari. Pagi hari saat memulai kegiatan di dapur dan malam hari saat menjelang tidur, atau setelah selesai makan malam. Kelebihan lain dari lado tanak ini adalah, karena sering dipanasi, maka lama kelamaan kuahnya akan kering dan bila dipanasi terus, maka Lado Tanak ini akan seperti rendang Padang yang terkenal itu. Bukan hanya bentuknya yang hitam seperti rendang, tapi juga rasanya.
Ada yang doyan?

Pengin nyicipin tapi boleh request tanpa jengki nggak ya, Ayah? Hihihi
Waktu di Jakarta saya suka beli balado lele Mas.
Pokoknya masakan Padang kesukaan saya.Apalagi di Jombang juga sudah banyak.
Sambal ijo atau merah sikat bae.
Salam hangat dari Jombang
Hahahaha…. sayang ini foto lama Wiwiek. Saat ini belum masak Lado Tanak lagi. Maaf…
Terimakasih masih betah mampir.
Salam
Sayangnya Lado Tanak ini masih jarang ditemukan pak De, karena masih sebagai konsumsi rumahan.
Terimakasih telah singgah pak De
Salam kembali dari Jakarta
Haduh asli ngiler deh liat fotonya ini. Aku pernah makan daun singkong yang dimasak dengan santan, enak agak pedas dikit, entah sama nggak ya dengan Lado Tanak ini.
Aku suka banget sama daun singkong dan pas liat postingan ini jadi kepengen makan lado tanak, apalagi yang dicampur jengkol. Duuuhh…duhhh ngiler.
Bisa jadi kemungkinan sama Lianny, untuk memastikannya lihat saja campurannya, kental kuahnya dan pedesnya.
Terimakasih telah berkunjung Lianny
Salam
Hahaha… sayang ini foto sudah lama, sewaktu kami masih di Tomang. Sekarang sudah pindah ke Ciledug, pernah masak Lado Tanak, cuma lupa motretnya.
Terimakasih telah berkunjung Dewi.
Salam