Merantau ke Pekan Baru (18)

Hari menjelang sore. Aku duduk di palanta di teras rumah tuan Maie, menunggu dengan tidak sabar kedatangan tuan Salim. Aku tidak tahu, sudah berapa kali aku bolak-balik keluar masuk rumah tuan Maie, melihat ke dua ujung jalan, sambil berharap tuan Salim memperlihatkan dirinya di salah satu ujung jalan itu.

Sebuah oplet berhenti di depan rumah tuan Maie, sekilas aku melihat seorang wanita turun. Dengan rasa kesal dan kecewa aku kembali masuk rumah, karena yang kuharapkan turun dari oplet itu adalah tuan Salim. Aku merebahkan badanku telungkup di balai-balai. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan tuan Salim dan kakak-kakakku yang lain.

“Assalaamu’alaikum…! Aku mendengar suara orang mengucapkan salam, aku hanya diam, karena yang terdengar bukan suara tuan Salim. Aku mendengar suara langkah kaki kak Suma keluar dari kamar dan berjalan ke pintu.

“Alaikumsalam…!

“Ee…. Kamu Ipah, masuklah…! Mendengar kak Suma menyebut nama Ipah, hatiku berdegup kencang, benarkah itu anduang Ipah kakakku?

Aku tak menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya. Kepalaku terasa ada yang mengusap, aku segera melihat siapa yang menyentuhnya. Dan benar, di hadapanku telah berdiri kakakku anduang Ipah…! Sambil tersenyum padaku. Aku lalu duduk, dia lalu memeluk pundakku. Aku tak tahu bagaimana mengungkapkan bahagia hatiku saat itu, yang ku lakukan hanya tersenyum dan tertunduk malu.

Anduang Ipah menceritakan bahwa dia tadi bertemu dengan famili yang membawa aku ke Pekanbaru dan mengatakan bahwa aku berada di rumah tuan Maie. Sepulangnya dari tempat pekerjaannya anduang Ipah langsung menuju ke Tanah Merah, rumah tuan Maie, dimana saat itu aku berada.

Setelah kakakku mengobrol beberapa saat dengan kak Suma, kami lalu pamit, aku dan anduang Ipah meninggalkan rumah tuan Maie. Karena menunggu oplet cukup lama, kami memutuskan berjalan kaki menuju Pasar Bawah, tempat anduang Ipah dan anduang Pidan tinggal.

Matahari sore menjelang magrib sudah tidak lagi terasa panas. Begitu juga jalanan aspal yang kami lewati, hanya terasa hangat di telapak kakiku. Dengan sebelah tangan di bimbing oleh kakakku, kami melewati jalan raya kota Pekanbaru, kadang masuk jalanan kecil yang hanya bisa dilewati oleh sepeda dan pejalan kaki.

Seringnya kami masuk jalan besar yang beraspal maupun jalan kecil yang hanya beralaskan tanah, pikiran kanak-kanakku kadang membayangkan, bagaimana kalau kami tersesat?

Dari jalan besar kami memasuki jalan kecil. Dari bekas jejak di jalan yang kami lewati, aku membayangkan, bila hujan turun jalan ini pasti becek dan tanahnya akan menjelma jadi lumpur. Suara beduk magrib terdengar dari masjid tak jauh dari jalan yang kami lewati.

Kami masuk pekarangan dan berhenti di depan sebuah rumah. Rumahnya rumah panggung, anduang Ipah naik kerumah tersebut, aku disuruh menunggu. Tak lama dia muncul dengan tangan menenteng ember berisi air, lalu turun tangga menuju ketempat aku berdiri. Aku disuruh naik keatas batu di ujung tangga, dengan air yang dibawanya kakiku di cuci, setelah bersih kami naik kerumah itu.

Sementara anduang Ipah mengantarkan embernya ke belakang, aku menunggu sambil duduk diatas kursi di beranda. Dari beranda tempat aku duduk, aku memperhatikan sekelilingku. Rumahnya rumah kayu, walaupun kelihatannya sudah agak tua, tapi masih terawat dengan baik. Disekeliling beranda sebelah kiri dan depan di beri dinding kayu setinggi paha orang dewasa, kecuali dekat tangga. Di sebelah kanan terdapat sebuah kamar. Dilangit-langit tengah beranda tergantung sebuah lampu listrik, dan di tengah beranda terdapat sebuah meja yang di kelilingi beberapa buah kursi.

Aku terkejut ketika lampu di beranda itu tiba-tiba menyala dan ruangan yang tadinya temaram berubah menjadi terang. Menyusul kemudian anduang Ipah muncul dari ruang dalam rumah dengan muka dan tangan yang basah, rupanya dia selesai ber wudhuk. Dia lalu mengeluarkan kunci dari dompetnya dan membuka kamar yang terdapat di beranda.

Setelah pintu kamar terbuka dia menyalakan lampu, dan kamar itupun seketika menjadi terang. Aku di panggil dan kami lalu masuk ke kamar. Anduang Ipah segera mengambil sajadah dan mengenakan perlengkapan shalatnya, dia lalu shalat magrib.

Sambil bersandar di dinding aku melihat isi kamar tempat kami berada. Kamar itu besarnya kira-kira sebesar rumah saruang rumah gadang kami di kampung. Di bagian depan dan samping terdapat jendela. Aku tak melihat kasur di ruangan itu selain tikar yang aku duduki yang luasnya tak cukup untuk menutupi lantai papan rumah panggung itu.

Selagi aku asyik melihat isi kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dari luar masuklah kakakku yang satunya, anduang Pidan. Melihat aku berada di dalam kamar dia lalu berteriak kegirangan: “ hei, lah tibo ang Mi? tapi begitu dia melihat anduang Ipah lagi shalat, dia lalu memelankan suaranya sambil bergegas mendekatiku. Tangannya membelai kepalaku, sementara aku hanya menjawab pendek pertanyaannya: “iyo…!”

Anduang Ipah selesai shalat, anduang Pidanpun segera pergi ke belakang. Anduang Ipah membongkar kain bungkusanku yang berisi pakaian, dan hanya itulah yang berada di sana, beberapa lembar baju dan celana dan selembar kain sarung. Ketika dia tengah merapikannya anduang Pidan kembali dari belakang, rupanya dia juga berwudhuk untuk shalat magrib.

Setelah anduang Pidan selesai shalat, kami lalu duduk ditengah kamar, bertiga saling berhadapan. Anduang Pidan lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ketika telah terletak di tengah kami bertiga, barulah aku tahu itu adalah sebungkus nasi. Kamipun lalu makan, menikmati nasi sebungkus tersebut bertiga bersaudara….

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.