Dari dalam bus aku melihat timbunan pisang yang masih lengkap dengan tandannya, menumpuk di depan beberapa kios. Begitu juga karung beras yang sering disebut goni, bersusun rapi di depan kios lainnya.
Kami melewati stasiun kereta api dengan rel ganda, tempat persilangan kereta api yang datang dari Bukittinggi dan yang datang dari Payakumbuh. Saat itu aku tak melihat ada kereta api disana, stasiun itu kosong. Aku belum tahu, seperti apakah kereta api yang di katakan pak Sopir itu?
Bus melaju meninggalkan Baso, kami melewati turunan, di kiri kanan jalan rumah penduduk mulai sepi. Pandakian Dama, demikian pak sopir menyebut jalan yang kami lewati ini. Turunannya tidak terlalu curam, tapi panjang dan berliku. Batu-batu besar berserakan di kiri kanan jalan, seperti bekas longsoran dari gunung Merapi yang terlihat sayup di sebelah kanan kami.
Mendekati akhir turunan, barulah rumah penduduk kelihatan mulai agak banyak lagi, dan pak sopir menyebut perkampungan tesebut Ujuang Guguak. Begitu jalan menurun ini habis, bus kami memasuki jalan datar yang sangat lurus, membelah dua hamparan persawahan yang sangat luas di kiri kanan jalan. Sawah yang sangat luas dan berkotak-kotak tersebut hijau merata. Kalau di kampungku, umur padi yang sedang kulihat itu adalah saatnya musim basiang, yaitu menyiangi padi yang telah berusia sekitar satu setengah hingga dua bulan dari tumbuhan atau rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar padi, sehingga tidak berebut makanan dengan padi yang tumbuh subur.
Panjangnya jalan lurus yang kami tempuh itu, membuat seakan bus yang kami tumpangi berjalan lambat. Namun kami mendapatkan hiburan, yaitu klakson bus yang jumlah banyak, dan dapat menyanyikan lagu-lagu yang populer saat itu, atau lagu-lagu daerah yang biasa dinyanyikan dengan diiringi dengan alat musik tradisional saluang. Dan pemetik klakson bus Sinar Riau yang kami tumpangi ini nampaknya benar-benar sudah ahli memainkan alatnya, sehingga bila selesai memainkan satu lagu, para penumpangpun bersahutan meneriakan tambuah.
Dengan iringan musik klakson itu, perjalanan panjang melintasi persawahan dengan pemandangan indah itu membuat suasana terasa begitu menyenangkan, tak terasa kami telah sampai di ujung jalan lurus itu dan kembali lagi memasuki area perkampungan, nagari Padang Tarok.
Begitu memasuki perkampungan bus mengurangi kecepatannya, karena jalan mulai menurun dan menikung. Di tikungan sebelah kiri jalan aku melihat sungai mengalir sejajar dengan jalan yang kami lalui. Begitu Padang Tarok kami lewati, bus memasuki jalan yang mulai menyempit. Di sebelah kanan kami, bukit dengan tebing yang curam, sebelah kiri aliran sungai Batang Agam, yang seakan memotong dua gugusan bukit barisan yang kami lewati.
Di ujung jalan yang semakin sempit, kami melewati jembatan peninggalan penjajah Belanda. Kini sungai yang mengalir di lembah yang curam berada di sebelah kanan kami dan di kiri kami dinding bukit barisan yang begitu terjal, yang seakan mau runtuh menimpa bus yang kami tumpangi.
Bersambung
