Merantau ke Pekan Baru (2)

Ketika semua penumpang telah naik, bus pun pelan-pelan berangkat meninggalkan loket dan terminal Pasa Banto. Aku melihat para pengantar melambaikan tangannya, begitu juga kakakku. Aku tak tahu apa arti lambaian tangan itu, makanya aku hanya diam saja sambil sekilas melihat kakakku dan kemudian mengalihkan pandangan ke arah pengantar lainnya. Aku melihat ada diantara mereka yang menangis, dan aku pun tak tahu apa arti tangisan itu.

Keluar dari loket, bus Sinar Riau yang kami tumpangi berbelok ke kanan. Seratus meter didepannya, persis di ujung tangga janjang empat puluh yang terdapat di kanan jalan yang ujung tangga teratasnya ada di pasar atas Bukittinggi, terdapat simpang tiga. Bus belok kekiri, dan berawal dari simpang tiga terminal Pasa Banto ini, mulailah perjalanan panjang kami menempuh jalan sejauh 221 kilometer, jarak antara kota Bukittinggi di propinsi Sumatera Barat dan kota Pekanbaru di propinsi Riau.

Bus sarat penumpang dan barang yang menggunung di atas atapnya ini berjalan tenang di jalan raya yang lebar dan beraspal mulus. Berbeda dengan jalan di kampung kami, yang becek dan berlumpur di waktu hujan dan berdebu di musim panas.

Di sebelah kiri jalan, dari jauh kelihatan bukit barisan, seakan memagari kota Bukittinggi. Di salah satu sudut diantara beberapa puncak bukit barisan itu, kelihatan satu titik putih. Itulah Batu Bajak, sebuah penanda bahwa di sanalah kampungku, Kamang Ilia.

Sementara di sebelah kanan jalan, rel kereta api membentang lurus sejajar dengan jalan raya yang kami lewati, dan di kejauhan Gunung Merapi berdiri anggun dengan asap yang mengepul di puncaknya, seakan sedang menjaga nagari kami. Di sampingnya menemani gunung Singgalang, dengan puncaknya yang tertutup disapu awan.

Duduk di samping pak sopir, dengan penglihatan yang lepas ke pemandangan yang berada di depan kami, membuat aku benar-benar dapat menikmati keindahan alam dari nagari maupun kota yang kami lewati. Pak sopir itupun seakan menjadi pemandu yang hebat di mataku, setiap tempat yang kami lewati di sebutkannya namanya, sambil kadang-kadang dia mengelus kepalaku. Dan dalam diamku, aku merekam semua yang dapat aku rekam.

Lepas dari keramaian kota Bulkittinggi, kami sampai di Tanjung Alam. Di kiri kanan jalan, sawah membentang sesayup mata memandang. Tanjung alam kami lewati, Biaro ada didepan mata. Sepinya jalan raya di awal tahun enampuluhan, membuat bus kami bisa melaju kencang, hingga Biaro pun terlewati tanpa terasa. Suasana perkampunganpun menyambut kami, menggantikan hamparan sawah yang baru saja kami lewati.

Lepas dari Biaro perjalanan sedikit menurun hingga kami melewati jembatan Kapalo Ilalang, dan lalu mendaki lagi menyongsong Baso.

Baso kota kecamatan dengan pasar yang spesifik, yaitu pusat pengumpulan hasil pertanian. Dimana berkumpul para pedagang yang akan membawa hasil pertanian penduduk ini ke Pekanbaru, kota yang sedang berkembang pesat. Kota impian banyak orang, yang diperut buminya mengandung emas hitam, namun di permukaannya tak cukup subur untuk ladang pertanian tanaman pangan, dimana saat ini aku juga sedang menuju kesana.

Bersambung

Join the Conversation

2 Comments

  1. ISayang terputus … karena  perjalanan  selnjutnya ke  Pakan Baru dlah  wilayah yang belum  sempat q kelanai … Terima kasih Brur …!

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.