Nostalgia Bersama Penggembala Sapi

Masjid itu terletak persis di sudut jalan. berlantai dua, serta kubah yang bertengger di lantai tiga. Posisi mihrabnya sejajar dengan jalan yang membentang dari arah barat laut ke tenggara. Sisi kanan masjid langsung berhadapan dengan tebing, yang tingginya sejajar dengan langit-langit lantai dua. Bagian kiri dan belakang masjid adalah jalan yang berfungsi ganda sebagai halaman masjid. Sedang dibagian depan masjid, terdapat bangunan lain berbentuk rumah, dipakai khusus buat belajar mengaji dan kegiatan lainnya, sebagai ruang serba guna atau acara peringatan keagamaan, seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, maupun perayaan Khatam Al-Qur’an. Kalau malam berfungsi sebagai tempat tidur anak laki-laki remaja hingga menjelang dewasa dan belum berumah tangga. Bangunan ini disebut sebagai surau kampuang.

Disisi kiri atau selatan maupun belakang atau timur jalan, terdapat tebing sedalam hampir empat meter, yang dibawahnya di masing-masing sisi terdapat tabek, atau kolam ikan milik penduduk.

Persis disudut tikungan, terdapat jalan kecil menurun yang menikung kekanan beberapa derajat diantara dua tabek dan kemudian lurus kearah selatan dan berujung di Karan, rumah keluarga ayahku, sekitar tiga ratus meter dari masjid.

Aku sedang bermain di jalan yang juga merupakan halaman masjid yang diberi nama Sofia itu. Ketika seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dariku dan kupanggil tuan Man, lewat sambil menuntun sapi yang akan digembalakannya di sawah yang telah selesai di panen.

Ditangan kirinya dia memegang tali pengikat sapi, dan di tangan kanannya memegang sabit, yang biasa dipakai untuk memotong rumput untuk makanan sapinya.

Aku diajak untuk ikut dengannya. Karena aku juga tak punya teman bermain saat itu, aku mengikuti saja ajakannya. Kami mengiringi bantiang alias sapi yang berjalan di satu-satunya jalan raya yang ada di jorong Guguak Rang Pisang itu.

Dari halaman masjid jalan mulai sedikit menurun, dan setelah itu mendatar lagi, melewati beberapa rumah warga di kiri maupun kanan jalan. Adakalanya kami berhenti sejenak, karena sapi yang dituntun tuan Man menemukan rumput segar yang tumbuh di jalan tak beraspal itu.

Sekitar seratus meter menjelang Banda Rusuang, yang menjadi pintu gerbang Jorong atau desa Guguak Rang Pisang. Jalan menurun lebih curam, dari ketinggian sekitar empat meter. Melewati jembatan Banda Rusuang jalan kembali mendatar, dan lalu menurun lebih landai begitu memasuki areal persawahan yang lebarnya sekitar setengah kilometer, namun panjangnya berliku-liku melewati perbatasan dua nagari Kamang Ilia dan Salo, dan dua kecamatan, Tilatang Kamang dan Baso.

Memasuki areal persawahan, yang sebagian diantaranya sudah panen, dan sebagian lain lagi menunggu padi masak, kami berjalan lebih lambat. Karena dikiri-kanan jalan banyak tumbuh rumput segar yang menjadi santapan sapi tuan Man, dan kami membiarkan sapi itu menikmati hidangannya. Sementara itu kami terus mengobrol sambil berjalan atau sesekali duduk berjongkok dipinggir jalan.

Saat itu boleh dikatakan kami yang dituntun oleh sapi, kapan berjalan atau berhentinya. Bila sapinya mendapatkan rumput segar, dia akan berhenti dan memakan rumputnya, dan kamipun ikut berhenti. Begitu juga bila rumput-rumput itu telah rata dengan tanah, hanya tinggal akarnya, sang sapipun akan berjalan santai mencari rumput berikutnya, tanpa perlu mengomando kami. Kamipun tinggal mengekor dibelakangnya. Panjang jalan dari Banda Rusuang ke jembatan yang sekitar setengah kilometer itu, yang bila aku berjalan normal hanya akan memakan waktu sepuluh menit atau paling lama lima belas menit, saat itu menjadi hampir satu jam.

Akhirnya kami sampai juga di jembatan. Tuan Man mengikatkan tali sapi ke rumpun padi di tengah sawah yang telah dipanen, aku langsung mencari tempat dan duduk beristirahat di jembatan yang beratap seng tersebut. Tuan Man kemudian menyusul, setelah selesai menambatkan sapinya.

Kami berteduh sambil mengobrol di jembatan. Angin bertiup menyegarkan tubuh kami yang sejak tadi kepanasan serta berkeringat disengat cahaya matahari. Air sungai yang dikampungku bernama agam itu, mengalir dengan tenang. Kami sering mendengar kecepak air sungai yang disebabkan ikan yang muncul kepermukaan dan kemudian menyelam lagi secara cepat. Jembatan yang terletak jauh dari perkampungan itu terasa sepi. Bunyi daun pisang yang tumbuh di pinggir sungai terdengar mengepak berkibar ditiup angin kencang yang lewat, disertai desiran daun ambacang dan durian yang tumbuh di pendakian di seberang sungai.

Sambil mengobrol dan bersandar di pagar jembatan, mataku memperhatikan lingkungan disekitar kami.

Diujung jembatan jalan bersimpang dua. Kekiri, jalan menikung kearah selatan mengikuti tanggul dan aliran sungai di sebelah kiri dan sawah disebelah kanan. Jalan ini berujung di desa Koto Kaciak. Sebuah masjid kecil disebelah kanan jalan, menjadi pertanda kita telah memasuki desa tempat kelahiran kakekku dari pihak ayah.

Tikungan kekanan membawa kita mendaki tanjakan yang lebih curam daripada pendakian di Banda Rusuang, di puncak pendakian ini kita memasuki desa Tarok, tempat yang selalu aku lewati bila pulang ke Ladang Darek.

Didepanku, melewati hamparan sawah dan perkampungan , pandangan mataku berhenti pada sebuah bukit, yang berdiri persis paling depan di gugusan Bukit Barisan yang melintasi Guguak Rang Pisang. Bukit itu telah botak. Tumbuhan liar maupun kayu-kayu yang biasa tumbuh di hutan, telah berganti dengan tanaman tembakau. Untuk membuka lahan perkebunan tembakau itu, bukit itu dibakar. Maka penduduk setempatpun kemudian menamai bukit itu Bukik Baka, bukit yang terbakar.

Bersambung

.

Tulisan sebelumnya:

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.