Tragedi Sepatu Baru

 

Tulisan sebelumnya : Merantau ke Pekanbaru (31 Tamat)

Setibanya aku dan Tuan Maia di kampung, aku terpaksa menginap di rumah keluarga istrinya, di Pintu Koto, perhentian terakhir oplet yang menambang dari Kamang Ilia ke Bukittinggi. Karena kami sampai di Pintu Koto hari sudah tengah malam. Dari perhentian oplet ke rumahnya kami berjalan kaki hanya beberapa menit.

Besoknya setelah makan pagi, kami pulang ke Ladang Darek, berjalan kaki hampir tiga kilometer. Sewaktu mau berangkat, aku di beri sepasang sepatu baru dan langsung di suruh pakai. Seingatku, inilah baru pertama kali aku memakai sepatu. Rasa senang dan juga canggung bercampur menjadi satu. Selama ini aku kemana-mana selalu berkaki ayam, alias tanpa alas kaki walau hanya sekadar tarompa Japang atau sandal jepit.

Kutimang-timang sepatu itu dengan perasaan senang yang tak dapat kulukiskan, tanpa kusadari aku sering tersenyum simpul sendiri, hadiah yang sangat tak terduga. Aku tidak tahu siapa yang membelikan sepatu ini, tuan Maia atau mungkin kakakku? Entahlah, siapapun itu yang membelikannya, nyatanya sekarang sepatu itu telah berada di hadapanku.

Kucoba mengukur sepatu itu dari luar, dengan menyandingkannya dengan kakiku, nampaknya pas. Lalu dengan hati-hati takut sepatunya rusak, kucoba menyarungkannya di kakiku. Benar, sepatu itu pas sekali di kakiku.

Dengan perasaan bangga yang bercampur dengan salah tingkah, aku dan tuan Maia berjalan pulang ke Ladang Darek. Setiap kami bertemu atau berpapasan dengan orang kampung, aku merasakan seakan mereka melihat kearah sepatu baruku, bila kebetulan ada yang memang memuji sepatuku, perasaankupun berbunga-bunga dan rasanya akupun tak lagi menginjak bumi.

Perjalanan dari Pintu Koto ke persimpangan Kubang Putiah yang lurus, dengan jalannya yang mulus dan rata walau tanpa aspal dan hanya beralaskan pasir halus, kami tempuh dengan beberapa kali berhenti. Itu karena tuan Maia sering bertemu dengan orang kampung maupun famili jauh, yang mengajaknya mengobrol sekitar kepulangannya dari rantau di Pekanbaru dan menanyakan sekitar keadaan keluarga, istri dan anak-anaknya, dan diantaranya juga ada yang menanyakan tentang aku.

Menempuh separo jalan ini aku masih bisa berjalan dengan suasana hati yang gembira dan melangkah dengan tegap memamerkan sepatu baruku, bagai tentara sedang berbaris.

Namun separo jalan lagi menjelang simpang Kubang Putih, jalanku berangsur tidak normal. Ada rasa perih di kedua kakiku. Terutama pada bagian tumit bagian atas, dan pada jari kaki bagian atas juga. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan kakiku, sehingga membuat langkahku tak lagi tegap, tapi sudah mulai seperti di seret sambil menahan sakit.

Sampai di simpang empat Kubang Putih, kami belok ke kanan masuk dusun Panji, jalan tanah yang kami lewati tidak sebaik jalan sebelumnya. Jalannya becek dan berlumpur dimusim hujan, bila musim panas tiba jalannya tidak rata, berlubang maupun gundukan tanah bekas gilasan ban mobil yang membawa perabot rumah tangga produksi orang kampungku ke Bukittinggi.

Melewati jalan yang tidak rata itu kakiku semakin sakit, tiba-tiba: “Gedebuk!”, kakiku tersandung, aku terjatuh tertelungkup, telapak tanganku terasa sakit karena bertumpu ke jalan menahan tubuhku, lututku baret. Tuan Maia segera membangunkan aku dan berdiri lagi. Setelah tangan dan lututku di bersihkan, kami berjalan lagi. Kini penyakitku bertambah dengan luka baret di lututku.

Belum sepuluh langkah kami berjalan aku sudah tersandung lagi, namun aku tidak sampai jatuh, karena tanganku cepat ditangkap oleh tuan Maia. Sejak itu aku berjalan sambil sebelah tanganku di bimbing oleh tuan Maia. Namun nampaknya itu tak cukup, tumit kakiku semakin perih karena telah melepuh, aku berjalan tak lagi melangkah, tapi diseret. Membuat aku semakin sering tersandung.

Melihat keadaan itu, tuan Maia lalu menyuruh aku membuka sepatu. Benar juga, kedua tumit belakangku telah melepuh dan kulit luarnya terkelupas dan memerah. Begitu juga punggung jari kakiku, juga ikut melepuh, semuanya menimbulkan rasa perih dan sakit.

Tuan Maia menyuruh aku tidak usah memakai sepatu itu lagi, aku disuruh menjinjingnya di tanganku. Kini kakiku bernafas lega, kembali ke habitat aslinya, bebas melangkah kemana saja. Tapi sakit melepuh karena jepitan sepatu itu tetap membuat aku melangkah tak sempurna.

Untuk mengatasi rasa malu, karena setiap berpapasan dan bertegur sapa dengan tuan Maia orang pasti juga menanyakan siapa aku, yang berakhir pada seruan rasa kasihan dan usapan di kepalaku, karena aku yatim piatu. Maka aku berjalan cepat-cepat mendahului tuan Maia, sehingga jarakku dengannya cukup jauh, sambil tetap menundukkan kepala, agar orang tak menyapa aku.

Dengan sepatu dalam jinjingan, hilang sudah kebanggan punya sepatu baru. Yang terasa malah sebaliknya rasa malu. Ketahuan kakiku tak pernah disinggahi sepatu.

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.