Idul Fitri 1975

Azan subuh berkumandang. Membangunkan kami yang tidur di kubah besar yang berada di puncak Masjid Raya Muhammadiyah yang terletak di jalan Bundo Kanduang, persis di tengah kota Padang itu.

Aku buru-buru bangun, membenahi pakaian dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Setelah itu keluar dari kubah lalu bergegas turun melewati anak tangga kayu yang menghubungkan lantai dua dan lantai tiga, dimana kubah itu berada. Sampai di lantai dua aku belok kiri masuk ruangan yang siang harinya sebagai tempat para mahasiswa Universitas Muhammadiyah belajar dan sorenya sebagai tempat mengaji murid-murid TPA. Aku belok kanan menuju tangga pintu utama yang ditutup dengan pagar besi, lalu menggeser pagar secukupnya agar bisa keluar menuju tangga utama menuju halaman masjid yang berhadapan langsung dengan jalan Bundo Kanduang. Sampai di halaman aku belok kiri, lima meter berikutnya belok kiri lagi melewati samping masjid yang bersisian dengan bagian belakang deretan toko mas yang berjejer di jalan Muhammad Yamin. Aku masuk salah satu kamar mandi yang berada di sudut masjid, lalu bergegas mandi agar tidak ketinggalan shalat subuh berjamaah.

Selesai shalat subuh dan berdoa, aku bergegas keluar dari masjid, lalu setengah berlari menuju beberapa bus yang berjejer di jalan Muhammad Yamin yang di seberangnya terdapat terminal oplet Pasar Goan Hoat.

Aku menaiki bus ANS, bus pertama yang pagi itu berangkat menuju Bukittinggi. Saat menduduki bangku bus yang masih kosong dengan nafas yang tersengal karena habis berjalan cepat, dari masjid Muhammadiyah dan juga masjid Kampung Jawa serta masjid Belakang Tangsi, suara takbir terdengar bersahutan. Sambil bergumam mengiringi takbir menyambut datangnya Idul Fitri itu, dalam hati aku berdoa agar bus segera berangkat, dan berharap pula bisa mengikuti shalat Idul Fitri di kampungku Kamang, 12 km dari kota Bukittinggi atau 109 km dari kota Padang.

Doaku rupanya dikabulkan Allah, karena tak lama kemudian bus mulai berjalan. Menyusuri jalan Muhammad Yamin di mana saat itu terdapat kantor mingguan Singgalang yang kemudian menjadi surat kabar harian, tak lama kemudian bus belok kanan menuju jalan Pemuda, melewati terminal bus Lintas Andalas yang pagi itu masih terlihat sepi. Lepas jalan Pemuda bus memasuki jalan Damar di mana terdapat harian Haluan, tempat aku pernah magang selama 4 tahun. Awal aku mengenal dan hidup di lingkungan persurat kabaran, wartawan atau media massa dengan segala lika-likunya.

Lepas dari jalan Damar dengan segala kenangan yang melekat di hati, bus kami melaju memasuki jalan Veteran, Purus Atas, Lolong, Ulak Karang, Air Tawar, dan Tabing. Selanjutnya meninggalkan kota Padang dan memasuki Kabupaen Padang Pariaman. Menyambut datangnya matahari pagi 1 Syawal bus berjalan diiringi takbir yang sambung menyambung di sepanjang jalan yang kami lewati.

Melewati jalan yang kami lalui, dengan bibir yang senantiasa mengikuti alunan takbir, namun dalam hati ada kecamuk yang mengharu biru dan dada terasa sesak. Bayangan kedua orang tua yang telah tiada, serta saudara yang berserakan dengan nasibnya masing-masing yang aku tidak tahu entah dimana beradanya, membuat aku saat itu terasa asing, bagai layang-layang putus yang tidak tahu dimana akan tersangkutnya.

Setelah melewati jalanan yang cukup datar sejak dari Padang, lepas dari Kayu Tanam, bus yang aku tumpangi mulai memasuki kawasan Lembah Anai. Di sebelah kiri kami terdapat tebing yang tinggi dan sebelah kanan kami jurang yang dalam namun semakin dangkal begitu mendekati lokasi air mancur, di dasarnya terdapat sungai mengalirkan air yang berasal dari air mancur Batang Anai. Lebatnya hutan bukit barisan di sekeliling Lembah Anai serta embun pagi yang menyusup masuk ke dalam bus, membuat hawa di dalam bus lebih dingin dari sebelumnya, apalagi pas melewati air mancur yang berada disebelah kiri jalan yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari badan jalan, percikan air yang terjun bebas dari ketinggian Bukit Barisan itu menguap dan ikut menyusup ke dalam bus yang membawa aku. Dingin, membuat aku semakin bersedekap sambil memeluk kantong plastik berisi pakaian yang akan aku kenakan selama di kampung.

Begitu bus melewati Air Mancur Batang Anai yang mengucurkan air dari bukit setinggi sekitar 35 meter, bus melewati kolong jembatan kereta api yang membentang di atas Lembah Anai. Jalur kereta api peninggalan Belanda yang menghubungkan kota Padang dan Padang Panjang, lalu ke Timur melewati Bukittinggi dan berakhir di Payakumbuh, atau dari Padang Panjang ke Selatan meleintas di sepanjang Danau Singkarak lalu melewati kota Solok dan berakhir di Sawah Lunto, dimana terdapat tambang batubara Ombilin.

Bus mulai melambat, disamping karena jalannya berliku banyak tikungan mengikuti alur Bukit Barisan, juga karena jalannya bergelombang menurun dan mendaki yang berujung pada sebuah tikungan tajam ke kanan membentuk huruf U. Bus memasuki pendakian yang paling terjal di kawasan Lembah Anai, terkenal dengan nama pendakian Silaiang. Pendakian terjal serta sempit yang panjangnya sekitar 200 meter dengan kemiringan bervarisi 30-40 derajat. Di kiri kami tebing tegak lurus cukup tinggi yang seandainya longsor, pasti akan menimbun bus dan segenap penumpang yang ada di dalamnya, sementara di sebelah kanan jurang dalam menganga seakan menunggu mangsa dan siap menelan apa saja dan siapa saja yang tergelincir ke sana. Keadaan sekitar yang masih samar-samar membuat jantung berdebar lebih cepat dari sebelumnya saat mata memandang ke kedalaman jurang yang masih diselimuti kabut dan embun pagi. Saat berpapasan dengan truk dengan gardan ganda, kecepatan bus semakin melambat lagi, karena saat bersisian, jarak kedua kendaraan itu hanya sekitar sejengkal. Semua kendaraan yang melewati pendakian itu maksimal hanya bisa melaju pada kecepatan 15 sampai 20 km/jam, baik kendaraan yang menurun apalagi yang mendaki, kecuali kendaraan kecil seperti sedan atau jeep, itu juga kalau tidak ada kendaraan lain yang searah atau berlawanan arah

Setelah melewati Lembah Anai yang berselimut embun pagi serta pendakian Silaiang yang membuat sport jantung, matahari menyambut kami dari balik pepohonan Bukit Barisan saat memasuki Silaiang Atas. Satu persatu kami mulai melewati rumah penduduk yang tidak jauh dari pinggir jalan, memasuki
perkampungan yang menandakan bahwa kami telah memasuki kota Padang Panjang. Jalanan yang tadinya sepi mulai berangsur ramai. Warga di sekitar jalan yang dilewati bus satu persatu mulai keluar rumah dengan pakaian terbaik mereka. Menuju masjid atau lapangan tempat diadakannya shalat Idul Fitri.

Semakin dekat bus ke tengah kota Padang Panjang, semakin ramai warga yang keluar rumah. Yang perempuan memakai tilakung (mukena) berwarna putih. Tidak semuanya baru, namun terlihat bersih dan licin oleh seterika. Sementara yang laki-laki memakai peci dan sarung. Salah satu keunikan cara orang Minang memakai sarung adalah gulungan sarungnya yang berada di bagian luar dan baju di bagian dalam, kecuali mereka yang memakai jas. Jasnya berada di luar menutup gulungan sarung bagian samping dan belakang. Kecuali bagian depan, gulungan sarungnya tetap kelihatan karena jas yang mereka pakai tidak dikancingkan.

Dengan semakin ramainya warga yang berangkat ke masjid atau lapangan, hatiku semakin tidak tenang, ingin segera tiba di Bukittinggi, lalu naik oplet ke kampung dan ikut shalat Idul Fitri bersama orang sekampung.

Perjalanan menuju Bukittinggi itu adalah perjalanan yang menanjak, sehingga bus tidak bisa memacu kecepatannya, dan itu membuat hatiku semakin tak tenang. Kecepatan bus baru bisa maksimal setelah melewati Koto Baru, karena jalan mulai mendatar, malah sebagian tempat ada yang menurun karena kami telah melewati puncak tertinggi jalanan yang melintas di pinggang Gunung Singgalang itu. Walau bus telah melaju dengan kecepatan cukup tinggi, namun aku tetap was-was, karena hari makin siang, matahari telah bersinar penuh tanpa ada halangan bukit barisan lagi. Jalanan semakin ramai, diiringi suara takbir yang bersahutan. Hatiku semakin tak karuan, apalagi bila bus melewati lapangan yang mulai penuh oleh umat yang ingin melaksanakan shalat Idul Fitri, merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Keyakinanku untuk bisa menunaikan shalat idul Fitri di kampung semakin menipis, tak terasa air mataku menetes. Keinginan untuk bersama kakak, adik sepupu maupun keponakan berbarengan berangkat dan shalat Idul Fitri di masjid kampung kami terancam gagal.

Bus memasuki terminal Pasar Banto, begitu bus berhenti aku bergegas turun. Penumpang yang tersisa di dalam bus hanya tinggal beberapa orang, karena kebanyakan turun di jalan, sehingga dengan cepat aku bisa turun dari bus. Aku berjalan cepat keluar terminal, melintasi jalan arah ke Payakumbuh, yang memisahkan terminal Pasar Banto dengan Pasar Bawah. Agar lebih cepat malah kadang berlari menuju terminal oplet Aua Tajungkang, melalui pasar bawah yang kosong. Sampai di terminal oplet aku tak melihat satupun oplet yang menuju ke kampungku!

Aku berdiri lemas, sementara nafasku sesak karena berlari. Dengan perasaan yang berkecamuk aku coba juga melihat kalau-kalau ada oplet yang menuju kampungku melintas di terminal itu. Tapi harapanku sia-sia. Yang semakin banyak melintas justru warga yang berjalan menuju lapangan Kantin atau masjid Tengah Sawah untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri.

Dengan langkah gontai aku berjalan ke bangunan loket di pinggir terminal yang bersisian dengan rel kereta api. Dengan lesu kulihat kantong plastik yang aku jinjing. Seandainya celana lebaran yang baru selesai dijahit itu tidak hilang semalam saat aku letakkan di kantor samping masjid, mungkin saat itu aku bisa bersama-sama warga Bukittinggi pergi ke lapangan untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri. Godaan menonton film India di Lapangan Imam Bonjol, Padang bersama teman, membuat aku harus kehilangan celana lebaran yang baru diambil di tukang jahit Pasar Raya. Sementara yang aku kenakan sekarang adalah celana lusuh yang usianya sudah sekian tahun.

Aku bersandar di dinding bagian dalam loket. Untuk menghindari tatapan dari orang yang lewat dengan pakaian baru bersama keluarganya, aku lalu menyembunyikan diri dengan duduk bersandar ke dinding. Kedua tangan memeluk kedua kakiku, kepalaku menunduk di atas lutut. Tanpa bisa kutahan airmatapun mengalir membasahi lutut tempat keningku bertumpu. Sementara suara umat melafazkan takbir bergema dari segala arah…

Mari Memelihara Kelestarian Hutan Dengan HCS Approach Toolkit 2.0

 

Hutan adalah paru-paru dunia. Hutan yang lestari akan menjadikan dunia ini tetap nyaman di huni oleh setiap makhluk, baik itu manusia, begitupun dengan hewan. Sebaliknya, hutan yang dibiarkan habis karena digunduli, baik untuk kegiatan industri ataupun untuk kelangsungan hidup manusia yang berada dilingkungan hutan itu, akan menjadikan kehidupan semua makhluk tidak di bumi ini tidak akan nyaman, yang berujung pada percepatan ancaman kepunahan seluruh penghuni bumi.

Kehidupan kita tidak akan pernah lepas dari apa yang kita dapatkan dari hasil hutan. Mulai dari rumah dengan segala isinya, hingga ke perlengkapan dan kebutuhan kita sehari-hari, bahkan sampai kepada benda yang pemakaiannya sangat pribadi, khususnya pada wanita. Sebuah contoh kecil, bisa kita bayangkan, berapa juta lembar tissue yang dipakai orang setiap hari? semua itu berasal dari kayu hasil hutan!

 

Mari hidup berdampingan dengan damai, karena kita akan saling melindungi.

 

Lihatlah, betapa banyak hewan-hewan yang kini terancam kepunahan. Karena mereka telah kehabisan habitat untuk bernaung, hingga akhirnya mereka semakin dekat ke perkampungan, dan itu merupakan kesalahan yang tak terelakkan. Karena di perkampungan mereka menjadi sasaran perburuan manusia yang juga merasa terancam kehidupannya, sehingga akhirnya semakin mempercepat kepunahan makhluk yang tak berdosa itu.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk melanjutkan kehidupan yang damai dengan alam dan hutan yang juga terjaga kelestariannya serta hewan-hewan itu luput dari kepunahannya?

 

Orang Utan
Bila hutan kita habis, kita tidak akan pernah melihat hewan lucu ini lagi.

 

Jawabannya adalah: HCS Approach Toolkit 2.0

Sebuah metodologi gabungan baru yang berlaku secara global untuk melindungi hutan alam dan mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara bertanggung-jawab, telah diluncurkan oleh koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM). High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit merupakan sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

 

 

“Membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” kata Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group.

“Selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek ‘Non-Deforestasi’. Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon,yang mencakup teknologi baru termasuk penggunaan LiDAR, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil.”

“Koalisi yang unik ini telah bersatu, dalam menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan dampak pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa dan hak-hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Kami menyambut positif atas diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung-jawab,” tambahnya.

Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis pada April 2015. Versi baru yang telah disempurnakan yang dirilis hari ini telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach. Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya, sebagai hasil dari ‘Kesepakatan Konvergensi’ antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016 lalu. Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS.

 

Klasifikasi hutan berdasarkan kerapatannya yang terkait dengan stok karbonnya

 

Toolkit ini dimaksudkan untuk digunakan oleh praktisi yang hendak memastikan tidak dilakukannya pembukaan hutan di dalam konsesi yang diperuntukkan sebagai areal penanaman baru. Metodologi HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini akan mendapatkan hasil yang paling baik jika diterapkan oleh tim yang terdiri dari para ahli dengan berbagai keahlian. Keahlian tersebut dapat berbeda-beda, mulai dari analisis hak kepemilikan lahan dan pemetaan partisipatif hingga analisis citra satelit, inventarisasi hutan, kajian keanekaragaman hayati dan perencanaan lanskap. Maka dari itu, bab-bab berikut ini lebih bersifat teknis dengan tujuan praktisi terlatih dapat menggunakannya di lapangan untuk mengimplementasikan HCS Approach Toolkit Versi 2.0 dengan hanya sedikit panduan tambahan.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini dimaksudkan untuk diintegrasikan dengan perencanaan pemanfaatan lahan secara keseluruhan yang juga melindungi kawasan NKT, lahan gambut dan lahan-lahan lain yang penting untuk masyarakat. Karena proses-proses tersebut telah dijabarkan dengan baik oleh sumber lainnya, maka toolkit ini tidak membahas proses tersebut secara rinci dengan asumsi bahwa ketika studi HCS  dimulai, maka kajian berkualitas tinggi mengenai nilai-nilai lain tersebut telah dilakukan. Meskipun demikian, para penulis telah berusaha sebaik mungkin untuk menyoroti tahapan-tahapan tersebut di dalam metodologi HCS dimana kajian-kajian lain diperlukan secara khusus.

 

Anggota Steering Group HCS Approach terhitung Mei 2017:

• Asian Agri

• Asia Pulp & Paper (Executive Committee)

• BASF

• Conservation International

• Daemeter

• EcoNusantara

• Forest Heroes

• Forest Peoples Programme (Executive Committee)

• Golden Agri-Resources (Executive Committee)

• Golden Veroleum (Liberia) Inc.

• Greenpeace (Executive Committee)

• Mighty

• Musim Mas

• National Wildlife Federation

• New Britain Palm Oil Ltd.

• Proforest

• P&G

• Rainforest Action Network (Executive Committee)

• Rainforest Alliance

• TFT (Executive Committee)

• Unilever (Executive Committee)

• Union of Concerned Scientists

• Wilmar International Ltd. (Executive Committee)

• WWF (Executive Committee)

 

Tentang HCS Steering Group

HCS Approach Steering Group adalah sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, yang dibentuk pada tahun 2014 untuk mengelola HCS Approach. Steering Group (SG) dibentuk agar dapat mengawasi pengembangan selanjutnya dari metodologi tersebut, termasuk penyempurnaan terhadap definisi, objektif dan hubungan dengan pendekatan-pendekatan lainnya, untuk menghentikan praktek penggundulan hutan. SG pun memandu implementasi dari metodologi tersebut, berkomunikasi/berinteraksi dengan para pemangku kepentingan dan mengembangkan/menjalankan pengelolaan terhadap model dari metodologi tersebut.

 

Garis besar dari HCS Approach

 

HCS Approach Toolkit V2.0 terdiri dari 7 modul dan selengkapnya bisa dilihat di link bawah ini, dan baru tersedia dalam bahasa Inggris. HCS Toolkit V 2.0 dalam berbagai bahasa akan segera menyusul.

Language Link
English

 

Ikhtisar  7 modul HCS Aproach Toolkit

Bagi yang ingin melihat HCS Approach Toolkit V 1.0 yang dirilis bulan April 2015, bisa melalui link yang ada di bawah ini yang tersedia dalam 5 bahasa:

Language Link
English Complete Toolkit V1.0_Eng
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_Eng
Bahasa Indonesia Complete Toolkit V1.0_BM
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_BM
French Complete Toolkit V1.0_French
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_French
Portuguese Complete Toolkit V1.0_Portuguese
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_Portuguese
Spanish Complete Toolkit V1.0_Spanish
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_Spanish

 

Hutan yang lestari dan terjaga, akan menjadikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak pewaris negeri ini.

 

Jelaslah sudah, bahwa masa depan kita maupun generasi pewaris negeri ini akan ditentukan dengan bagaimana kita memelihara dan menjaga kelestarian hutan kita. HCS Aproach Toolkit 2.0 hanyalah sarana untuk memelihara maupun melestarikan hutan kita itu. Dia tidak akan berarti apa-apa bila kita mengabaikannya! Kepunahan akan semakin cepat mendatangi kita maupun hewan-hewan yang sudah langka itu. Kerja sama semua pihak yang berkepentingan harus bergandengan tangan dalam memelihara hutan kita dan memperpanjang usia kehidupan bumi ini dengan segala isinya. Tidak ada yang boleh berpangku tangan sambil menonton dengan pandangan masa bodoh. Hidup kita, masa depan kita, ditentukan bagaimana kita mengaplikasikan HCS Approach Toolkit 2.0 secara baik dan benar.

 

Sumber:
http://highcarbonstock.org/the-hcs-approach-toolkit/
Twitter: @Highcarbonstock
Youtube: High Carbon StockApproach

 

Semua foto dan desain grafis milik http:http://highcarbonstock.org/

Alfamart Hibahkan Alfamart Class di SMK Avicena, Tenjo, Bogor

Sebuah ruangan berukuran sekitar 6 x 8 meter yang telah berisi lengkap dengan beraneka ragam barang dagangan layaknya sebuah mini market, kamarin diresmikan di komplek SMK Avicena, Tenjo, Bogor. Rabu (10/05/2017).

Mini market ini, disamping melayani warga sekitar Tenjo juga merupakan laboratorium class bagi para siswa Avicena untuk belajar secara langsung bagaimana manajemen sebuah toko retail modern. Sehingga saat mereka lulus nanti mereka tidak bingung lagi seandainya bekerja pada sebuah supermarket atau bagi yang ingin membuka toko sendiri.

Kehadiran mini market Alfa Mikro ini merupakan hibah CSR dari PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (pengelola jaringan Alfamart Alfamidi) kepada SMK Avicena. Peresmian program Alfamart Class ini merupakan yang ke-160 di seluruh wilayah Tanah Air. Peresmian Mini market bernama Alfamikro tersebut dilakukan dengan pengguntingan pita oleh ketua Yayasan Avicena Dr. Romsyah

Menurut Koordinator Pengawas SMK Wilayah 1 Dinas Pendidikan Provisi Jawa Barat Endah Krismani, program Alfamart Class ini bentuk inisiatif yang baik dari perusahaan swasta untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

“Selain industri, masih banyak potensi bisnis yang bisa berkembang di Kabupaten Bogor, dan potensi lulusan SMK di daerah ini cukup besar untuk mendukung perkembangan bisnis ini,” ucapnya

Menurut dia, untuk menjadi tenaga kerja siap pakai masih dibutuhkan bimbingan dari pelaku bisnis agar siswa memiliki keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Peran serta pelaku bisnis sangat dibutuhkan untuk membantu lulusan SMK agar memiliki daya saing tinggi, terampil dan siap bekerja di dunia industri,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala SMK Avicena Iwan Setiawan. Dia menuturkan, program Alfamart Class ini memfasilitasi para lulusan SMK, terutama yang memiliki minat di bidang ritel. Nantinya mereka dapat bekerja di jaringan Alfamart atau jika mereka ingin berbisnis ritel, mereka sudah dibekali ilmu yang memadai.

Dalam sambutannya, Branch Manager Alfamart Balaraja Yosef Risdianto menjelaskan, industri ritel membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam jumlah besar. “Industri ritel adalah industri padat karya, sebab pelayanan yang
diberikan dilakukan oleh manusia, bukan didominasi oleh mesin. Namun untuk menemukan SDM yang mengerti fungsi dan perannya di bidang ritel tidak mudah. Alfamart Class ini diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan SDM ini, serta mempersiapkan tenaga kerja siap pakai,” jelasnya.

Diharapkan, program ini mampu meningkatkan kualitas lulusan SMK. “Alfamart Class diharapkan mampu menjadi solusi yang menguntungkan bagi berbagai pihak. Di satu sisi kami membantu menyediakan lapangan kerja bagi lulusan SMK, di sisi lain kami juga mendapat tenaga kerja yang kompeten yang mampu menjawab kebutuhan perusahaan,” tuturnya.

 

 

 

Vietnam Airlines Mengajak Anda Untuk Melihat Pantai Terbaik di Vietnam

 

Jika saat mendengar kata Vietnam Anda malah berfikir mengenai kopi bercampur Sianida, maka artinya Anda harus buru-buru piknik. Jika bingung memilih tempat wisata, mengapa tak mencoba pantai di Vietnam? Anda bisa terbang ke sana dengan menggunakan Vietnam Airlines, dengan lambang teratai emasnya, yang erat kaitannya dengan filosifis bagi warga Vietnam, dan juga melambangkan elemen pencerahan dalam filosofi Buddha, bermakna kesempurnaan, kemuliaan, dan kebanggaan nasional.

Berikut saya tampilkan beberapa rekomendasi pantai terbaik di Vietnam yang layak Anda kunjungi, jika sedang berlibur ke sana.

  1. Pantai An Bang, Hoi An

Sumber:tempatwisataunik.com

Hoi An terkenal dengan arsitektur bangunan tuanya, hingga di sebut juga kota tua. Hoi An juga memiliki kanal-kanal indah yang bersih. Dari kota tua ini, Anda bisa bersepeda menuju Pantai Bang. Di sini Anda juga bisa bersantai sambil menyantap makanan laut yang lezat. Di pinggir-pinggir pantai terdapat kursi-kursi yang berjejer dan juga payung yang terbuat dari dedaunan. Anda juga bisa berenang dan menyelam ke Kepulauan Cham yang lokasinya tak begitu jauh.

  1. Pantai My Khe Da Nang

Sumber:rangking10.com

Pantai ini juga terkenal sebagai China Beach, nama ini muncul karena di sinilah awal dari Perang Vietnam, di mana sejarah mencatat kekalahan yang dialami oleh tentara Amerika dan mereka akhirnya angkat kaki dari Vietnam. Pasirnya yang kuning, dan air laut jernih siap menyambut Anda dan mengeluarkan Anda dari kepenatan. Kota Da Nang telah menjadi kota yang paling modern, jadi Anda tak akan kesulitan untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas yang Anda butuhkan selama liburan.

  1. Mui Ne, Ho Chi Minh City

Sumber:shutterstock.com

Jika Anda benar-benar membutuhkan ketenangan, tempat inilah jawabannya. Resort mewah, pantai cantik, dan ombak yang bisa Anda taklukan untuk berselancar.  Ternyata tempat yang tenang ini lokasinya tak jauh dari pusat kota Ho Chi Minh, Anda hanya membutuhkan 1 jam perjalanan dengan menggunakan bis.

  1. Bai Dai Beach

Sumber:justgola.com

Meski pantai ini sangat terkenal di Vietnam, namun ternyata pantai ini merupakan salah satu pantai terpencil di dunia. Meski jauh dari kata modern, di sini Anda tetap bisa mendapatkan hotel untuk menginap dan beberapa tempat makan. Suasana romantis bisa tercipta saat Anda menikmati cocktail bersama pasangan di pinggir pantai.

Setelah Anda mendarat di Vietnam dengan menggunakan Vietnam Airlines, Anda bisa mencapai tempat ini dengan menyewa kendaraan. Bai Dai terletak di wilayah barat laut Pulau Phu Quoc.

  1. Long Beach, Pulau Phu Quoc

Sumber:supercoolbeaches.com

Sesuai namanya, pantai ini memang memiliki garis pantai yang sangat panjang, yaitu mencapai 20 km. terbentang dari selatan ke utara. Tempat yang mudah dijangkau membuat pantai ini menjadi favorit para wisatawan. Yang menjadi ciri khas pantai ini adalah pasirnya yang kuning dan pohon-pohon kelapa yang berjejer di sepanjang garis pantai. Air lautnya yang tenang pun membuat Anda bisa dengan mudah untuk bersnorkeling atau pun menyelam.

  1. Vung Bau

Sumber:phuquocislandguide.com

Seperti halnya pantai Bai Dai, pantai Vung Bau pun merupakan tempat yang sangat cocok untuk menyepi karena lokasinya yang sama-sama terpencil. Pantai ini cocok Anda datangi saat musim kemarau. Saat musim ini, air laut menjadi lebih tenang dan aman untuk dijadikan tempat berenang.

Pantai ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk Anda yang ingin melihat indahnya matahari tenggelam, perpaduan pasir pantai berwarna kuning, pohon kelapa yang menjorok ke pantai dan beberapa tanaman pantai lainnya siap menyembut Anda.

Siap untuk melangkahkan kaki Anda ke pantai-pantai indah ini? Segera pesan tiket Vietnam Air yang memiliki 28 rute internasional di Traveloka dengan mengunjungi traveloka.com/vietnam-airlines.

 

 

Mari Berkunjung, Banyumas Berpesta Sepanjang Tahun!

Stasiun Purwokerto, pintu gerbang Banyumas

 

Banyumas, daerah yang dikenal sebagi Kota Satria, menyemarakkan diri dengan berpesta sepanjang tahun! Tidak percaya? Lihatlah agenda acara dibawah ini, demi untuk memajukan pariwisata daerahnya.

Untuk berkelana di daerah Banyumas, Anda tidak boleh melupakan Purwokerto, kenapa? Karena Purwokerto, yang sering dipelesetkan jadi Portugal atau Puerto Rico tersebut adalah ibukota Kabupaten Banyumas, sekaligus pintu gerbang masuknya para wisatawan atau pengunjung yang ingin melihat keindahan alam maupun tradisi turun menurun masyarakat Banyumas.

Ada dua jenis transportasi umum yang dapat Anda pilih untuk berkunjung ke Banyumas. Pertama dengan bus umum antar kota antar propinsi, dan yang kedua dengan menumpang kereta api. Itu bila Anda berangkat sendiri atau dengan rombongan kecil. Namun bila Anda berangkat dengan rombongan besar tentu ada pilihan lain, misalnya dengan menyewa bus pariwisata.

 

Mengikuti Paket Tour seharga Rp.250.000,-

Cukup Rp. 250.000 rupiah perorang dan minimal rombongan 10 orang, Anda sudah mendapat pelayanan full servis ditambah souvenir cantik untuk dibawa pulang.

Apa saja yang didapatkan dari paket ini?

  1. Satu kali makan sama kudapan khas Banyumas
  2. Armada yang memadai
  3. Bebas biaya tiket masuk semua wahana
  4. Souvenir berupa Kaos Cantik Banyumasan 100% cotton terbaik
  5. Tour Leader yang siap menjadi pelayan terbaik

 

Buah Tangan dari Banyumas.

Puaskan diri sehari berkeliling di Banyumas, bukan hanya potensi alam dan destinasi wisata yang luar biasa, ada juga kuliner dan kerajinan khas laskar Bawor, diantaranya adalah:

  1. Mendoan
  2. Gethuk Goreng
  3. Jenang Jaket
  4. Keripik Tempe dan Nopia
  5. Kain Batik Banyumasan, yang jadi maupun jahit sendiri

Masih banyak lagi tentunya…

Bila Anda hendak berkunjung ke Banyumas, ada baiknya Anda menghubungi dulu pihak pengelola priwisata di sana. Kenapa? Karena dengan memberikan konfirmasi waktu kedatangan dan jumlah rombongan, maka kunjungan Anda kesana lebih teratur dan terarah dibawah panduan pemandu wisata yang disediakan tuan rumah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas. Bila Anda datang dengan kereta api, maka Anda akan dijemput ke Stasiun Purwokerto, menuju lokasi wisata utama yaitu Baturraden, dengan potensi unggulan seperti:

  1. Pancuran air panas ( pancuran 3 dan pancuran 7 )
  2. Kolam renang dan sepeda air ( Sumber air gunung tanpa kaporit )
  3. Sepeda air
  4. Goa Sarabadak
  5. Kebun raya dan Wisata alam hutan pinus
  6. Desa Wisata Ketenger ( Curug Gede, Curug Gomblang ), Karangsalam

( Curug Tiga, Curug Putri ),  Canyoning ( Wisata air )

  1. Pasar Souvenir yang terdapat di muka pintu utama lokawisata

 

Bila masih belum puas dengan 7 destinasi wisata di atas, Anda juga bisa melakukan kunjungan Wisata Kuliner dalam Kota:

  • Pasar Badog ( Makan ) Modern GOR Satria Purwokerto
  • Kampung Batik dan sentra kuliner Sokaraja
  • Taman Kota Andang Pangrenan Purwokerto

 

Wisata unggulan Banyumas.

Baturraden

 

 

Banyumas, Kota 1000 Curug (Air Terjun)

 

Wisata Kuliner

 

Taman Kota Mencerahkan Jiwa

 

 

 

Sekilas Even Tahunan Banyumas

Banyumas Nyamleng. Adalah Kegiatan Festival Kesenian Unggulan Kecamatan. Jadwalnya bisa dilihat di bawah ini:

  1. 8 April 2017 di Lapangan Kecamatan Wangon
  2. 15 April 2017 di Lapangan Banyumas
  3. 29 April 2017 di Mandala Wisata Baturraden

 

Rewanda Bujana & Jaro Rojab
23 April 2017-24 April 2017

Adalah kegiatan kirab budaya yang berakar pada prosesi dan dinamika kebersamaan masyarakat adat Masjid Saka Tunggal yang bersinergi dengan makhluk lain yaitu kera yang hidup dan berada di sekitar Masjid bersejarah tersebut.

Serta Jaro Rojab sebagai penghujung kegiatan yang tentunya menjadi sebuah teladan pola hidup bergotong royong di era maju seperti sekarang ni

 

Festival Karawitan SLTP / SLTA

9 & 10 Mei 2017

Unggah-unggahan ( Adat Bonokeling

22 Mei 2017


Adat Kali Tanjung ( Tutupan Sadran )

24 Mei 2017

 

Festival Serayu
29 & 30 Juli 2017

 

 

Festival Kenthongan

29 Juli 2017 Di Alun-alun Kec. Banyumas

5 Agustus 2017 Di Alun-alun Kec. Sumpiuh

12 Agustus 2017 Di Alun-alun Purwokerto

 

 

Banyumas Extravacanza

Pusat seluruh aplikasi kegiatan kebudayaan di gelar, bukan hanya semua kekayaan seni budaya yang berkembang di Banyumas saja namun sudah merambah pada ajang peragaan busana etnik unik dan dikemas dengan sangat menarik, lebih tepatnya adalah acara pesta kebudayaan, pariwisata, serta kuliner dan fashion terbesar di Kota Satria Banyumas

11 Agustus 2017 di Alun-alun Purwokerto-Banyumas

 

 

Kakang dan Mbekayu Duta Wisata Banyumas
11 – 16 September 2017

 

Festival takir Banyumas
7 oktober 2017

 

FESTIVAL BATURRADEN
14 & 15 Oktober 2017

 

 

Festival Karawitan Umum
14 & 15 Oktober 2017

 

 

Penjamasan Jimat Kalisalak dan Jimat Kalibening
2 Desember 2017

 

 

Pentas Akhir Tahun
31 Desember 2017


 

 

Setiap bulan dalam tahun 2017 ini, selalu ada perhelatan di Banyumas. Kecuali bulan Juni, karena bertepatan dengan bulan Ramadhan. Bagi peminat wisata tradisi dan budaya, Festival Banyumas ini adalah surga buat dinikmati untuk mengenal dan mendalami tradisi dan budaya nenek moyang kita, yang turun temurun diwariskan kepada generasi mendatang. Penasaran? ayo mari berkunjung ke Banyumas, Kota Satria.

Penasaran dengan semua keindahan destinasi wisata dan pertunjukan promosi pariwisatanya, silakan berkunjung

 

Kredit Foto: Dinas Pariwisata dan kebudayaan Banyumas.