Merantau ke Pekan Baru (25)

Setelah beberapa lama tinggal bersama kakakku anduang Ipah dan anduang Pidan di Pasar Bawah, aku di jemput oleh kakak laki-lakiku tuan Salim, dan di ajak ketempat tinggal yang juga sekalian tempat dia bekerja di Sukajadi.

Dengan menumpang oplet, kami berangkat dari pasar bawah menuju Sukajadi. Tidak sampai satu jam, kami tiba di Sukajadi. Turun dari oplet, sebelum memasuki gang yang akan menuju rumah tuan Salim, aku melihat ke kiri dan ke kanan. Disebelah kanan disamping tanah kosong aku melihat kantor polisi. Disebelah kiri aku melihat kebun, tapi aku tidak tahu tanaman apa yang ditanam disana, karena terhalang oleh pagar hidup yang lebih tinggi dari aku, kecuali beberapa pohon nangka dan rambutan, yang kelihatan dari pinggir jalan. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (25)”

Merantau ke Pekan Baru (24)

Tinggal bersama kedua orang kakakku, merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku. Tinggal di kota dengan berbagai macam keadaan dan situasinya, tadinya hanyalah ada dalam bayangan dan angan-anganku, dari cerita-cerita orang-orang kampungku yang pulang dari rantau. Kini bersama kedua kakakku aku mengalaminya sendiri.

Walau kami tinggal pada sebuah kamar yang ukurannya hanya sebesar rumah saruang, tempat kami berlalu lalang turun naik rumah gadang di kampung setiap hari, tapi cukuplah. Untuk tempat kami tinggal dan berlindung dari sengatan panasnya matahari, maupun dinginnya udara malam.

Selain di Pekanbaru, kami juga mempunyai dunsanak di Minas dan Rumbai, kota kecil diseberang sungai Siak, kota yang penduduknya adalah para karyawan Caltex. Walau dunsanak jauh, tapi karena sama-sama berada dirantau, terasa sebagai keluarga dekat. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (24)”

Merantau ke Pekan Baru (23)

Gara-gara bermain di panas terik setengah hari di sungai Siak, malamnya badanku meriang. Anduang Ipah maupun anduang Pidan kebingungan. Kepalaku di kompres pakai kain basah, akupun di belikan obat, aku tidak tahu namanya. Tapi diantara obat itu satu diantaranya selembar kertas kecil yang ada lemnya yang kemudian ditempelkan di pelipisku, aku mendengar kakakku menyebut kertas yang ada lemnya itu koyok.

Aku tak pernah takut minum obat bagaimanapun pahitnya, karena aku sudah terbiasa sejak perutku pernah kena borok sewaktu umi masih hidup. Tapi selama ini aku belum pernah memakai koyok. Bau koyok yang di tempelkan di pelipis kiri dan kananku itu membuat perutku mual, sehingga semakin membuat aku pusing. Tapi keinginan agar segera sembuh, membuat aku juga tak mau membuangnya. Untunglah obat lain yang aku minum mulai terasa bereaksi, membuat mataku mengantuk, hingga kemudian aku tertidur pulas. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (23)”

Merantau ke Pekan Baru (22)

Setelah melewati sayap dermaga itu dengan perasaan gamang, kami sampai di dermaga induk tempat kapal yang tadi aku lihat bersandar. Si Pemancing belok kekanan menuju lapangan parkir, aku tetap mengikutinya dari belakang. Sampai di lapangan parkir luar dermaga, dia belok kekanan dan kekanan lagi, menuruni tebing tepi sungai disamping dermaga.

Aku terus membuntuti si pemancing menuruni tebing hingga dia sampai mendekati permukaan sungai Siak, dan masuk kebawah kolong dermaga. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk memancing, diapun meletakkan peralatannya ditanah. Kalau tadi aku hanya membuntuti di belakang, sekarang aku duduk di sampingnya. Memperhatikan bagaimana dia mempersiapkan pancingnya, memasang umpan dan melemparkannya ke tengah sungai di bawah kolong itu. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (22)”

Merantau ke Pekan Baru (21)

Bosan hanya bengong melihat kakakku dan temannya sibuk bekerja, aku lalu keluar dari loket penjualan karcis. Melihat aku keluar kakakku sudah wanti-wanti agar aku tidak bermain jauh-jauh. Aku hanya menjawab: “ya…!, yang dalam hanya sekejap hilang dalam ingatan, karena sesuatu yang dari tadi bermain dalam imajinasiku, menarik langkah kakiku kesana. Jembatan ponton…

Hanya dalam beberapa saat aku telah berada kembali disana, di tempat tadi aku berdiri bersama kakakku memperhatikan bagaimana jembatan ponton itu bekerja. Karena lalu lintas kendaraannya tidak begitu ramai, aku dapat melihat jembatan itu dengan lebih leluasa. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (21)”