Merantau ke Pekan Baru (30)

Dikejar Bayang-bayang Ketakutan

 

Hari masih pagi, anduang  Ipah dan anduang Pidan sudah berangkat ketempat kerja masing-masing. Anduang Pidan ke kompeksi pakaian, disana dia bekerja sebagai tukang jahit. Anduang Ipah ke Sungai Siak, dekat jembatan ponton yang menghubungkan kota Pakanbaru dengan kota Rumbai. Jembatan yang selalu aku kagumi. Karena dia akan terbelah dua ditengahnya, ke masing-masing sisi sungai, bila ada kapal yang akan lewat dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Dan akan  bertaut lagi, bila sang kapal telah lewat. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (30)”

Merantau ke Pekan Baru (29)

Hari minggu, anduang Ipah libur, aku diajak ke sentral listrik. Ada orang sekampung yang tingal dan bekerja disana.

Setiap aku diajak pergi oleh kakakku ini aku selalu di kuliahi, jangan ini, jangan itu, duduk yang baik jangan bikin malu. Karena tak ingin di cubit kecil yang maha perih itu bila berbuat salah, maka akupun berusaha tampil sebagai anak manis yang patuh dan santun, yang kalau di tanyapun sering menjawab hanya dengan senyuman.

Karena keseringan tak punya uang untuk ongkos, maka jadilah kami sebagai pejalan yang tangguh. Berjalan se jam dua jam bagi kami bukanlah masalah. Apalagi saat itu sarana transportasi masih sangat minim. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (29)”

Merantau ke Pekan Baru (28)

Setelah dikurung di kamar gantung, akhirnya aku kembali ke Pasar Bawah, bersama anduang Ipah dan Pidan. Pengembaraanku di jalanan kota Pekanbaru kembali berlanjut.

Pagi itu setelah kedua kakakku pergi ketempat kerjanya masing-masing, akupun pergi meninggalkan rumah tempat kost kami.

Pertama aku pergi ke pabrik roti yang hanya berjarak dua tiang listrik dari rumah kami. Aku melihat kesibukan para pekerja pabrik itu membuat roti hingga memasukkannya ke tunggu pemanggangan. Setelah puas melihat kesibukan para pekerjanya dan kenyang dengan aroma roti yang baru matang, serta ngiler dengan orang-orang yang mebeli dan memakannya disana, sementara aku tak punya uang untuk membelinya, akhirnya aku pergi meninggalkan pabrik roti itu. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (28)”

Merantau ke Pekan Baru (27)

Bosan duduk di tangga, aku turun dan masuk kedalam oloh, melihat kesibukan para tukang yang sedang bekerja itu lebih dekat. Aku berpindah-pindah dari bangku yang satu ke bangku yang lain. Setiap bangku di isi satu tukang, dan setiap tukang membuat perabot yang berbeda. Tidak setiap tukang bisa mengerjakan semua pesanan, tergantung pengalamam dan masa kerja masing-masing tukang. Tukang-tukang yang mempunyai masa kerja yang lama dan berpengalaman, dapat dipastikan kebagian pekerjaan membuat perabot yang proses pembuatannya lebih sulit dan lebih lama. Dan tentu juga dengan upah yang lebih tinggi. Tuan salim tiap sebentar melihat dimana aku berada, dan menegor aku agar tak terlalu dekat dengan tukang-tukang yang sedang bekerja itu, agar mereka tak terganggu. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (27)”

Merantau ke Pekan Baru (26)

Aku duduk ditangga dekat pintu yang menuju rumah mak Linuh. Sejak di kampung, duduk di anak tangga paling atas rumah gadang, yang dikampung dinamai kapalo janjang, adalah kesenanganku. Dari sana aku bebas mengamati orang-orang yang bekerja di halaman rumah maupun di dapur, atau kesibukan kakak-kakakku membantu umi menumbuk kopi dibawah pohon manggis. Tapi kesenanganku ini sering menjadi bencana bagiku. Sepupuku Fitrizal, sering mendorongku dari belakang tempat dudukku, hingga aku jatuh terguling ke dasar tangga, disambut oleh batu tempat pijakan mencuci kaki dari air cibuak. Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi aku. Aku tak pernah luka serius, setiap jatuh dari tangga yang tingginya melebihi tingginya orang dewasa itu! Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (26)”