Disaat kakakku dan temannya sibuk dengan pekerjaannya, aku melihat keluar. Kulihat beberapa mobil berbaris di lapangan parkir yang menuju ke arah jembatan. Kutanyakan kepada kakakku kenapa mobil-mobil itu berhenti dan berbaris disana. Kakakku menjawab, ada kapal yang akan melewati jembatan, jadi mobil tidak bisa lewat. Dalam pikiranku jadi kapal itu akan menabrak jembatan besi yang membentang di atas sungai Siak tadi? Semacam ketakutan segera menyergap aku, bayangan jembatan besi itu tertabrak kapal dan berantakan menghantuiku. Tapi rasa ingin tahu juga membuat hatiku jadi penasaran. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (20)”
Berkelana di Ranah Minang (5) Muaro, Nafas Kehidupan Orang Padang Sejak Dulu Kala
Awal pusat sejarah dan kehidupan kota Padang ada di Muara atau orang Padang menyebutnya Muaro.
Muaro adalah muaranya Batang (sungai) Arau. Hulunya adalah bukit-bukit yang mengelilingi Kota Padang. Dari dan ke Muaro inilah denyut nadi kehidupan warga Padang pada jaman dahulu bemula. Begitu juga awal penjajahan bangsa asing. Seperti kehadiran VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1663.
Melalui Muaro ini pulalah François Thomas Le Même, seorang bajak laut dariPerancis yang bermarkas diMauritius dengan kapal utama berkuatan 12 meriam, menguasai dan menjarah kota Padang pada tahun 1793. Lanjutkan membaca “Berkelana di Ranah Minang (5) Muaro, Nafas Kehidupan Orang Padang Sejak Dulu Kala”
Merantau ke Pekan Baru (19)
Kerinduanku kepada kedua orang kakakku Ipah dan Pidan terbayar sudah. Kini aku tinggal bersama mereka, bertiga di kamar samping beranda rumah ibu Jawa, demikian kakakku selalu memanggil si ibu pemilik rumah itu yang memang keturunan Jawa.
Hari pertama aku tinggal di sana aku diperkenalkan sama ibu pemilik rumah itu. Dia cukup ramah, namun aku tak mengerti omongannya, karena dia berbicara bahasa Indonesia dengan dialek Jawanya, dan aku belum mengerti bahasa Indonesia, kecuali beberapa kata yang sama artinya dengan bahasa kampungku. Kalau ibu itu berbicara bahasa Minang, kedengaran olehku juga kata-kata yang aneh, yang kadang membuat aku tersenyum karena kedengaran olehku ucapannya lucu.
Di ruang dalam rumah terdapat sebuah lemari kecil dengan kaca diatasnya, orang kampungku menyebutnya lemari bopet. Diatas bopet ini terdapat sebuah radio yang terhubung ke listrik yang ada di dinding dibelakang bopet. Saat itu kedengaran olehku radionya sedang menyanyikan lagu India. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (19)”
Merantau ke Pekan Baru (18)
Hari menjelang sore. Aku duduk di palanta di teras rumah tuan Maie, menunggu dengan tidak sabar kedatangan tuan Salim. Aku tidak tahu, sudah berapa kali aku bolak-balik keluar masuk rumah tuan Maie, melihat ke dua ujung jalan, sambil berharap tuan Salim memperlihatkan dirinya di salah satu ujung jalan itu.
Sebuah oplet berhenti di depan rumah tuan Maie, sekilas aku melihat seorang wanita turun. Dengan rasa kesal dan kecewa aku kembali masuk rumah, karena yang kuharapkan turun dari oplet itu adalah tuan Salim. Aku merebahkan badanku telungkup di balai-balai. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan tuan Salim dan kakak-kakakku yang lain. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (18)”
Merantau ke Pekan Baru (17)
Aku terbangun dari tidurku. Kudapati tubuhku diselimuti dengan selimut putih bergaris-garis biru, juga kepalaku telah beralaskan bantal, tidak lagi kain bungkusan pakaianku.
Aku duduk dan melihat ke sekeliling, rumah terasa sepi. Tak satupun penghuni rumah yang kelihatan. Tiba-tiba dari dalam kamar kak Suma keluar, rupanya dia baru saja selesai shalat. Itu kelihatan dari tangannya yang sedang melipat telekungnya dan mukanya yang masih kelihatan lembab.
Melihat aku sudah bangun, aku di tawari mandi. Aku memang sudah tiga hari tidak mandi, sejak aku meninggalkan kampung aku belum pernah mandi, begitu juga para penumpang bus Sinar Riau. Ada beberapa orang yang pernah mandi sewaktu mampir di rumah makan, tapi ebih banyak lagi yang tidak. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (17)”
