Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (15): Mereka Hilang Satu Persatu

Kebersamaan kami dalam mengarungi kehidupan enam bersaudara tidak bertahan lama.

Melihat keadaan kami yang dalam usia begitu muda telah harus membanting tulang untuk mempertahankan hidup, mendapat perhatian dari orang-orang yang masih ada ikatan keluarga dengan kami, yang berada di rantau orang. Ada diantaranya yang sudah agak berkecukupan karena usahanya mulai berkembang, walau mungkin belum dapat dikatakan kaya. Ada juga yang tersentuh melihat keadaan kami yang mempunyai masa depan yang tak jelas kemana arahnya, lalu mengajak salah seorang diantara kami ikut dengan mereka.

Pekanbaru yang berkembang pesat dengan kehadiran Caltex yang melakukan explorasi dan exploitasi minyak bumi. Menjadi tujuan banyak perantau Minang untuk mencari penghidupan yang layak. Termasuk penduduk Kamang, yang diantaranya terdapat kerabat dekat keluargaku.

Jebolnya lasuang batu yang selama ini menjadi tumpuan usaha keluarga tempat menumbuk biji kopi untuk membuat kopi bubuk, seolah memberikan tanda-tanda kepada kami bahwa usaha keluarga ini telah menjelang atau mendekati kematiannya. Walau kemudian ada lesung pengganti yang terbuat dari kayu, namun hasil akhirnya yang berujung pada rasa dan aroma kopi bubuk yang kami produksi, tak sebaik bila di olah dengan lesung batu. Proses penumbukannya pun menjadi lebih lama. Aroma lesung kayupun ikut berperan mempengaruhi mutu kopi bubuk produksi kami.

Sulitnya keadaan perekonomian, disebabkan masih muda-mudanya kami yang tak mempunyai pengalaman apapun. Serta kuatnya keinginan untuk pergi merantau guna merubah nasib, mengakibatkan satu persatu kakakku meninggalkan kampung halaman. Pergi merantau, mengikuti ajakan dunsanak atau kerabat yang yang telah lebih dahulu berada disana. Mereka mengajak kakak-kakakku karena kasihan melihat keadaan kami dikampung.

Di awali tuan Salim, yang sudah mulai agak mahir menjadi tukang perabot rumah tangga. Dia dibawa ke Pakanbaru oleh mak Linuh, yang masih punya hubungan sepersukuan dengan kami, sehingga kami harus memanggil mamak atau paman kepada dia. Mak Linuh mempunyai toko perabot rumah tangga yang sedang berkembang, sekaligus beberapa orang tukang yang telah berpengalaman, yang semuanya adalah orang sekampung .

Tak berapa lama kemudian, di susul oleh anduang Pidan yang ingin belajar menjadi penjahit pakaian wanita. Di Pekanbaru dia diterima bekerja di perusahaan kompeksi, sesuai dengan cita-citanya. Terakhir anduang Ipah yang sudah tak kuat lagi bekerja dan terlalu berat hanya berdua dengan kak Inan memproduksi kopi bubuk dagangan keluarga, yang produksinya mulai menurun sejalan dengan berkurangnya permintaan disebabkan mutu produksi yang sudah tak terjaga kwalitasnya. Ikut pergi merantau ke Pekanbaru, di bawa oleh keluarga sepupu kami yang lain, Ismail. Anduang Ipah yang sempat menamatkan Tsanawiyah sebelum pergolakan PRRI, sesampainya di Pekanbaru masuk kursus mengetik dan dapat pekerjaan sebagai penjual tiket kapal di dermaga pelabuhan sungai Siak.

Tinggallah aku berdua dengan kak Inan, kakakku yang tertua yang paling tinggi pendidikannya diantara kami semua, karena sempat menamatkan sekolahnya di Mu’alimin Muhammadiyah, Bunian, Payakumbuh, menemani nenek yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sementara uda Des lebih betah tinggal di bersama bako atau keluarga ayah kami di Guguak Rang Pisang.

Dengan menghilangnya kakakku satu persatu, pergi merantau mengadu nasib ke negeri orang. Berhenti pulalah semua kegiatan usaha keluarga membuat kopi bubuk. Penghidupan kami selanjutnya sepenuhnya tergantung dari hasil sawah maupun kebun yang ada disekitar rumah, karena warung kecil kami yang di Simpang Labuah pun telah tutup kehabisan modal.

Keluarga etek Timah ibunya Fitrizal dan suaminya Abdul Aziz yang kami panggil pak aciak, juga sudah mulai membangun rumah mereka sendiri di sebelah depan rumah gadang yang berada di pinggir jalan.  Tinggallah aku dan kak Inan serta nenek menunggui rumah gadang yang semakin sepi.

Join the Conversation

4 Comments

  1. Aslm, sangat mencengangkan kisah yang inyiak tuturkan. Patut kiranya generasi muda mendengar atau membaca penuturan dari inyiak ini. Adakah kiranya kisah-kisah lainnya mengenai perihal kekejaman tentara Komunis Jawa selama PRRI di Minangkabau atau setidaknya di Kamang?mohon kabari saya di angkulereng@gmail.com.saya akan senang sekali menerima surat dari inyiak Hasjmi.Wassalamu’alaikum..

    1. Alaikumsalam, Sutan Panduko Basa

      Ambo raso banyak kisah-kisah kelam nan tajadi salamo pergolakan PRRI, Cuma tradisi manulih urang awak nan kurang, sahinggo kisah-kisahtu hilang dengan berpulangnyo para pelaku sejarahtu ka hadapan Tuhan. Sahinggo banyaklah kisah-kisah memilukan nan indak taangkek ka pemukaan dan hilang di telan masa.

      Tarimo kasih Sutan lah singgah ka dangau ambo, mudah-mudahan nanti kito ado kasampatan untuak batamu muko. Amiin..

      Wassalamu’alaikum

  2. Pak Dian,, ambo minta ijin share tulisanno k dalam blog ambo tanpa merubah isi y.. Ambo ingin berbagi tentang cerita panjang Kamang

Leave a comment

Tinggalkan Balasan ke sutan paduko basa Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.