Kepergian anduang Ipah, Pidan serta tuan Salim merantau ke Pekanbaru, rupanya pilihan yang di inspirasikan Tuhan kepada mereka. Ketiganya mendapatkan pekerjaan, walau pada awalnya tidak mudah. Dan rupanya keberhasilannya itu ingin dibagikan kepadaku, agar dapat juga menikmatinya bersama mereka. Walau sebenarnya untuk mereka sendiri sebenarnya masih pas-pasan.
Pesanpun disampaikan melalui dunsanak yang pulang kampung, untuk mengajak aku ke Pekanbaru bersama mereka sewaktu kembali nanti.
Ketika pesan itu sampai ketelingaku, aku tak tahu harus berbuat apa. Ada terasa sedikit rasa senang, aku akan kembali berjumpa dengan kedua kakakku dan tuan Salim. Namun juga ada kecemasan, aku akan meninggalkan kampungku, tanah tumpah darahku, dengan segenap kisah yang tak kan pernah terlupakan. Aku akan meninggalkan rumah gadang tempat aku dilahirkan dengan segala macam kenangannya. Meninggalkan kakakku Inan sendirian bersama nenek yang sakit-sakitan. Berpisah dengan adik sepupuku Fitrizal, satu satunya teman sepermainan, karena uda Des lebih betah tinggal di Guguak Rang Pisang, rumah keluarga ayahku.
Hari keberangakatan telah di tetapkan, dan rasanya akupun sudah tak sabar untuk segera bersua dengan kedua anduangku.
Hari Senin, tidak seperti biasa aku bangun sendiri, kali ini aku dibangunkan oleh kak Inan. Dibawa kesumur ujung ladang dan dimandikan, suatu hal yang jarang dilakukan kak Inan padaku. Karena selama kami hanya tinggal berdua, aku mulai belajar mandiri. Mandi, berganti pakaian kecuali mengambil nasi dan lauk pauknya, diambilkan oleh kakakku. Kalau aku yang mengambil sendiri, maka jatah lauk untuk sehari, bisa habis hanya dalam sekali makan. Bukan karena rakus, karena begitulah adanya. Jatah makan kami untuk sehari, hanyalah untuk sekali makan bagi orang lain.
Setelah semua selesai, aku diantar kakakku ke Bukittinggi, berbarengan dengan orang yang akan membawa aku. Dengan baju pembelian umi yang terakhir, yang mulai terasa sempit di tubuhku. Aku dan kak Inan berjalan ke Pintu Koto, sekitar 4 kilometer dari kampungku Ladang Darek. Pangkalan oplet yang akan membawa kami ke Bukittinggi, sepuluh kilometer dari kampung kami.
Sampai di terminal Pasa Banto, Bukittinggi. Kami langsung menuju loket bus Sinar Riau, demikian nama bus itu dikatakan kakakku, yang akan membawa aku ke Pekanbaru. Loket bus itu penuh sesak dengan orang yang akan berangkat, maupun oleh keluarga mereka yang hanya mengantarkan. Pekanbaru telah menjadi rantau idaman dan tanah yang menjanjikan, setiap bus yang menuju Pekanbaru penuh sesak oleh penumpang, karcis harus dipesan jauh-jauh hari. Begitupun Bus yang akan membawa kami ini, yang sedang memuat barang-barang para penumpang diatas tenda. Atap bus itu telah penuh sesak. Barang-barang itu disusun sedemikian rupa, hingga tingginya hampir setinggi dua orang kenek bus yang bekerja menyusun-nya, yang di sana bernama stokar.
Menjelang tengah hari, para penumpang disuruh naik bus. Aku naik dan disuruh duduk di cc, aku tidak tahu apa itu cc, jadi aku hanya celengukan. Aku lalu disuruh duduk di bangku paling depan, di samping sopir. Barulah aku tahu, cc itu bangku paling depan di samping sopir.
Bersambung
