Kerinduanku kepada kedua orang kakakku Ipah dan Pidan terbayar sudah. Kini aku tinggal bersama mereka, bertiga di kamar samping beranda rumah ibu Jawa, demikian kakakku selalu memanggil si ibu pemilik rumah itu yang memang keturunan Jawa. Hari pertama aku tinggal di sana aku diperkenalkan sama ibu pemilik rumah itu. Dia cukup ramah, namun aku tak […]
Category Archives: Kisah Pengelana
Merantau ke Pekan Baru (18)
Hari menjelang sore. Aku duduk di palanta di teras rumah tuan Maie, menunggu dengan tidak sabar kedatangan tuan Salim. Aku tidak tahu, sudah berapa kali aku bolak-balik keluar masuk rumah tuan Maie, melihat ke dua ujung jalan, sambil berharap tuan Salim memperlihatkan dirinya di salah satu ujung jalan itu. Sebuah oplet berhenti di depan rumah […]
Merantau ke Pekan Baru (17)
Aku terbangun dari tidurku. Kudapati tubuhku diselimuti dengan selimut putih bergaris-garis biru, juga kepalaku telah beralaskan bantal, tidak lagi kain bungkusan pakaianku. Aku duduk dan melihat ke sekeliling, rumah terasa sepi. Tak satupun penghuni rumah yang kelihatan. Tiba-tiba dari dalam kamar kak Suma keluar, rupanya dia baru saja selesai shalat. Itu kelihatan dari tangannya yang […]
Merantau ke Pekan Baru (16): Tanah Merah
Aku beserta famili teman seperjalalanku dari kampung, menunggu di depan rumah setelah mengetok pintu dan memanggil tuan rumah. Beberapa saat kemudian terdengar suara engsel pintu berderit dan pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita yang nampaknya baru saja selesai melaksanakan shalat subuh dan masih memakaitelekungnya menyembul dari balik pintu, setelah bertegur sapa dia mempersilakan kami masuk. Famili […]
Merantau ke Pekan Baru (15)
Setelah mengantri hampir dua jam, akhirnya bus Sinar Riau yang kami tumpangi mendapat giliran menyeberang. Setelah dua kali menaiki pelayangan, aku mulai terbiasa, rasa gamang dan takut akan terjadi sesuatu, tidak lagi mengganggu pikiranku. Aku kini malah dapat menikmati rasanya naik pelayangan. Ayunan pelayangan ketika dinaiki kendaraan yang akan menyeberang, tak lagi menimbulkan ketakutanku. Begitu […]
