Setelah semua penumpang selesai shalat dan makan, stokar kembali memanggil penumpang agar menaiki bus, perjalanan akan dilanjutkan lagi. Panas tengah hari menjelang sore mengiringi perjalanan kami. Angin yang berhembus melalui jendela bus, cukup menyejukkan bagi penumpang yang berada di belakangku. Tapi tidak bagi aku yang duduk di bangku depan yang sejajar dengan sopir. Aku tetap […]
Category Archives: Kisah Pengelana
Merantau ke Pekan Baru (13)
Dengan menahan perasaan galau dan diselimuti kecemasan akhirnya pelayangan yang aku tumpangi sampai juga di dermaga sungai seberang, aku bernafas lega, karena apa yang aku cemaskan dan takuti tidak terjadi. Karena tadi bus kami yang terakhir naik, sekarang bus kami pula yang pertama turun, karena jembatan penyeberangan antara pelayangan dan jalan yang terbentang di hadapan […]
Merantau ke Pekan Baru (12)
Panas matahari pagi membangunkan aku dari tidurku. Rupanya aku tertidur tidak lama sejak keluar dari lubang kalam. Kini kudapati bus berhenti, rupanya aku di baringkan di atas bangku tempat dudukku yang menyambung dengan bangku sopir. Aku lalu melihat ke belakang, semua bangku kosong, begitu juga familiku tak ada di sampingku. Tiba-tiba aku mendengar pintu bus […]
Merantau ke Pekan Baru (11)
Bus Sinar Riau yang kami tumpangi pelan-pelan meninggalkan daerah pelayangan, bus tidak bisa berjalan cepat karena jalanan sempit, disamping itu juga becek dan licin. Kendaraan yang parkir di sebelah kanan kami, yang menunggu antrian untuk naik pelayangan cukup banyak, tapi rasanya tak sebanyak di tempat kami antri tadi. Setelah kami lepas di ujung antrian, barulah […]
Merantau ke Pekan Baru (10)
Baru saja aku selesai makan, pak sopir naik keatas bus dan memberi tahu penumpang agar turun, karena sebentar lagi bus akan naik pelayangan dan penumpang di persilakan berjalan kaki naik pelayangan dan menunggu di ruang tunggu. Kami semua turun dari bus, lalu menuju ke pinggir sungai. Aku di tuntun oleh familiku, tanganku dipegangi agar aku […]
