Merantau ke Pekan Baru (3)

Dari dalam bus aku melihat timbunan pisang yang masih lengkap dengan tandannya, menumpuk di depan beberapa kios. Begitu juga karung beras yang sering disebut goni, bersusun rapi di depan kios lainnya. Kami melewati stasiun kereta api dengan rel ganda, tempat persilangan kereta api yang datang dari Bukittinggi dan yang datang dari Payakumbuh. Saat itu aku […]

Merantau ke Pekan Baru (2)

Ketika semua penumpang telah naik, bus pun pelan-pelan berangkat meninggalkan loket dan terminal Pasa Banto. Aku melihat para pengantar melambaikan tangannya, begitu juga kakakku. Aku tak tahu apa arti lambaian tangan itu, makanya aku hanya diam saja sambil sekilas melihat kakakku dan kemudian mengalihkan pandangan ke arah pengantar lainnya. Aku melihat ada diantara mereka yang […]

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (16): Merantau ke Pekanbaru

Kepergian anduang Ipah, Pidan serta tuan Salim merantau ke Pekanbaru, rupanya pilihan yang di inspirasikan Tuhan kepada mereka. Ketiganya mendapatkan pekerjaan, walau pada awalnya tidak mudah. Dan rupanya keberhasilannya itu ingin dibagikan kepadaku, agar dapat juga menikmatinya bersama mereka. Walau sebenarnya untuk mereka sendiri sebenarnya masih pas-pasan.

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (15): Mereka Hilang Satu Persatu

Kebersamaan kami dalam mengarungi kehidupan enam bersaudara tidak bertahan lama. Melihat keadaan kami yang dalam usia begitu muda telah harus membanting tulang untuk mempertahankan hidup, mendapat perhatian dari orang-orang yang masih ada ikatan keluarga dengan kami, yang berada di rantau orang. Ada diantaranya yang sudah agak berkecukupan karena usahanya mulai berkembang, walau mungkin belum dapat […]

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (14): “Menikmati” Vanili

Warung di Simpang Labuah, di jaga bergantian oleh kakak-kakakku maupun tuan Salim. Sementara uda Des dan aku yang masih balita hanya menemani. Karena warungnya kecil dan tidak ada yang menunggui malam hari, maka semua barang dagangan kalau sudah sore di bawa pulang kerumah. Besok paginya kembali lagi dibawa ke warung dan di pajang. Demikianlah barang […]