Arena Asian Games 2018 tidak hanya di Jakarta dan Palembang!

Bila kita melihat baliho, iklan ataupun tayangan video maupun berita di televisi, Asian Games 2018 hanya berlangsung di Jakarta dan Palembang, karena hanya dua nama kota itu yang tertulis dengan jelas sebagai kota penyelenggara. Tapi benarkah acara olah raga terbesar se Asia tersebut hanya berlangsung di dua kota  dan dua propinsi tersebut?

Sekitar 40 blogger Banten mendapat undangan dari Kepala Dinas Kominfo Propinsi Banten, Komari, untuk temu blogger berkumpul dan mengunjungi arena olah raga Modern Penthatlon, Asian Games 2018 yang berlokasi di komplek SMA Adria Pratama Mulya, Tiga Raksa, Tangerang, Banten.

Komplek SMA yang berfasilitas boarding school di area seluas 8 hektar tersebut, mempunyai fasilitas lengkap untuk pelaksanaan pertandingan Modern Pentahtlon yang diikuti oleh 9 negara peserta Asian Games. Di samping bangunan lama juga dibangun arena baru guna melengkapi fasilitas yang sudah ada, yaitu kolam renang dengan standar olympiade.

 

 

Bagi yang belum mengenal olah raga Penthatlon, secara sederhana dapat dijelaskan disini.

Penthatlon merupakan gabungan lima olah raga, yaitu:

-Anggar

-Berenang gaya bebas 200 meter

-Berkuda, khusus melompati halang rintang berupa gawang setinggi 100 hinga 120 cm. sebanyak 15 lompatan.

-Lari 3200 meter yang di pecah jadi 4×800 meter di mana saat si atlit mencapai garis finis 800 meter yang berada persis di lapangan tembak, maka dia akan mengambil senjata laser yang sudah disediakan di arena menembak lalu menembak sasaran diam berjarak 10 meter dan melakukan tembakan dan mengenai dengan tepat sasaran 10 kali dalam 50 detik. Selesai menembak si atilt akan melanjutkan lari 800 meter lagi hingga total 4 putaran yang diselingi dengan menembak seperti yang pertama.

Kenapa dinamai Modern Penthatlon? ini disebabkan karena olahraga Penthatlon ini usianya lebih tua dari olympiade. Bapaknya Penthatlon ini adalah juga bapaknya olympiade yang kita kenal saat ini, yaitu,. Baron Pierre De Coubertin

 

Kehadiran Gubernur Banten yang membuat kejutan.

Di saat kami meninjau arena yang sedang dipakai dan menyaksikan 6 atlit Indonesia, belatih di bawah bimbingan mantan atlit aletik nasional Ema Tahapari, yang dipersiapkan untuk Asian Games tersebut, kami juga mendapat surprise dengan hadirnya gubernur Banten H Wahidin Halim. beserta beberapa orang pejabat dinas propinsi Banten dan pejabat sementara bupati Tangerang.

 

Untungnya kehadiran orang nomor satu di Propinsi Banten ini setelah kami selesai menyaksikan para atlit Penthatlon ini berlatih, sehingga konsentrasi kami menyaksikan pelatihan begitu juga para atlit tak terganggu, dan para blogger dan atlitpun dengan segera merubung ke gubernur yang juga masuk ke arena pelatihan, menyaksikan situasi dan kondisi arena yang akan dipakai nantinya dan juga berkenalan langsung dengan para atlit, pelatih maupun panitia serta pengelola SMA Adria Pratama Mulya ini. Kehadiran Gubernur pun nampaknya ikut menaikkan semangat para atlit yang sedang berlatih, hingga sempat melakukan foto bersama beberapa kali.

Gubernur  Wahidin Halim sangat mengapresiasi acara Gathering Blogger Banten ini, yang kali ini sengaja memilih  lokasi di SMA Adria Pratama Mulya (APM) Equestrian Centre, Tigaraksa, Tangerang, Banten, yang merupakan lokasi yang akan dijadikan salah satu Venue Asian Games 2018 untuk cabang olahraga Modern Pentathlon pada tanggal 31 Agustus dan 1 September 2018 nanti.

Kepala Diskominfo Komari mengungkapkan empat tujuan utama diadakannya kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan kreativitas serta inovasi melalui hobi menulis, meningkatkan kelembagaan maupun komunitas yang ada, menjadi jejaring pembangunan Provinsi Banten, serta dapat mensosialisasikan cabang olahraga yang ada di Asian Games khususnya Cabang Modern Pentathlon yang akan dilangsungkan di Banten

Selesai mengikuti peninjauan gubernur di indoor arena, foto bersama atlit dan gubernur, kami para blogger memisahkan diri untuk melakukan peninjauan ke arena lainnya. Dari indoor arena kami keluar ke outdoor arena dimana nantinya arena ini adalah arena untuk menembak, yang merupakan salah satu dari 5 olahraga yang tergabung dalam Penthatlon. Selanjutnya kami mengunjungi ruang makan siswa yang nantinya juga akan berfungsi sebagai tribun VIP yang menghadap ke lapangan tembak.

Dari lapangan tembak kami mengunjungi kandang kuda atau yang akan dipakai dalam kejuaraan nanti. Sayangnya kandangnya cukup tinggi, dan kudanya juga menunduk terus menikmati makan siangnya, sehingga kami tidak bisa melihat dengan jelas kuda-kuda hebat tersebut.

Lepas dari kandang kuda kami mengunjungi asrama pelajar, tapi hanya melihat dari luar. Arena terakhir yang kami kunjungi yaitu kolam renang. Kolam renang ini benar-benar fasilitas baru yang dibangun guna untuk jadi arena Penthatlon Asian Games 2018 ini.

Saat mengunjungi arena Penthatlon ini, kami didampingi oleh Ahmad Munawar, PR dan Marketing Yayasan APM. Serta Glenn Clifton, seorang pelatih penembak nasional Perbakin.

 

Menikmati Car Free Day Bersama Natur

Sudah lama saya tidak mengunjungi jalan MH Thamrin maupun jalan Sudirman, untuk menikmati keramaian hari bebas kendaraan bermotor atau yang lebih dikenal sebagai Car Free Day, setiap hari Minggu pagi.

Namun Minggu (8/7/2018) kemarin, saya mengunjunginya lagi. Hal ini dikarenakan saya mengikuti ajang promosi Natur Hair Care  #KuatDariAkar yang mengambil tempat di Tosari, tidak jauh halte busway Tosari.

Berangkat dari kost di Kota Bambu dengan Grab, jam enam kurang saya sudah sampai di Lokasi. Saat mau registrasi di booth, petugasnya pun masih bersiap, tidak ketemu di laptop mereka lalu mencari nama saya di daftar yang sudah di cetak dan ketemu nomor 50.

Tidak lama berselang pic acara ini, ibu Sumiati Supriasih juga datang dan mengambil tempat di belakang booth registrasi, dan membagikan goodiebag kepada kami para blogger yang ikut sebagai peserta dan juga sudah melakukan registrasi ulang.

Acara pagi itu dipusatkan di panggung Natur, untuk menyemarakkan dan membangkitkan semangat serta mengeluarkan keringat, setelah acara dibuka oleh mc lalu dilanjutkan dengan senam Zumba yang dipandu oleh Instruktur Tommy Dewantara dan dua asisten wanita dengan seragam olahraga.

Karena tidak siap untuk mengikuti senam ini, mengingat gerakannya yang cukup cepat sementara fisik saya tak mendukung, maka saya lalu mengabadikan video senam massal ini dengan hp yang dapat kita saksikan di sini.

Melihat gerakan senam Zumba ini, ingin rasanya ikut senam bersama. Gerakannya yang cepat dan bergerak dinamis mengikuti hentakan bunyi musik membakar lemak dan mengucurkan keringat, sayang faktor U tak bisa dibohongi, saya harus tahu diri agar tak rontok di tengah keramaian yang memenuhi jalan Thamrin.

Selesai senam acara dilanjutkan dengan tip bagaimana merawat rambut agar tetap sehat. Tasya Farasya seorang Beauty Influencer, menjelaskan bagaimana merawat rambut. Bagi yang kerap cetok rambut, musti dimbangi dengan jadwal keramas secara berkala. Tasya yang memiliki jenis rambut keriting, membutuhkan lebih banyak conditioner serta moustiriser untuk merawat rambutnya.  Tasya juga menyarankan agar tidak terlalu sering melakukan cetok rambut, agar rambut tidak cepat rusak dan patah.

Selain Tansya juga hadir Luna Maya yang menekankan untuk memilih produk perawatan rambut yang benar. Sebagai artis yang sering berada di luar ruang untuk shooting, rambut Luna sering terbakar matahari, begitu juga saat berada di ruang AC yang lembab,  sehingga mudah lepek. Untuk memelihara rambutnya, Luna Maya suka keramas dengan shampo yang aman, yaitu shampo yang tidak terlalu banyak mengandung bahan kimia, serta ingridientnya dibutuhkan oleh rambut.  Banyak yang beranggapan shampo dengan busa banyak itu bagus, pada hal pendapat ini tidak tepat. Busa banyak menunjukkan unsur kimia seperti soda, justru tidak bagus untuk kesehatan rambut. Hingga akhirnya Luna Maya memakai shampo Natur, merasakan manfaatnya yaitu akar rambut yang kuat, dan itu sudah berjalan selama tiga tahun.

Saya mengikuti program  #Naturgreenaction, dimana para peserta bisa menukarkan botol plastik kosong dengan produk natur. Sayapun mendapatkan produk seperti yang saya peragakan di atas.

 

Diajak Ngabuburit Oleh Bus Transjakarta

 

Selesai mengikuti peluncuran sebuah merek smartphone di Ballroom Hotel Grand Sheraton Gandaria City kemarin sore (4/6/18). Dibawah terik matahari yang masih menyengat sekitar pukul 16, saya berjalan menuju halte busway Kebayoran Lama yang jaraknya dari hotel sekitar 1 kilometer. Rencananya saya akan naik bus Transjakarta jurusan Kebayoran Lama – Grogol yang melewati Slipi, nanti dari Slipi menyambung dengan mikrolet jurusan Tanah Abang.

Tidak ingin kartu Danamon Flazz saya kehabisan saldo untuk naik busway, di Halte Busway Kebayoran Lama itu saya lalu mengisi deposit duapuluh ribu. Saat menunggu kartu flazz saya diisi seorang penumpang mendekat ke loket, lalu minta tiket transit ke Tanah Abang.

Selesai menambah saldo saya lalu menanyakan kepada petugas loket apakah saya bisa memakai kartu Danamon Flazz di busway yang ke Tanah Abang itu, yang kemudian dijawab bisa. Sayapun lalu berjalan menuju bus Trasjakarta jurusan Tanah Abang tersebut. Hal itu saya lakukan karena bus yang jurusan Kebayoran Lama – Grogol belum ada di halte.

Saat saya naik dan mencari tempat duduk di dalam bus Tranjakarta tersebut, terlihat hanya beberapa orang penumpang, tidak sampai sepuluh orang. Tidak menunggu lama, bus pun berjalan.

Ini adalah pertama kali saya menaiki busway jurusan Kebayoran Lama – Tanah Abang, jadi saya tidak begitu tahu jalur mana yang akan di tempuhnya, saya hanya mengira-ngira. Yang saya yakini bus ini akan melewati kawasan Permta Hijau dan terus melewati Stasiun Palmerah. Yang belum bisa saya pastikan adalah sampai di Slipi bus ini akan melewati jalur mana, apakah akan belok kiri melewati perapan Slipi, lalu belok kanan lagi melewati Petamburan, atau dari Palmerah lurus menuju Pejompongan dan nanti di Karet belok kiri menuju Tanah Abang.

Jam baru melewati beberapa menit dari pukul empat sore, saya memperkirakan akan sampai di studio di Kota Bambu sebelum magrib, bahkan mungkin bisa istirahat sejenak menunggu datangnya azan magrib, saatnya bebuka puasa. Karena kalau diambil garis lurus, jarak Kebayoran Lama ke Kota Bambu ini hanya sekitar 6 kilometer.

Setelah memutar berbalik arah di halte Kebayoran Lama, bus melaju sepanjang Simprug lalu menanjak di jembatan layang Permata Hijau lalu memutar kekiri 360 derajat sambil menurun menuju kawasan Permata Hijau, Stasiun Palmerah dan Jembatan layang Slipi.

Karena saat itu memang jamnya bubaran kantor, maka sepanjang jalanan yang saya lewati sudah mulai padat merayap, dan semakin padat hingga sampai di Jembatan layang Slipi pukul 5 lewat beberapa menit.

Seperti dugaan saya semula, saat sampai di Jembatan Slipi, bus Transjakarta yang saya tumpangi ini mengambil jalur lurus ke arah Pejompongan. Dengan bermuaranya kendaraan yang dari arah Permata Hijau dan dari arah Grogol di bawah jembatan Slipi ini, maka jalur yang menuju Pejompongan ini semakin padat, sehingga kendaraan yang lewat disana mulai merayap, macet.

Mengalami macet sepanjang jalan Pejompongan, saya membatin kalau harapan untuk sampai di Kota Bambu sebelum azan magrib semakin menipis.Hanya saja saya tidak tahu posisi saya nanti saat datangnya azan magrib. Harapan saya mudah-mudahan jangan di saat saya masih dalam perjalanan dengan bus Transjakarta ini, sebab saya tidak punya persiapan untuk berbuka di atas kendaraan, walaupun saya membawa bekal yang diberikan saat usai acara tadi, tapi saya merasa tidak nyaman berbuka sendiri di dalam bus, sementara penumpang yang lain masih puasa karena tidak punya bekal.

Pergerakan bus semakin tersendat saat mendekati persimpangan Karet. Jam di handphone saya sudah menunjukkan pukul 17.29, berarti 18 menit lagi menjelang datangnya azan magrib.

Saat melewati persimpangan Karet dan memasuki jalan Mas Mansyur menuju Tanah Abang, jalan bus lumayan bisa lebih cepat dari sebelumnya, karena kemacetannya tidak separah di Pejompongan. Hanya saja waktu berbuka juga semakin dekat, hanya tinggal beberapa menit.

Sampai di halte terakhir bus Tranjakarta yang berada dekat masjid Al-Makmur, Tanah Abang. Saya turun dan segera berjalan melewati pasar Tanah Abang Blok B. Persis saat berjalan di bawah jembatan Metro Tanah Abang di depan Blok A, azan magrib pun berkumandang…

Sambil tetap berjalan, saya melihat di sepanjang kaki lima orang sudah berbuka puasa, di warung-warung kaki lima maupun di dekat pedagang minuman kemasan. Tapi saya tidak begitu nyaman untuk ikut berbuka disana. Saat sampai di depan jalan Tanah Rendah, dikejauhan saya melihat ada mushalla, sayapun lalu berjalan menuju mushalla tersebut.

Baru saja saya sampai di depan mushalla yang dipadati orang yang lagi berbuka puasa dan belum sempat meletakkan tas dan tentengan, saya langsung disongsong dan disodori air minum oleh salah seorang pengurus mushalla, dan seorang lagi menyodorkan piring yang berisi lontong, gorengan, bakwan dan bihun untuk berbuka puasa.

Setelah meletakkan-tas dan tentengan, baru saya meminum air kemasan yang diberikan tadi, dan mengambil piring yang berisi takjil untuk berbuka puasa. Tapi sebelum memakan takjil saya lebih dulu mencuci tangan dan sekalian berwudhuk, persiapan untuk shalat magrib. Untuk menghargai takjil yang diberikan pengurus mushalla, saya tidak  mengeluarkan bekal yang diberikan di hotel Sheraton tadi, dan menikmati apa yang sudah terhidang di hadapan saya.

Selesai berbuka dan shalat magrib berjamaah, saya melanjutkan perjalanan ke Kota Bambu, jalan kaki lebih 1 kilometer melewati jembatan layang Jati Baru yang melintasi stasiun Tanah Abang, dengan kondisi yang lebih segar dari sebelumnya. Sambil jalan santai ditemani sore yang semakin gelap, pengalaman diajak ngabuburit oleh bus Trasnjakarta itupun membuat saya tersenyum…

 

Polisi Itu Gagal Menakut-nakuti Aku…

1965

 

Walau Panti Asuhan atau asrama kami sudah pindah dari Bunian yang batasnya dengan pasar Payakumbuh hanya pagar belakang kantor Bupati 50 Kota,  ke Padang Tiakar yang jauhnya sekitar 1,5 kilometer, tidak membuat aku merasa berjarak dengan pasar tempat aku bermain setiap hari. Bila lonceng bubaran sekolah telah berbunyi, aku segera pulang ke asrama.

Sampai di asrama hal pertama yang aku lakukan sebagaimana teman lain adalah shalat zuhur. Selesai shalat kami lalu mengambil jatah makan siang kami yang sudah dibagi rata untuk masing-masing anak, dengan sedikit perbedaan pada takaran nasi. Untuk anak-anak tingkat Sekolah Dasar nasinya tidak sebanyak untuk yang telah SMP atau SMA, yang dalam istilah kami di asrama namanya “nasi gadang dan nasi ketek”.

Selesai makan, aku langsung berjalan ke pasar Payakumbuh. Karena arena bermainku selalu di pasar, maka di asrama aku dijuluki pimpinan Panti sebagai preman pasar, padahal baru kelas 2 SD! hehehe… Untung saja teman-teman tak pernah memanggil atau ikut-ikutan memberikan julukan preman pasar itu kepadaku.

Sampai di pasar, hal pertama yang aku lakukan adalah singgah ke Pangkas Sinamar yang berlokasi di jalan Karya. Sampai di sana aku membaca koran Haluan yang terbit hari itu. Aku tak pernah memilih berita yang aku baca, aku juga tidak tahu apa itu berita politik, ekonomi, kriminal atau yang lainnya, kecuali berita olahraga, pilihan pertama bila aku membuka Harian Haluan itu. Aku bisa menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk membaca isi koran itu, sehingga begitu selesai membaca wawasan dan pengetahuan umumku semakin bertambah. Untungnya saat itu sebelum meletusnya G 30 S PKI, jadi isi beritanya masih bersih dari kejadian yang merenggut nyawa ribuan manusia itu, selain 7 jenderal yang terkubur di Lubang Buaya.

Bila hari Minggu atau hari libur, maka durasi aku di pasar itu lebih panjang lagi. Kalau tidak ada kegiatan berkebun bersama atau gotong royong lainnya di asrama, maka pukul 8 pagi selesai sarapan bubur putih yang ditemani sayur sisa semalam yang kadang rasanya sudah berubah, aku sudah meluncur ke pasar. Karena masih pagi, pangkas Sinamar belum buka, maka aku sering pergi ke pustaka Hizra, agen surat kabar di Payakumbuh. Tapi karena tidak ada tempat duduk dan membaca korannya juga sambil mengintip koran yang masih terlipat, maka acara bacanya tidak sepuas seperti di Pangkas Sinamar.

Selesai membaca koran aku lalu pergi ke los tembakau, menuju lokasi kuliner yang berada di samping los tembakau berupa warung dengan payung raksasa berdiameter 3 meter, tempat bermacam pedagang membuka warung menjual lontong, cendol, es tebak, soto dan sebagainya. Aku pergi ke warung cendol pak Bahar, membantu mencuci piring, sendok, mangkok dan gelas kotor dari pelanggan yang barusan jajan di sana. Bila hari libur warung cendol itu cukup ramai, sehingga sering pemiliknya kewalahan melayani pelanggan.

Karena kebandelanku yang sudah sedemikain rupa menurut pimpinan asrama, maka suatu kali aku bertemu dengan salah seorang kakak senior di Panti, yang biasa kami panggil Uda Helmi di pasar. Saat itu aku sedang bermain di lokasi pasar malam yang saat itu masih sepi karena masih siang. Saat melihat-lihat pedaganag memajang dan merapikan dagangannya. Saat itulah seseorang memanggilku, saat aku melihat ke arahnya baru aku tahu kalau kakak senior itu yang datang.

Tanpa banyak tanya dia lalu memegang tanganku dan menggiringku ke kantor polisi atau tepatnya pos polisi yang berada di samping kantor bupati, dan tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Dalam hati aku bertanya untuk apa aku dibawa ke pos polisi?. Pertanyaan itu baru terjawab saat kami sudah masuk dan duduk di dalam pos polisi tersebut. Kami duduk di bangku panjang yang ada di dalam kantor polisi itu. Aku disuruh duduk di ujung bagian dalam, sementara uda Helmi duduk di tengah yang lebih dekat ke pintu keluar. Mungkin dia berpikiranuntuk berjaga-jaga kalau aku akan lari saat diinterogasi polisi.

Setelah kami duduk lalu polisi bertanya kepada uda Helmi, apa tujuan kami ke kantor polisi tersebut. Uda Helmi lalu menceritakan kenakalanku yang selalu bermain di pasar, menjadi preman pasar dan jarang berada di asrama. Pokoknya semua kebandelanku di ceritakan disana, dan dia minta pak polisi memberi pelajaran kepadaku agar berhenti jadi preman pasar dan kembali berada di asrama sebagai anak panti yang patuh dan rajin belajar.

Pengalamanku sering berada di camp tentara saat terjadi pergolakan PRRI 7 tahun sebelumnya, membuatku tak merasa takut saat berhadapan dengan polisi itu. Walau polisi tersebut saat itu mengeluarkan pistolnya, aku cuek saja, karena aku pernah melihat berbagai macam senjata di camp tentara yang berada di nagari Magek yang bersebelahan dengan kampungku Kamang. Ukuran senjatanyapun bermacam-macam, mulai dari pistol maupun senjata laras panjang.

Oleh karena itu aku sudah yakin polisi itu tidak akan menembak aku, mungkin maksudnya hanya untuk menakut-nakuti aku dengan meletakkan pistolnya di atas meja sambil sesekali memegang dan membersihkan pistol tersebut, sambil tetap berbicara menasehatiku yang kadang disertai ancaman akan dikurung di pos polisi tersebut.

Selesai di interogasi yang lebih banyak berisi nasehat oleh pak polisi, kami lalu pulang ke asrama. Aku tidak tahu apa yang diceritakan uda Helmi kepada ibu pimpinan panti tentang keberhasilannya menggiring aku ke kantor polisi, yang jelas dari jauh mereka begitu serius mendengarnya, sementara aku masa bodoh saja duduk di aula, sambil sesekali melirik ke tempat mereka ngobrol. Tapi yang pasti, besoknya pulang sekolah aku sudah bermain di pasar lagi! Dasar anak badung, hehehe…

 

Artikel ini juga di terbitkan di www.kompasiana.com/diankelana

Menyatukan Bangsa Dengan Saling Timbang Rasa

 

Menabur Perjumpaan Menuai Silaturrahmi, demikian tema acara . “Sambung Rasa Anak Bangsa Lintas Agama dan Buka Puasa Bersama” yang digelar di Gedung Karya Pastoral St.Paskalis Gereja Katholik Paskalis, Cempaka Putih (26/05/2018)

Dialog Sambung Rasa ini diawali oleh Sekretaris Eksekutif Komisi HAK-KWI Romo Agustinus Ulahayanan yang mengaku terinspirasi dengan Ketua MUI Kh. Ma’ruf Amin dalam hal mempertahankan Kebhinekaan dan Pancasila. Ia mengaku pertama mendengar konsep tersebut saat pertemuan dengan Dewan Pertimbangan Presiden yang juga dihadiri Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif saat itu.

Saat itulah kata Romo, ia mendengar konsep Kekitaan yang diajukan KH Ma’ruf Amin. Ia pun akhirnya mengembangkan konsep kekitaan tersebut menjadi budaya kekitaan. Dimana dalam budaya kekitaan, orang melihat, berpikir, merasa, berbicara, bertingkah, berbuat selalu dalam kaitan dengan orang lain, selalu memperhitungkan orang lain, bukan dirinya/kelompoknya saja.

“Jadi selalu dlm konteks dan spirit kebersamaan, persaudaraan dan  kesatuan dalam  kebhinekaan, selalu ada koexistensi, selalu dalam bingkai pemahaman  fraternity and unity in diversity. Dalam konteks kemajemukan atau kebhinekaan, paham kekitaan amat cocok,” kata Romo Agustinus dalam diskusi bertajuk “Sambung Rasa Anak Bangsa Lintas Agama dan Buka Puasa Bersama” yang digelar di Gedung Karya Pastoral St.Paskalis pada Sabtu (26/5/2018).

Lestarikan Budaya Kehidupan

Ia juga menjelaskan untuk bisa mengembangkan budaya kekitaan itu setidaknya ada 9 budaya yang harus dihidupkan dan dikembangkan di tengah masyarakat. Yakni kehidupan, sama sekali tidak ada budaya kematian, perusakan lingkungan kita lawan dengan budaya kehidupan pelestarian lingkungan.

Karena kita hidup bersama, maka ada budaya kemajemukan. Supaya majemuk maka perlu budaya inklusifitas, kalau tadi kita menutup diri, maka kita bongkar dinding pemisah lalu kita bangun jembatan lintas batas, maka supaya itu bisa jadi maka kita bangun budaya solidaritas.

Karena kita solider maka kita harus m embangun budayatoleransi, toleransi yang tidak hanya di kulit agar terbangun persaudaraan yang sejati.

Dengan toleransi kita bangun budaya persaudaraan, karena kita bersaudara apapun yang terjadi kita selesaikan dengan dialog dan kebersamaan.

 

Toleransi adalah memberi, bukan menuntut.

Berikut penuturan Alissa Qotrunnada Munawaroh, Putri Gus Dur dalam diskusi “Sambung Rasa Anak Bangsa Lintas Agama dan Buka Puasa Bersama” ini menceritakan sebuah kisah toleransi antara Islam dan Katolik.

Saat itu ada acara buka bersama di sebuah masjid yang lokasinya berdampingan dengan gereja, malah mereka mempunyai halaman parkir yang bisa dipakai bersamaan. Menunggu azan magrib pihak gereja juga sudah menyiapkan takjil untuk diantarkan ke masjid pas saat azan.

Setelah menunggu tidak terdengar suara azan magrib, pihak gereja lalu pergi ke masjid dan bertanya: “kenapa belum terdengar suara azan?” yang kemudian dijawab oleh pengurus masjid bahwa azan sudah dikumandangkan dari tadi. Lalu pihak gereja menanyakan lagi: “kenapa tidak terdengar?” dijawab lagi: “hal itu memang disengaja, karena kami menghormati acara yang juga tengah berlangsung di gereja, makanya azannya nggak pakai speaker”.

Alissa Wahid, demikian putri Gusdur ini sering dipanggil, lalu megatakan: “itulah yang namanya sambung rasa…” yang kemudian disambut dengan tepuk tangan hadirin.

“Nah, persoalan bangsa kita saat ini adalah adanya saling menuntut, mudah sekali bagi kita untuk menuntut orang lain memenuhi kita, harusnya sebagai minoritas tahu diri dong. (Padahal) Sebagai mayoritas kita harus mengayomi dong, bukan menindas.” lanjut Alissa.

Putri Gusdur ini mengungkapkan, awal dari bencana perpecahan masyarakat ialah ketika sifat mayoritarianisme masyarakat bertemu dengan gerakan politik.

Alissa menguraikan, “tidak dipungkiri, arus globalisasi membuat manusia semakin mudah untuk berpindah. Akibatnya perpindahan suatu kultur dengan mudah terjadi di suatu negara. Di satu sisi, hal tersebut tentunya bisa menjadi buah positif yang berarti keberagaman itu merupakan keniscayaan. Namun, di sisi lain, bisa menjadi buah negatif dimana ada perasaan keterancaman dari kelompok masyarakat tertentu”.

“Tapi ada juga perasaan terancam, merasa bagaimana kami melindungi kelompok kami, Bagaimana kalau nanti kelompok kami kalah, bagaimana kalau sebagai minoritas kami nanti ditindas, bagaimana kalau nanti kami dipinggirkan. Maka persoalannya ialah persoalan keadilan. Ini yang kemudian memunculkan reaksi balik. Yang pertama ingin menjaga kemurnian kelompok. Yang kedua, ingin berkuasa dan mendominasi karena takut dikalahkan”.

“Tuhan sudah menjamin bahwa sumber daya yang ada di dunia ini cukup untuk menghidupi penduduknya yang bermilyar-milyar, tapi tidak akan cukup memenuhi kebutuhan orang yang serakah”, lanjut Alissa.

“Begitu mental kita, mental kekurangan, selalu takut punya kita di ambil orang lain. Padahal Tuhan sudah menciptakan kelimpahan, kalau kita kelimpahan, maka yang terjadi adalah, saya punya ini maka saya juga yakin yang lain juga punya itu, kalau kita satukan maka akan semakin banyak. Saking takutnya kita kepda orang lain maka kemudian kita menjadi seperti ini.”

“Karena ketakutan inilah muncul gerakan populisme. Saat ini, populisme bukan hanya terjadi di Indonesia. Dunia sedang mengalami hal tersebut. Contohnya saja gerakan white supremacy di Amerika Serikat. Dimana golongan kulit putih menuntut haknya secara berlebihan. Tuntutan untuk menguasai kebutuhan itulah merupakan dasar dari mayoritarianisme.

“Ketika ini ketemu gerakan politik, apes. Karena namanya politik adalah konteks dapatkan kekuasaan. Jika mayoritarianisme digunakan oleh oknum-oknum politisi, maka yang terjadi ialah sentimen minoritas yang ditumbuhkan. Itulah tantangan Indonesia saat ini. Bukan hanya Indonesia tapi juga dunia.”

 

Mari kita galakkan perjumpaan

Pada kesempatan yang sama juga tampil Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, dengan diskusi bertema “Perjumpaan”. Abdul Mu’ti menjelaskan kalau orang bertemu dan berjumpa itu suatu hal yang berbeda.

Abdul menerangkan berbeda antara bertemu dan berjumpa. Perbedaan itu dapat dilihat baik secara sosiologis ataupun psikologis. Misalnya saja ia menerangkan, dua orang berbeda duduk di dalam angkutan umum. Maka hal tersebut tidak dapat dikatakan perjumpaan jika tidak terjadi interaksi lebih dalam. Sehingga perjumpaan itu bisa terjadi.

“Karena tidak ada perasaan disaat kita bersama-sama menikmati angkutan itu, perjumpaan itu baru terjadi kalau kita sama-sama mempunyai perasaan, bukan pikiran. Suasana social baru terasa kalau kita melibatkan perasaan”

Perjumpaan sendiri merupakan hal yang melibatkan perasaan, misalnya saja seperti melayat orang meninggal. Yang mengundang kita datang adalah perasaan, ada orang meninggal kok malah bahagia, itu kan nggak nyambung, nggak jumpa. Atau ada orang mengundang kita hajatan pernikahan, kita kok malah sedih, malah kita curiga. Jadi perjumpaan itu bisa terjadi kalau ada kesamaan perasaan dan pikiran pada suatu tempat pada suatu kesempatan. Jika kita kaitkan perjumpaan itu dengan Indonesia, maka Indonesia ini adalah tempat kita berada, dan Indonesia inilah tempat kita bersama-sama berjumpa menikmati udara yang sama dan menikmati keindahannya yang sama, dan disini kita mendapatkan kebahagiaan bersama.

Kalau kita bicara mengenai “kekitaan”, kuncinya adalah sering-seringlah berjumpa. Kalau kita sering berjumpa, maka banyak hal yang bisa kita lakukan dalam perjumpaan itu.

RT, RW adalah lingkungan terkecil dalam melakukan perjumpaan. Namun sering kita temui, kalau kita bertanya kepada tetangga tentang tetangga sebelahnya, seringnya jawabannya malah kurang kenal, atau “oh, ya. dia barusan saja pulang dan sudah pergi lagi” Lalu dilanjutkan. “Kita rumah bersebelahan, tapi sebenarnya tidak bertetangga,”

“Sehingga karena hal itu maka tidak heran belakangan banyak hal-hal yang membuat salah paham khususnya dalam berhubungan masyarakat antaragama. Misalnya saja yang pernah terjadi di masyarakat dan viral ialah soal penebangan pohon cemara di sebuah masjid karena dianggap cemara identik dengan Natal.”

“Hal-hal seperti itu, merupakan dampak dari minimnya perjumpaan masyarakat. Masyarakat tidak saling bertukar cerita soal keyakinannya masing-masing. Sehingga kesalahpahaman akan lebih mudah terjadi. Jika budaya perjumpaan itu kembali dihidupkan di tengah masyarakat, misalnya saja dari budaya siskamling, maka untuk hal-hal yang rumitpun masyarakat akan mudah untuk saling memahami.”

“Banyak hal yang dianggap terlalu berat, Tapi kalau kita sudah ada kedekatan personal, kita enak saja menjelaskan hal-hal yang berbeda.”

Abdul Mu’ti menjelaskan, Indonesia sendiri sebenarnya memiliki peribahasa yang dulu cukup melekat di tengah kultur masyarakat. Seperti peribahasa “alah bisa karena biasa” atau “tak kenal maka tak sayang”. “Maka sebenarnya tinggal kultur ini yang dihidupkan kembali, saya kira bangsa akan damai tanpa ada permusuhan.”

 

Silaturrahmi pembuka jalan.

Pembicara ke empat Romo Felix Supranto, menceritakan pengalamannya bagaimana silaturahmi bisa membuka jalan untuk membangun sebuah gereja di Tigaraksa, Tangerang.  Gereja akhirnya berhasil dibangun setelah adanya penolakan keras. Silaturrahmi inipun berujung pada persaudaraan dengan umat muslim sekitar.

Saat itu, Romo Felix memberanikan diri untuk menghubungi tokoh ulama setempat. Ia tidak memungkiri ditolak berkali-kali oleh tokoh ulama tersebut. Tapi akhirnya berkat kesungguhan hatinya ulama yang bernama KH Nawawi pun mempersilakannya untuk berkunjung ke kediamannya.

“Saat itu saya berdoa kepada Tuhan, semoga Tuhan menganugerahi hati yang lembut kepada saya agar dapat menyentuh hati KH Nawawi,” kisah Romo Felix.

Perjumpaan hingga Persaudaraan

Di awal perjumpaan, kata Romo, ternyata dirinya mendapatkan sambutan yang cukup ramah. Pertemuan tersebutlah yang menjadi pintu gerbang dari pertemuan-pertemuan berikutnya.

“Perjumpaan pertama timbulkan pertanyaan, perjumpaan kedua kerinduan, perjumpaan ketiga persaudaraan,” kata Romo Felix, yang kemudian disambut tepuk tangan hadirin.

Akhirnya, lanjut Romo Felix, bukan hanya mempersilakan pembangunan gereja, ulama setempat pun bahkan mengaku siap dalam mengawal pembangunan gereja. Dimana mereka berdiri di garda paling depan jika ada yang mengusik pembangunan tersebut. Bahkan Ia juga kini sudah diangkat sebagai adik KH Nawawi. Bahkan tak jarang, ia menerima hasil panen dari ulama setempat.

“Dulu haram makan bareng. Sekarang setiap ada hasil panen saya dikirimi. Pisang tanduk satu mobil box dikirim,” ceritanya.

Dari silaturahmi antartokoh agama itu, Romo Felix menjadi motor dari bergeraknya forum-forum dan kegiatan-kegiatan lintas agama di Tigaraksa. Bahkan pemuda di gerejanya aktif menjalankan kegiatan dengan para santri.

“Tenun kebhinekaan itu modalnya gampang, yakni perbanyak silaturahmi dan minum kopi.
Kurang silaturahmi dan kurang kopi yang ada miskomunikasi,” jelasnya.

 

Tulus, Bukan Sekadar Formalitas

Romo Felix juga mengingatkan pada tokoh agama yang menjadi minoritas di sebuah tempat untuk sering menghadiri acara-acara keagamaan yang diadakan oleh tokoh agama mayoritas. Misalnya saja ia sampai hari ini selalu hadir dalam acara syukuran dari penganut agama mayoritas. “Buahnya, orang Katolik tidak terasing di tengah mayoritas,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan umatnya untuk benar-benar menjalin silaturahmi dengan tulus. Bukan hanya sekadar formalitas untuk mencari simpati.

“Silaturahmi ada tahapannya. Pertama, kehadiran yang alami. Kedua, keteladanan dan ketiga pelayanan. Jangan baksos dulu tapi tidak hadir, yang ada kesalahpahaman. Terakhir, kepeloporan,”

Penampilan Romo Felix inipun diakhiri dengan terdengarnya suara azan sebagai tanda masuknya waktu magrib dan saatnya berbuka puasa.