Hokben Ramadhan Dengan Cita Rasa Istimewa

 

Berkunjung ke Karawaci, membuat kenangan saya kembali ke 25 tahun yang lalu. Saat lokasi Lippo Karawaci masih berupa tanah kosong. Kini lokasi yang dulu masih sepi itu telah dipenuhi gedung tinggi menjulang hutan beton. Di salah satu hutan beton itu, saya pun singgah. Karena diundang untuk menghadiri peluncuran produk istimewa Hokben dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

Memasuki bulan Ramadhan, HokBen kembali menghadirkan menu Bento Ramadhan, paket makanan yang lengkap, sehat, dan berkualitas. Paket khusus Ramadhan ini diluncurkan sebagai bentuk komitmen HokBen – pelopor makanan bergaya Jepang di lndonesia – untuk senantiasa memanjakan lidah pelanggan setianya. Dengan enam-pilihan paket yang terdiri dari Bento Ramadan 1 & 2 dan Bento Ramadan ABCD, kenikmatan berbuka puasa menjadi lebih lengkap.

 

 

Bento Ramadan A & C merupakan salah satu menu andalan dan favorit pelanggan HokBen yang terdiri dari Nasi, Menu Utama (Beef Yakiniku/Beef Teriyaki), Menu Goreng (Tori Ball dan Shrimp Roll), Salad, dan Tehbotol Sosro. Bento Ramadan Tokyo Bowl B & D terdiri dari Nasi, Taburan Rumput Laut, Menu Utama (Chicken Steak/Chicken Katsu Tare) dan Tehbotol Sosro.

 

 

Sementara itu, Bento Ramadan 1 & 2 terdiri dari Nasi, Salad, Menu Utama (Chicken Teriyaki), Menu Goreng (Egg Chicken Roll/Shrimp Roll), Tehbotol Sosro. Khusus untuk makan di tempat (dine in) dan dibawa pulang (take away), Bento Ramadan akan mendapatkan gratis tajil.

 

 

Dalam presentasinya di depan duapuluhan blogger, Francisca Lucky, Marketing Communications Group Head PT. Eka Bogainti (HokBen) menyatakan, “Kami sangat bersemangat untuk menghadirkan menu Bento Ramadhan bagi seluruh pelanggan setia HokBen dibulan perayaan penuh berkah ini. Kenikmatan dari enam paket menu Ramadhan lengkap dengan takjil yang dapat dinikmati para pelanggan pada waktu berbuka puasa di HokBen, telah tersedia di seluruh gerai HokBen sejak 14 Mei 2018 dengan harga mulai dari Rp.43.000,- sampai dengan Rp.55.000,- (sudah termasuk pajak).”

Apa saja isi lengkap paketnya?

  1. Bento Ramadhan 1 & 2

– Bento Ramadhan 1 (Nasi, Salad, Chicken Teriyaki, 2 pcs Egg Chicken Roll) + Tehbotol Sosro 250 ml + Tajil .»

– Bento Ramadhan 2 (Nasi, Salad, Chicken Teriyaki, 2 pcs Shrimp Roll) + Tehbotol Sosro 250 ml +Tajil

  1. Bento Ramadhan ABCD _

– Bento Ramadhan A (Nasi, Salad, Beef Yakiniku, 1 pc Tori Ball, 2 pcs Shrimp Roll) + Tehbotol Sosro 250 ml + tajil

– Bento Ramadhan B (Nasi, 1 pc Chicken Steak) + Tehbotol Sosro 250 ml + tajil

– Bento Ramadhan C (Nasi, Salad, Beef Teriyaki, 1 pc Tori Ball, 2 pcs Shrimp Roll) Tehbotol Sosro 250 ml + tajil 7

– Bento Ramadhan D (Nasi, 1 pc Chicken Katsu) + Tehbotol Sosro 250 ml + tajil

“Selain menu Bento Ramadhan, Hokben pun memberikan promo dalam setiap pembelian paket Omiyage untuk 4 orang, gratis 4 pcs Tehbotol Sosro 250 ml dan paket Omiyage untuk 6 orang, gratis 6 pcs Tehbotoi Sosro 250 ml. Berbuka puasa dengan HokBen kini menjadi Iebih hangat dan menyenangkan karena dilakukan bersama dengan teman maupun ke|uarga.” tambah Francisca.

HoCafe Keunikhan khas warung kopi ala Hokben.

Bagi anda yang sering ke Hokben di luar Karawaci, mungkin anda tidak akan menemukan fasilitas layanan baru Hokben, yaitu HoCafe. HoCafe adalah warung kopi  yang menyediakan minuman bervarian dan tidak hanya kopi. Anda juga bisa memesan coklat dalam berbagai rasa yang tersedia dalam berbagai takaran gelas, reguler, medium atau large. Kongkow bersama teman sambil ngobrol dan ngopi menikmati suasana yang nyaman, HoCafe bisa menjadi pilihan Anda.

Berbagi Keceriaan dengan 3.300 Anak Yatim dan Dhuafa di Bulan Penuh Berkah

Bersamaan dengan peluncuran paket Bento Ramadhan, beberapa hari sebelumnya, HokBen mengadakan kegiatan buka puasa bersama dengan anak yatim dan kaum dhuafa serentak di seluruh area restoran HokBen. Kegiatan berbuka puasa bersama ini melibatkan sebanyak 3.300 anak yatim dan kaum dhuafa dari 38 panti asuhan yang berada di sekitar lokasi store HokBen di wilayah Jawa dan Bali.

Francisca menjelaskan, “Keberadaan HokBen di industri ini, tentunya tidak Iepas dari peran serta para pelanggan setia dan masyarakat sekitar, yang senantiasa mendukung setiap kegiatan dan program yang kami lakukan. Sebagai bentuk rasa syukur, kami pun ingin dapat berbagi kebaikan bersama saudara-saudara kita dari beberapa panti asuhan melalui kegiatan buka puasa bersama baik di panti asuhan maupun di store HokBen di Jawa dan Ba|i.”

Kegiatan buka puasa bersama 3.300 anak yatim dan kaum dhuafa ini merupakan program tahunan Corporate Social Responsibilty (CSR) HokBen yang telah berlangsung sejak tahun Program CSR HokBen berfokus pada dua pilar utama, yakni: “HokBen Cinta Pendidikan” dan “HokBen Berbagi dengan Sesama”. Pendidikan dan Berbagi dengan Sesama dipilih karena HokBen meyakini bahwa pendidikan adalah hal penting yang dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi Iebih baik dari sebelumnya. Sementara itu, berbagi dengan sesama sejalan dengan slogan HokBen yang berbunyi ‘Share to Love’ ‘Love to Share’. Dengan dua pilar tersebut, HokBen berkomitmen untuk menjadi perusahaan yang konsisten menunjukkan tanggung jawabnya dalam membangun masyarakat sekitar.

“Pada tahun ini, HokBen berusia 33 tahun, itu sebabnya kami mengajak 3.300 anak panti yatim dan dhuafa untuk berbuka puasa bersama. Kami bekerjasama dengan 38 panti asuhan dan akan Iebih banyak meiakukan kegiatan buka bersama di store. Kami pun tidak hanya berfokus pada anak-anak yatim saja, tetapi juga memperluas program CSR ini dengan menjangkau kaum dhuafa yang tinggai di sekitar iokasi gerai HokBen di wilayah Jawa dan Bali,” tutup Francisca.

Kegiatan buka bersama anak yatim dan kaum dhuafa ini dikemas dengan menyenangkan dan terdapat berbagai games menarik dan juga teduh dengan adanya kultum (kuliah tujuh menit) yang diberikan oleh ustadz setempat. Setiap anak yang diundang, diberikan Kesempatan untuk merasakan Menu Bento Ramadhan dan mendapatkan santunan-serta bingkisan, disamping itu juga dilakukan pemberian sumbangan sembako untuk sejumiah panti asuhan yang dikunjungi.

Mengenai lebih jauh sejarah Hokben.

HokBen adalah nama baru Hoka Hoka Bento, restoran siap saji bergaya Jepang pertama dan terbesar di Indonesia. Didirikan di Jakarta pada 18 April 1985 di bawah PT Eka Bogainti. HokBen yang memiliki Sertifikat Halal no. 00160048830908 dari MUI dan Sertifikat Sistem Jaminan Halal untuk masa 4 tahun, telah tumbuh dan berkembang hingga memiliki lebih dari 145 gerai (data per akhir Desember 2017) di Pulau Jawa dan Bali. Saat ini restoran HokBen tersebar di Jabodetabek, Serang, Cilegon, Karawang, Banten, Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang dan Bali.

Layanan HokBen terdiri dari makan di tempat (Dine-in), pesanan dibawa pulang (Take Away), HokBen Delivery melalui 1 500 505 atau melalui pesan online di www.hokben.co.id, dan HokBen Apps yang tersedia di Google Playstore & Apple Store, pesanan melalui kendaraan lewat (Dn’ve Thru), acara ulang tahun (Birthday Party), serta pesanan dalam jumlah besar (Large Order).

Di usia memasuki ke-33 tahun, HokBen tetap berkomitmen untuk selalu memberikan produk dan layanan dengan kualitas terbalk kepada pelanggan setianya di Indonesia. HokBen juga berkomitmenmemberikankontribusi dalam membantu masyarakat yang membutuhkan melalui program tanggung jawab sosial dibidang pendidikan dan kepedulian terhadap sesama.

Hokben dengan program CSR-nya

Program CSR (Corporate Social Responsibility) HokBen sudah dimulai sejak tahun 2001, dengan berlandaskan dua pilar utama yakni (1) Hokben Cinta Pendidikan dan (2) Hokben Berbagi dengan Sesama. Selama 17 tahun program CSR berjalan, HokBen fokus pada dukungan pendidikan untuk anak — anak kurang beruntung dan yang memiliki prestasi baik. Dukungan ini diberikan dalam bentuk program yang menyasar kepada Anak Didik, Pendidik dan juga Infrastruktur Pendidikan.

Seiring dengan 17  tahun perjalanan program CSR HokBen, beberapa program kegiatan yang telah kami lakukan antara lain berupa Pemberian Bantuan Pendidikan kepada Iebih dari 4.000 anak (Orangtua Asuh, Beasiswa Prestasi Anak Petani Vendor, Beasiswa Prestasi untuk Anak Karyawan, Beasiswa Kejar Paket C, Beasiswa Lingkungan Store), Renovasi Sekolah, Seminar

Motivasi Pendidikan untuk para guru juga bantuan buku perpustakaan. Kegiatan Donor Darah juga sudah berjalan selama 9 tahun yang dilakukan secara rutin 2 kali dalam setahun. Share to Love, Love to Share with HokBen.

 

Di akhir acara, saya sempat menyerahkan novel saya “Seorang Balita Di Tengah Pergolakan PRRI” kepada Kartina Mangisi, Communication Divison Head, PT Eka Bogainti, sebagai kenang-kenangan.

 

 

 

Semaraknya Pesta Ulang Tahun Cilegon

Kostum Dayak yang dimodifikasi. (foto:TS)

Cilegon yang terkenal karena industri baja dengan Kratau Steel sebagai Icon juga sebagai perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara dan kemudian disusul dengan beberapa pabrik bahan kimia, 27 April lalu berulang tahun. Ulang tahun ke-19 yang diperingati dengan puncaknya pada malam Minggu 28 April lalu dengan acara bertema Cilegon Ethnic Carnival. Karnaval yang menampilkan berbagai macam etnis dan budaya, mulai dari tuan rumah beserta para perantau yang berasal dari berbagai daerah Indonesia yang berada di Propinsi ujung barat Pulau Jawa itu.

Bulan belum sempurna menerangi langit Cilegon selepas Isya malam itu, namun cahaya lampu sepanjang jalan Sudirman telah datang mengalahkannya, hingga akhirnya dia bersembunyi di balik awan. Jalan Sudirman yang terang benderang itu mulai dipadati warga yang datang berkunjung, untuk menyaksikan pesta ulang tahun kota mereka tercinta. Tenda sepanjang 250 meter di kiri-kanan jalan, menunjukkan, di sanalah puncak acara itu bermula.

Dok.pribadi

Panggung Utama yang membentang selebar jalan Sudirman, diapit Gedung DPRD dan Kantor Walikota Cilegon, bermandikan cahaya aneka warna lampu sorot dari berbagai sudut. Beralasan karpet dan berlatar belakang putih dengan teks tema acara malam itu; Cilegon Ethnic Carnival di bagian atas,  dan sub tema, Ethnic Multi Cultural in Harmony. di bagian bawah. Sub tema ini dipakai sebagai penjelmaan bahwa semua kultur dan etnis di tanah air hidup harmonis di Bumi Baja Cilegon. Dari Betawi, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Dayak, Bali, Papua, Ambon, Lampung, Aceh hingga Padang yang terkenal dengan bisnis kuliner rumah makannya.

Dok.pribadi

Di sisi lain panggung utama yang berjarak hanya beberapa meter dan memanjang sejajar jalan Sudirman, terdapat pula panggung khusus tempat duduk para pejabat, mulai dari tingkat kecamatan, Kotamadya, propinsi hingga tingkat nasional, sipil maupun militer. Diantara yang hadir telihat dari Kodim, Polres dan DPRD.

Juga hadir  Perwakilan Kementrian Pariwisata Asisten Deputi Bidang Pemasaran Regional 2, Ni Komang Ayu Asiti, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati, unsur Forkominda, Pelaksana Tugas Walikota Cilegon, Edi Ariadi, Sekretaris Daerah, Sari Suryati, Kepala Dinas Pariwisata Cilegon, Hari Mardiana, juga beberapa wisatawan Belanda, Pejabat Eselon II,III,IV dan tamu undangan lainnya.

Dok.pribadi

Selepas acara seremonial, dari pengeras suara terdengar lantang suara pemandu acara bahwa karnaval segera dimulai:

“Inilah peserta dari paguyuban Jakarta di Cilegon Ethnic Carnival 2018 …!”

Dari sudut kanan panggung terlihat kemerlip kunang-kunang beraneka warna mendekati panggung dan lalu menaikinya. Membentuk tak ubahnya puteri bersayap, ketika bergerak. Mengikuti music:

Nyok kita main ondel-ondel …!

Dok.pribadi

Musik yang menghentak mampu menggoyangkan kaki bahkan seluruh tubuh. Mengiringi sang wanita cantik berjalan, berputar dan menjelajahi panggung setinggi satu meter. Berdiri sejenak di tengah panggung, menatap lurus ke depan, arah timur, di mana Tugu Cilegon berdiri dengan gagahnya, selanjutnya sang putri menuju sisi lain panggung. Sepatu dengan hak setinggi sepuluh centimeter, membuatnya harus ekstra hati-hati menuruni tangga kecil di pinggir panggung, untuk kembali ke jalan melanjutkan karnaval yang berakhir di rumah dinas walikota.

Dok.pribadi

Selanjutnya menyusul satu persatu naik ke panggung utama para peserta yang berasal dari berbagai daerah. Diiringi dengan musik pengiring dari daerah masing-masing serta ulasan dari pembawa acara, mereka menampilkan busana pakaian adat ataupun tradisi budaya dari daerah mereka masing-masing baik yang tradisional maupun yang modifikasi.

Malah busana modifikasi baik yang tradisional maupun yang modern yang bentuk dan ukurannya juga luarbiasa, begitu tampil meriah beraneka warna memikat mata para pengunjung.  Tak kurang Para pendekar Samurai pun ikut berpartisipasi, tidak usah ditanya apakah mereka dari Jepang atau bukan, namun kehadiran mereka ikut menghibur para penonton, dewasa maupun anak-anak.

Dok.pribadi

Bukan hanya busana, beberapa daerah malah ikut menampilkan kesenian serta tradisi budaya dari daerah masing-masing, seperti Reog dari Ponorogo, Kereta Kencana dari Jawa Barat, Tabuik yang diiringi dengan Tari Galombang yang hanya bisa disaksikan sekali setahun di pantai Pariaman, Sumatera Barat.

Dok.pribadi

Antusiasnya warga Cilegon menyambut pesta karnaval ulang tahun kotanya, terlihat saat para peserta karnaval melewati mereka. Warga yang menonton karnaval, tanpa sungkan berteriak memanggil para peserta untuk berhenti sejenak untuk diabadikan dengan kamera handphone canggih mereka. Bahkan diantaranya tak segan-segan masuk ke tengah barisan karnaval untuk berselfie ria dengan peserta yang mereka sukai.

Dok.pribadi

Merasa kehadiran mereka mendapatkan sambutan yang meriah, para peserta karnaval pun tak merasa enak untuk menolak permintaan para penonton yang bersemangat itu, maka dengan senyum yang tak lepas dari bibir mereka, jadilah selfie itu menjadi pelayanan wajib mereka untuk dokumentasi dan kenangan indah bagi para penggemar mereka di sepanjang perjalanan karnaval.

Bisa dibayangkan, perjalanan yang lumayan jauh dari panggung utama menuju rumah dinas walikota yang juga berhadapan dengan masjid Agung Cilegon. Dengan beban kostum yang lumayan berat menempel di tubuhnya, namun tidak boleh memperlihatkan kelelahan yang mereka rasakan dengan senantiasa menebarkan senyum yang mengembang sepanjang perjalanan.

Dok.pribadi

Melihat antusiasme warga Cilegon dalam menyambut pesta ulang tahun kotanya, sudah selayaknya hal ini menjadi perhatian Pemda Cilegon maupun Pemda Banten, begitu juga dinas pariwisata daerah untuk menjadikan Cilegon Ethnic Carnival ini menjadi kalender tahunan. Kita sudah melihat contoh bagaimana acara tahunan Jember Fashion Carnaval yang telah mendunia dan menjadi objek wisata dan mendatangkan turis mancanegara setiap tahun, dan warga Jember pun ikut kecipratan hasil dari acara ini. Bahkan sebagian peserta Cilegon Ethnic Carnival juga mendapat inspirasi dari JFC dalam desain tata busana penampilan mereka. Semoga

Wahana baru Alun-alun Cilegon

Dalam menyambut ulang tahun kotanya ini, warga Cilegon tidak hanya menyaksikan karnaval di malam Minggu 28 April. Malah sehari sebelumnya mereka juga mendapatkan hadiah istimewa dari pemda mereka, yaitu, Alun-alun Kota Cilegon. Gagasan  yang terinspirasi dari Walikota H. Iman Ariyadi, kini menjadi daerah tujuan wisata baru bagi warga Cilegon, diresmikan Jumat (2/5) sebagai ruang publik bagi warga untuk berbagai aktifitas. Disini terdapat air mancur yang tiap Sabtu dan Minggu, dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, diaktifkan. Diperindah dengan sorotan cahaya lampu aneka warna, sehingga semakin indah terlihat dalam kegelapan malam.

Air Mancur di malam hari. Foto: Kang Nasir Rosyid

Kolam Air mancur di siamh hari Foto: Isson Khairul

Ada pula arena untuk berolahraga serta track untuk jogging. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh atas asupan makanan, juga terdapat kawasan kuliner, dengan beragam makanan dan minuman yang siap memanjakan selera, yang diisi oleh para pelaku UKM bidang kuliner . Taman Kota seluas 3 hektar tersebut, menjadi pusat aktivitas warga, untuk berolahraga, berkesenian, dan berekreasi. Bagi yang ingin mencari cinderamata, hasil karya kerajinan tangan para pekerja seni, juga bisa kita dapatkan di sana.

Alun-alun yang luas untuk berbagai kegiatan. Foto: Isson Khairul

Jogging track sebelah kanan dan Arena kuliner sebelah kiri/ Foto: Isson Khairul

Arena promosi, kios kuliner serta cendramata hasil kerajinan warga sekitar Foto: Isson Khairul.

Demo masak bersama chef profesional yang disaksikan langsung oleh para pengunjung. Foto: Isson Khairul.

Foto: Kolaborasi antara Thamrin Sonata, Isson Khairul dan Kang Nasir Rosyid.

Green Pramuka Square Gelar Acara Ansor Fair 2018

Ulang tahun ke 84 GP Ansor diperingati cukup meriah di Jakarta. Acara yang berlangsung selama tiga hari sejak tanggal 22 hingga 24 April itu di gelar di Green Pramuka Square, Jakarta. Tema yang diusung kali ini adalah “Hubbul Wathan Minal Iman” atau lebih familiar dengan terjemahan: Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.

Rangkaian kegiatan yang didukung oleh manajemen Green Pramuka Square dengan menyediakan atrium utama mereka di lantai dasar mall untuk menampung kegiatan Ansor Fair yang diantaranya pameran produksi hasil karya anak bangsa dari 34 propinsi di Indonesia.

 

“Kami melihat kegiatan ini sangat bersifat positif dalam mendorong semangat kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat dalam menuju ekonomi yang berkelanjutan” ujar Liza Monalisa, GM Green Pairmuka Square. “Makanya Green Pramuka Square sangat mengapresiasi Ansor Fair 2018 yang diadakan oleh GP Ansor ini” lanjutnya.

Selain pameran produksi UMKM yang diikuti 34 perwakilan dari 34 propinsi dengan menampilkan sekitar 80 produk itu, juga berlangsung Job Fair yang bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja, Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jakarta Timur. Juga diskusi bisnis dengan para pengusaha inspiratif dan panggung hiburan yang menampilkan Giring, Institut Musik Jalanan dan Syaiban Gambus.

Ansor Fair 2018 diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Drs. Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga. Begitu juga saat dilaksanakannya acara Job Fair pada hari kedua, juga dihadiri oleh Menteri Yenaga Kerja, Hanif Dhakiri.

 

Salah satu produk yang ditampilkan di Ansor Fair 2018

 

“Ansor Fair 2018 merupakan implementasi dari tujuan GP Ansor yang ingin mengembangkan potensi ekonomi kader dan pemuda baik secara individu maupun kelembagaan, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.” Ujar Ketum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

Green Pramuka Square, pusat perbelanjaan yang berlokasi dikawasan Super Blok Green Pramuka City. Mal dengan konsep Lifestyle Malla di Jakarta ini mulai beroperasi Desember 2016 dengan luas 37.000 meter persegi.

Green Pramuka Square dengan empat lantai, dengan lokasi strategis dan mudah dijangkaukarena berada di sudut pertemuan jalan Pramuka dan jalan Ahmad Yani yang dikenal dengan interchange Rawamangun dengan akses yang mudah juga ke jalan tol Ir Wiyoto Wiyono ruas Cawang Tanjung priuk. Sehingga mudah diakses dari manapun.

Produk UKM Asli Indonesia Akan Menyerbu Dunia

 

Sebuah pameran bertajuk Telkom Craft Indonesia, digelar di Balai Sidang Jakarta dari tanggal 22 hingga 25 Maret lalu. Pameran dengan penonjolan pada produk “Asli Indonesia” itu diikuti oleh sekitar 400 peserta UKM ASLI INDONESIA binaan Telkom Indonesia bersama Blanja.com. Semua produk yang dipamerkan di sini pun dapat dibeli di toko online BLANJA.COM, dan pembayarannya bisa dilakukan dengan uang elektronik TCASH.

Berbagai produk Asli Indonesia hasil karya kerajinan tangan anak bangsa yang sudah mendunia maupun yang baru muncul, dapat ditemukan disini. Hasil karya kerajinan tangan dari bahan tekstil, kayu, kulit, serta produk kuliner makanan olahan rumah tangga, begitu juga produk kesehatan dan obat tradisional dan sebagainya, tampil begitu semarak dan menarik perhatian sekaligus menimbulkan rasa bangga dengan segala kreatifitas yang diperlihatkan para pengrajin Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Diantara produk yang menonjol itu adalah batik yang sudah mendapat pengakuan badan dunia UNESCO sebagai produk Asli Indonesia, begitu juga Rendang produk hasil karya kuliner yang rasanya cocok dan bisa diterima oleh perut seluruh bangsa manapun, dan diakui sebagai makanan paling enak di dunia.

Kita tentu juga ingin tahu, siapa saja diantara pengrajin dan inovator yang hebat itu. Bersama BLANJA.COM yang diwakili langsung oleh CEO Aulia Ersyah Marinto, menampilkan dua orang inovator sebagai nara sumber dalam talkshow yang digelar 24 Maret lalu. Keduanya yaitu, Yuka dengan produk olahan kulit berupa sepatu dengan merek Brodo dan Mamo juga dengan produk berbahan baku kulit dalam bentuk tas dengan merek Salawase.

 

Sepatu Brodo

Yuka terjun ke dunia industri sepatu ini karena kegalauannya setiap hendak membeli sepatu, dia selalu kesulitan mencari sepatu yang sesuai dengan ukuran kakinya yang berukuran 46, sehingga adakalanya dia harus pergi ke luar negeri hanya untuk membeli sepatu yang cocok dengan kakinya yang memang di luar ukuran umum mayoritas kaki  orang Indonesia.

 

Foto: www.mldspot.com

 

Kebalikan dari kebiasaan umumnya orang berdagang, diawal produksi Yuka memasarkan produknya bukan dengan membuka toko, tapi memasarkannya secara online di media sosial. Hal ini dilakukan untuk menyasar dan mengetahui pangsa pasar secara lebih mudah dengan biaya yang lebih murah dan tanpa modal yang cukup besar, dibanding langsung memproduksi secara masal dan dipasarkan lewat toko.

Setelah mendapatkan respon yang cukup baik dari pasar, baru Yuka berani membuka toko offline, itu juga berawal dengan memanfaatkan tempat kosnya Yuka di Tubagus Ismail, Bandung. Bila akhir pekan banyak yang datang untuk membeli dan mencoba sepatunya, ruang tamu kosnya menjadi ramai sehingga sempat dimarahi ibu kos. Kemarahan ibu kosnya ditanggapi positif dan dijadikan cambuk sekaligus inspirasi oleh Yuka, bahwa sudah saatnya dia harus membuka toko offline. Sejak itulah Yuka mulai membuka outlet bagi para pembeli sepatunya. Menyiasati keterbatasan modal, Yuka bukannya membuka toko di mall atau pasar, tapi memanfaatkan teman-temannya yang bertebaran di berbagai daerah sebagai reseller, sehingga penyebaran sepatu produksinya merata tanpa harus mengeluarkan modal yang besar untuk menyewa toko atau kios.

 

Tas Salawase

Berbeda dengan Yuka, Mamo memulai usaha tasnya awal 2014, terinspirasi dari istrinya yang suka mengoleksi kain-kain dari seluruh Indonesia, seperti Medan, Bugis dan Maumere dan tentu juga batik dari Solo. Mamo yang tadinya hanya menjual kain mulai berinovasi membuat tas. Kendala utama dalam memproduksi tas buatannya adalah masalah tukang jahit kulit yang berpengalaman di Solo. Setelah mengalami try and error, Mamo lalu mencari ke Yogya dan menemukan tukang jahit kulit yang diinginkannya untuk memproduksi desain yang dibuatnya.

 

Foto:http://www.beritasurabaya.net

 

Setahun berjalan Mamo merasa kurang puas dengan sistem yang dijalaninya, karena jauhnya jarak antara tukang jahit yang memproduksi hasil karyanya dan Mamo sebagai desainer, sehingga sulit dalam monitoring quality control.  Untuk mengatasi hal tersebut, Mamo lalu mengirim salah satu anggota keluarganya yang sudah punya basic sebagai tukang jahit dan mengirimnya ke Bandung untuk mengikuti training mengolah kulit sampai bisa selama satu tahun. Sejak kembalinya tukang jahitnya dari training, maka semua proses produksi tas mulai dari desain hingga penjualan, semuanya dikerjakan di Solo.

Awal 2016 mulailah Mamo dengan produk berlabel Salawase memasuki pasar dengan lebih intens dan dengan produk yang kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

 

Melawan kemudharatan dengan memanfaatkan sumber daya alam dengan benar.

Berangkat dari kegalauan pada penyalah gunaan aren yang terjadi di seputar lingkungan, maupun beberapa tempat lain di Sumatera Barat yang terkenal dengan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah itu. Dimana air aren yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan dan kemakmuran rakyat, malah diproduksi untuk merusak sendi kehidupan mereka dengan menjadikannya air tuak yang memabukkan.

Kegalauan ini mempengaruhi aktifitas Effendi Muharram yang sehari-harinya adalah pemilik dan kepala sekolah  SDIT Marhamah di Solok Selatan. Bagaimana tidak, di sekolah yang berlatar belakang agama itu mereka mengajarkan sendi kehidupan yang ditopang oleh agama dengan segala ajaran dan konsekwensinya, sementara di lingkungan mereka sendiri mereka melihat suatu hal yang bertolak belakang, yang bila dibiarkan terus sudah pasti lama kelamaan juga akan mempengaruhi diri mereka sendiri dan tentu juga pemahaman agamanya.

 

Foto : Minang Palm Sugar

 

Rupanya Tuhan mendengar kegalauan hati sang kepala sekolah ini, lalu memberikan jalan keluarnya. Hal itu berawal ketika dia kedatangan tamu dari Jawa Barat yang kemudian memperkenalkan diri dengan nama Rahardja, datang ke tempatnya di Solok Selatan. Saat berkunjung dan mengobrol itu diketahuilah kalau teman ini adalah seorang praktisi Aren di daerah asalnya Tanah Pasundan. Teman ini pindah karena mengikuti istrinya yang pindah tugas ke Sumatera Barat. Hal lain yang menyebabkan teman ini pindah adalah karena dia kalah bersaing dalam bisnis gula aren  dengan mereka yang bermodal besar di pulau Jawa ini, 8 tahun lalu.

Gayung bersambut, dua orang yang berlatar belakang berbeda ini menemukan kecocokan dan visi yang sama. Maka sejak itu mulailah mereka berkeliling di seputar Solok Selatan, dan nagari pertama yang mereka masuki adalah Pakan Rabaa Utara, yang berbatasan dengan nagari Surian. Sepanjang perjalanan mereka, keduanya melihat di pinggir jalan dan juga di ladang penduduk, terlihat banyaknya pohon aren yang tumbuh dan telah berbuah.

Mendapatkan teman yang sudah berpengalaman, Effendi yang berlatar belakang sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau, mulai lebih serius dalam menjalankan rencananya, mengalihkan kebiasaan buruk lingkungan sekitarnya dan mengajak para pemilik kebun pohon aren itu untuk berusaha ke arah yang lebih baik dan berkah, sekaligus membangkitkan perekonomian mereka yang masih jauh dari terencana dan terarah.

Selain memanfaatkan pohon Aren milik penduduk setempat, untuk mendapatkan pasokan yang lebih besar dan teratur Effendi pergi ke Payakumbuh dan seputar Kabupaten 50 Kota, setelah mendapatkan informasi bahwa di sana aren sudah dibudidayakan dalam satu perkebunan yang cukup luas. Benar saja, saat sampai di sana dia mendapatkan perkebunan aren yang telah tertata lumayan baik, luas dan siap panen. Tidak seperti di Solok Selatan yang dibiarkan tumbuh liar dan hidup secara alami tanpa ada sentuhan perawatan dan pemeliharaan serta pengembangan oleh tangan pemiliknya.

 

Foto: Minang Palm Sugar

 

 

4 Isyu utama perhatian Effendi dalam mengembangkan bisnis aren

  1. Sosial dan keagamaan
  2. Pelestarian lingkungan
  3. Kesehatan
  4. Pemberdayaan ekonomi rakyat

 

Ada 4 isyu yang menjadi perhatian Effendi, suami dari Dr. Desy Afriyanti yang bertugas di Puskesmas Balun, Pakan Rabaa, Solok Selatan, dalam melaksanakan rencananya dan membangkitkan semangatnya, sehingga dia berani mengambil keputusan menyerahkan pengelolaan SDIT binaannya kepada teman-teman seperjuangannya di sana, hal ini juga karena dia sudah menyiapkan sistem yang terancang baik untuk pengelolaan sekolah tersebut.

Setelah lepas dari kewajiban rutinitas mengurus sekolah, dengan penuh semangat Effendi kembali ke Payakumbuh. Melakukan pendekatan kepada para pemilik kebun aren dan membicarakan hal-hal yang bersangkutan dengan kerjasama pemanfaatan aren untuk industri yang mulai dirintisnya.

“Karena, saya lihat di Payakumbuh tidak semua aren itu dibuat jadi gula. Setiap pagi dan sore saya melihat ada mobil bak terbuka yang membawa dirigen besar menampung hasil produksi penduduk. Air Aren ini lalu mereka bawa untuk di produksi jadi tuak, lalu disebar ke kota-kota besar di Sumatera Barat, seperti Padang Panjang dan Padang dan kota lainnya. Sementara yang menyadap aren ini ada juga yang terdiri dari guru ngaji dan imam masjid. Sewaktu saya datang dan ngobrol, menjelaskan untuk apa hasil pohon aren yang mereka hasilkan oleh para pelanggan mereka itu, mata mereka berkaca-kaca, membayangkan hasil ladang mereka dibuat jadi barang haram yang diedarkan dan tanpa sadar juga malah ada yang dikonsumsi oleh anggota keluarga mereka sendiri untuk bermabuk-mabukan. Sadar akan hal itu, sebagian dari petani aren itu ada yang memeluk saya”

Setelah penjelasannya tentang kemudharatan air aren yang mereka jual kepada pengumpul itu, mulailah Effendi menyampaikan rencananya untuk bergerak di bidang industri aren dan membuat produk yang halal, sehingga jerih payah para petani itu tidak disalah gunakan untuk membuat produk haram yang akan merusak sendi keagamaan masyarakat Minang. Apalagi potensi aren ini di Sumatera Barat luar biasa banyaknya. Inilah isyu pertama yang diangkat oleh Effendi, yaitu Sosial Keagamaan.

Foto: Minang Palm Sugar

Kembali dari Payakumbuh dengan semangat yang semakin berkobar, Effendi lalu membentuk kelompok Unit Pelayanan Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian atau UP3HP di Muara Labuh. Dia lalu melakukan survey dan mengumpulkan data warga yang punya keahlian kuliner. Selanjutnya dia juga melakukan penghitungan berapa jumlah pohon aren yang ada di 3 kecamatan di Muara Labuh, yaitu Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Sungai Pagu dan Alam Pauah Duo. Dari hasil surveynya ini Efendi menemukan 3103 pohon Aren.

Aren ini termasuk dalam produk HHBK atau Hasil Hutan Bukan Kayu. Dengan digerakkannya warga pemilik pohon aren dalam memelihara kelestarian dan kesinambungan pertumbuhan pohon aren mereka, karena daerah ini juga rawan bencana, dan juga lingkungan di sekitar kebun agar pohon arennya bisa berproduksi dengan baik, dengan sendirinya mereka juga telah melaksanakan Pelestarian Lingkungan.

Jadi dari aren ini kita bisa mengajak orang berbahagia untuk melestarikan hutan. Karena aren ini ”manis”maka banyak hal yang bisa kita dapatkan dari aren ini.” demikian Effendi menambahkan.

Bagaimana “manisnya” produk yang dihasilkan oleh pohon aren ini banyak yg belum tahu. Aren ini banyak manfaatnya, setidaknya ada 65 manfaat dari pohon ini. Sebagian bisa kita lihat dari data di bawah ini:

  • Pohon aren bisa menghasilkan bensin dan solar, pertama itu. Ini sekaligus bisa menjawab krisis energi bangsa ini. Pohon aren menghasilkan gula yang kemudian dikonversi menjadi bio etanol.
  • Selain itu pohon aren juga menghasilkan sagu, kolang-kaling, umbut, madu (dari bunganya) serta ijuk. Ijuk ini sudah digunakan untuk jok-jok mobil mewah di Eropa. Kayunya juga bisa dimanfaatkan dan sangat kuat dan tahan lama.
  • Gula aren juga dinyatakan lebih sehat ketimbang gula putih dari tebu, sudah dikenal sebagai gula diabetes, bisa juga sebagai ingridien obat asma.
  • Di Tomohon, Sulawesi Utara, punya 6 batang Aren sudah bisa buat modal membina rumah tangga, sebagai mas kawin bagi calon mempelai.

Jadi hasil produksi aren ini, langsung atau tidak langsung juga ikut menunjang program pemerintah dibidang Kesehatan.

Apa yang dilakukan Effendi dan teamnya ini, mendapat apresiasi yang luarbiasa dari Pemda Kabupaten Solok Selatan, kepala dinas dan asisten II Bupati. Karena Pemda sendiri tidak mempunyai data seperti yang dimiliki oleh Effendi ini. Agar apa yang telah dilakukannya tidak berhenti sampai disana, Effendi putar otak lagi bagaimana caranya mengolah potensi yang ada di depan mata itu. Beruntungnya Effendi sudah punya mitra yang sudah berpengalaman pada diri Rahardja. Merekapun lalu melakukan simulasi hingga Effendi dan teamnya menguasai apa yang akan mereka lakukan dengan potensi yang ada itu. Karena aren ini juga perlu perlakuan khusus dalam proses produksi dan pemetikan hasil produksinya oleh para petani.

 

 

Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Di Solok Selatan itu SDMnya lumayan banyak, hanya saja belum terlatih. Maka Effendi  dan teamnya pun melakukan pelatihan terhadap mereka yang berminat dalam budi daya aren ini, hingga akhirnya mereka bisa dan menguasainya. Melihat perkembangan yang memnggembirakan ini, agar apa yang dilakukannya ini punya landasan hukum, maka Effendi bersama dengan teman-teman berpatungan, lalu mendirikan sebuah perusahaan berbadan hukum dengan nama CV Minang Palm Sugar. Dengan resminya mereka punya badan usaha dan juga berproduksi, merekapun kemudian dilirik oleh Telkom dan menjadikan mereka sebagai UKM mitra binaan.

Effendi Muharram bersama sang istri dr. Desy Afriyanti

Setelah resmi berbadan hukum, perusahaanpun berproduksi lebih intensif. Produk pertama yang mereka buat adalah gula aren batangan berbentuk silinder, dengan bahan cetakan tradisional dari pohon bambu. Selanjutnya mereka mengembangkan produk brown sugar yang dikemas dalam sachet. Disamping melepas ke pasar tradisional maupun pasar modern dalam hal ini mini market, brown sugar ini juga dipersiapkan untuk masuk dan diterima oleh hotel-hotel yang ada di Sumatera Barat. Produk terbaru mereka yaitu kombinasi bandrek dan bajigur yang kemudian diplesetkan menjadi nama produk Bandrek Gurr dengan bahan baku gula aren dan jahe serta rempah-rempah yang juga tumbuh disekitar kebun aren rakyat. Sesuai namanya, Bandrek Gurr ini dipersiapkan sebagai minuman penghangat di malam hari atau di saat cuaca dingin.

Kehadiran Minang Palm Sugar inipun mendapatkan sambutan yang cukup baik di tengah masyarakat dan pemerintah daerah Sumatera Barat. Sebagai bentuk dukungan terhadap usaha ini, mereka pun dibawa berpromosi ke London, Inggris, oleh Pemda Sumbar. Di London mereka mendapat kesempatan melakukan pameran dan promosi dagang.

Harapan kita terhadap apa yang sudah dilakukan oleh para pengusaha UKM ASLI INDONESIA ini adalah, agar mereka semakin membesar dan produk mereka menyebar menyerbu ke seluruh dunia, dan secara bertahap rakyatpun bangkit dan lepas dari kemiskinan. Semoga.

Blogger peliput TelkomCraftIndonesia2018 berfoto bersama di booth Blanja.com

 

Saya Pernah Jadi “Tukang Cebok”

Foto: Sari Bundo

 

Mayoritas kita pasti tahu apa arti kata “cebok”, yaitu mencuci (maaf) selangkangan kita dan sekitarnya setelah buang air besar atau buang air kecil.

Namun bagi masyarakat Minang, cebok juga bisa bermakna lebih luas namun masih tetap berarti sebagai pekerjaan bersih-bersih. Seperti halnya yang sering disebut oleh para pekerja rumah makan Padang, di sana ada yang namanya “tukang cebok”. Tukang cebok ini boleh dikatakan bagian pekerjaan yang paling rendah nilainya dari struktur atau  hierarki pekerjaan di Rumah Makan atau Restoran Padang.

Tukang cebok di Rumah Makan atau Restoran Padang yaitu petugas yang pekerjaannya sebagai pencuci piring kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan yang sudah selesai makan. Pekerja atau karyawan yang bekerja khusus sebagai tukang cebok ini umumnya ada di rumah makan atau restoran besar dan ramai pengunjung. Ruang geraknya memang hanya sebatas tempat cucian piring, sendok, gelas dan sebagainya.

 

Foto: SmartBisnis

 

Di Restoran atau Rumah Makan Padang ini struktur karyawan ini boleh dikatakan lengkap. Mulai dari tukang sanduak yang kerjanya hanya menyendok lauk pauk dan nasi ke piring yang kemudian disambung oleh tukang tatiang atau tukang hidang yang menghidangkan makanan ke meja dimana pelanggan duduk, yang sering terlihat kalau mengangkat piring makanan bertumpuk tersusun rapi di tangan kiri hingga belasan buah, ditambah lagi di tangan kanan beberapa buah piring nasi.

Struktur karyawan yang lengkap ini tidak akan ditemukan di Rumah Makan Padang kecil  yang semua pekerjaan ditangani oleh hanya 2 atau 3 orang yang bekerja serabutan, semua bisa jadi tukang sanduak dan tukang hidang sekaligus juga sebagai tukang cebok.  Lalu kapan saya pernah jadi tukang cebok?

Hehe… ini saya alami saat di Payakumbuh dan Padang tahun 70an silam. Di Payakumbuh jadi tukang cebok penjual cendol dan es tebak, kemudian kerja di bopet atau restoran kecil penjual soto dan gado-gado. Di Padang jadi tukang cebok warung nasi kaki lima di Jalan Pasar Baru dekat simpang Masjid Rawang. Berapa gajinya? Nggak usah ditanya, yang penting bisa makan gratis… hehehe