BCC BloggerDay di Hotel Ashley Jakarta


 

 

Sering saya menghadiri suatu acara, baik di gedung pertemuan umum, lapangan terbuka atau di sebuah hotel berbintang. Dari semua tempat acara tersebut, hotel berbintanglah yang membuat saya sering tidak nyaman. Sebagai seorang blogger yang senantiasa terhubung dengan dunia maya, tentu saja saya tidak ingin sesaatpun terputus atau terhalang untuk memasuki dunia yang sebenarnya tanpa batas tersebut. Tapi yang sering saya temui bila memasuki hotel berbintang justru adanya batasan bagi saya untuk senantiasa terhubung dengan dunia yang saya geluti. Saya hanya bisa berselancar dengan baik bila saya masih berada di ruang terbuka seperti di halaman atau di teras hotel. Tapi begitu saya masuk ke dalam ruangan dimana acara berlangsung, dengan terpaksa saya juga harus mengucapkan selamat berpisah dengan dunia saya yang telah saya arungi hamper 10 tahun belakangan ini. Ada sih fasilitas wifi yang disediakan, tapi saya harus rajin bertanya dulu kalimat sakti yang membolehkan saya masuk ke dunia maya itu, tapi sering malah kalau kalimat sakti yang kadang hanya terdiri dari satu kata atau kombinasi huruf dan angka tersebut alangkah sulit mendapatkannya, seakan saya adalah pengemis kotor yang tak layak masuk hotel untuk mendapatkan kalimat sakti tersebut.

 

Foto: Ashley Hotel

Tapi nampaknya tak semua hotel berbintang menerapkan hal seperti yang saya ceritakan di atas, dan ini baru saya temui pada sebuah hotel yang berlokasi di pusat kota Jakarta ini. Ashley Hotel Jakarta, demikian nama hotel berbintang 4 ini. Walau hanya masuk dalam kategori bintang empat, namun hotel ini memiliki fasilitas hotel bintang 5. Bahkan dalam urusan hubungan dengan dunia maya, kita tak membutuhkan kalimat sakti yang kadang menjengkelkan itu untuk memasukinya. Karena, begitu kita memasuki halaman hotel ini, sapaan  pertama yang kita dapatkan adalah terpampangnya gerbang wifi yang cukup dengan memilih nama wifi-nya, dengan segera bisa langsung online sebelum kita memasuki teras hotel.

 

Foto: Ashley Hotel

 

Hotel yang berada di jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat ini, termasuk dalam kategori Hotel Bisnis. Hal ini dipertegas dengan tidak adanya kolam renang di area hotel, namun memiliki 11 meeting room,  cukup banyak untuk menampung berbagai pertemuan atau rapat para pengusaha, dengan berbagai kapasitas daya tampung. Untuk menampung tamu yang lebih banyak dalam suatu acara besar, Hotel Ashley juga menyediakan sebuah Ballroom dengan kapasitas tampung 500 tamu.

Dekatnya hotel ini dengan perkantoran swasta di sepanjang jalan MH Thamrin, jalan Sudirman, Kebon Sirih, serta pusat pemerintahan di empat penjuru jalan Merdeka, Stasiun Gambir dan Monas sebagai tempat rekreasi, serta Pasar Tanah Abang sebagai pusat bisnis pakaian terbesar Asian Tenggara dengan pengunjung dari berbagai negara, untuk menampung para pengunjung yang berdatangan tesebut, Hotel Ashley menyediakan kamar terbanyak diantara hotel lainnya di sekitar jalan Wahid Hasyim, yaitu 186 kamar dengan berbagai tingkatan dan fasilitas.

 

Foto: Ashley Hotel

 

Foto: Ashley Hotel

 

Foto: Ashley Hotel

 

Foto Ashley Hotel

5 jenis kamar dipersiapkan untuk tamu yang menginap, yang dapat dipilih sesuai dengan kemampuan. Pertama Superior Room berjumlah 30 kamar, lalu Deluxe King Room dengan 30 kamar, selanjutnya Deluxe Twin Room sebanyak 94 kamar, di atasnya lagi Executive Room sejumlah 30 kamar, dan yang paling mewah, Suite Room dengan fasilitas paling lengkap dan ruangan paling luas, 2 kamar.

 

Foto: Ashley Hotel

 

Sebuah hotel tentu juga dilengkapi dengan restoran untuk memenuhi kebutuhan makan atau untuk sekadar minum kopi dan melepas lelah atau ngobrol dengan rekan bisnis. Untuk itu Hotel Ashley menyiapkan Adele Dining Restaurant yang menyajikan menu lengkap mulai dari makanan Indonesia, Asia Tenggara hingga western food.

 

 

 

 

BloggerDay2018 di Ashley Hotel Jakarta

 

Sebagai bagian dari promosi Ashley Hotel  Jakarta ini, 17 Maret lalu pihak management hotel yang diwakili oleh Mazlina Ramli selaku Corporate Director of Sales & Marketing Prima Hotel Indonesia, memberi kesempatan kepada 100 orang blogger yang tergabung dalam group Blogger Crony Community atau BCC mengadakan acara BloggerDay2018. Acara BloggerDay2018 di Ashley Hotel ini juga merupakan bagian dari  BloggerCrony Community 3rd Anniversary.

Sampai di hotel Ashley saya saya menemukan banyak teman-teman yang sudah duluan datang. Saya langsung ke merja registrasi sambil melewati  Photobooth Alfa Kreasi. Selanjutnya menunggu acara dimulai saya berkeliling melihat suasana hotel dengan segala fasilitasnya.

 

 

 

Pukul 10 acara dimulai dengan sambutan dari panitia maupun admin BloggerCrony. Dilanjutkan dengan sambutan dan presentasi dari pihak Hotel Ashley. Kemudian memperkenalkan 10 BloggerPreneur yang telah aktif berproduksi dengan aneka produk masing-masing.

Sebagai pengisi acara yang berlangsung hingga pukul 5 sore ini, admin BloggerCrony dengan disponsori oleh Indosat Ooredoo mendatangkan Tuhu Nugraha, yang menyampaikan materi Digital influencer Fenomena & Strategi Kreatif. Setelah makan siang menikmati Lunch box Tumpeng Ayu Dapur Solo, acara dilanjutkan dengan Workshop berikutnya bersama Anwari Natari, seorang trainer menulis di Kompas.com dengan materi Creative Writing with Mind Mapping yang sangat dibutuhkan oleh para blogger agar tulisan mereka semakin bergizi.

Cukup banyak sponsor yang mendukung acara BloggerDay ini, yaitu Anns Bakehouse, Markamarie, Rejuve Skin Lab, Sandeeva Spa & Reflexology serta BCC BloggerPreneur dan begitu banyak hadiah yang dibagikan kepada para peserta, sehingga acara ini benar-benar akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Mengembalikan File Word Yang Lupa Disimpan

Sebagai manusia kita tidak pernah lepas dari yang sifatnya lupa, atau sebagai makhluk Tuhan kita tidak pernah lepas dari cobaan atau musibah. Mulai dari hal yang sederhana atau yang luar biasa.

Begitu juga halnya dengan pekerjaan kita sehari-hari sebagai penulis atau blogger, atau juga sebagai pekerja kantoran lainnya yang harus berhadapan dengan komputer dan pengetikan.

Dalam melaksanakan pekerjaan kita ini, tidak jarang kita mengalami musibah yang disebabkan oleh sifat manusia kita, yaitu lupa. Artikel yang sudah berisi tulisan sekian paragraf, atau laporan pegawai yang harus segera dikirim ke atasan atau pihak yang berwenang lainnya, lupa disimpan karena lupa atau ada gangguan lainnya seperti mati listrik, baterai laptop habis atau ada hal lain yang harus dikerjakan sehingga sejenak kita harus meninggalkan pekerjaan dan lupa menyimpan pekerjaan yang sudah dikerjakan.

Bagi yang pernah mengalami hal ini tentu sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya dalam situasi seperti itu. Kesal, sebal atau penyesalan yang seakan tiada habisnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, ada sebuah tip atau trik yang disediakan oleh Microsoft yang dapat kita manfaatkan yang selama ini mungkin belum diketahui. Bagimana caranya, mari kita lakukan…

 

1. Setelah komputer atau laptop Anda menyala, bukalah Microsoft Word.

2. Lalu klik menu File

3. Setelah itu klik Info

4. Selanjutnya klik kotak Manage Version berwarna kuning.

5. Setelah kotak dialog di bawahnya tampil, klik tulisan Recover Unsaved Documents

6. Kotak dialog Open akan terbuka, sebaris awal paragraf artikel Anda akan tampil di sana. Artikel ini belum bisa dibuka seperti  terlihat pada gambar di bawah, dimana dalam kotak bergaris merah tombol Open belum aktif

7. Anda harus mengklik tulisan awal paragraf artikel Anda yang berada di dalam kotak dialog yang kemudian secara otomatis akan berubah warnanya menjadi biru. Silakan klik tombol Open yang juga sudah aktif di bawah.

8. Nah, sekarang artikel Anda yang hilang itu sudah kembali ke rumahnya. Jangan gembira dulu! Biar si artikel nggak kabur lagi, buruan klik tombol Save As yang ada di balok peringatan berwarna kuning.

Selanjutnya kasih judul Artikel Anda dan simpan di My Document atau dimana saja Anda biasa menyimpan artikel atau dokumen Anda.

Selamat mencoba, semoga artikel ini bermanfaat…

 

 

3 Sambal Pedas HokBen Yang Bikin Keringatan

Hokben Harapan Indah, Bekasi

 

 

24 Februari lalu saya mengikuti Bloggers Gathering bersama Hokben di Harapan Indah Bekasi. Selesai shalat subuh, saya berjalan kaki dari kost di Kota Bambu menuju stasiun Tanah Abang. Dinginnya cuaca pagi Jakarta yang disiram hujan semalam tidak mengurangi semangat saya untuk menelusuri jalanan yang masih sepi. Dengan kartu Flazz saya masuk stasiun Tanah Abang, dan menunggu kereta yang masih berada di stasiun Angke. Mendekati jam 6 kereta jurusan Bogor datang. Saya menaiki kereta yang sudah terisi cukup banyak penumpang, seorang anak muda berdiri dan mempersilakan saya duduk, setelah mengucapkan terimakasih saya lalu menempati bangku yang tadi didudukinya.

Sampai di stasiun Manggarai, saya turun untuk pindah ke kereta yang menuju Bekasi. Penumpang yang lebih sedikit di kereta yang menuju Bekasi itu, membuat saya lebih leluasa mencari tempat duduk di pojok gerbong. Suhu di dalam kereta yang lebih dingin, membuat saya lebih merapatkan jaket, lalu merapat ke dinding dan tidur. Di stasiun Kranji saya turun, karena belum sarapan sebelum berangkat tadi, saya lalu mencari sarapan dulu dan dapat sarapan nasi kuning di gerbang parkir stasiun.

Selesai sarapan saya lalu mengorder ojek online Grab. Karena jalanan juga belum begitu ramai tidak sampai 15 menit saya tiba di outlet Hokben Harapan Indah. Karena ojek yang saya tumpangi salah mengambil jalur saat memasuki bunderan Harapan Indah, akhirnya saya masuk dari belakang restoran cepat saji itu. Saat saya masuk pekarangan, semua masih dalam keadaan sepi. Tapi di dalam resto para pekerja Hokben terlihat telah berdatangan dan sibuk mempersiapkan hidangan untuk hari itu.

Saat salah seorang pelayan membuka pintu, saya langsung masuk. Saya adalah tamu pertama yang datang pagi itu. Untuk mengisi waktu yang kosong, saya lalu mengambil beberapa foto dengan handphone, dan kemudian mempostingnya di Instagram dan juga membagikannya di facebook dan twitter serta di group WA. Tak lama berselang datang Dhevi Anggarakasih, sang koordinator blogger yang mengundang kami ke acara Blogger Gathering bersama Hokben ini.

Pukul 11 tepat, acara dimulai.  Kartina Mangisi, Communication Divison Head, PT Eka Bogainti. Membuka acara dengan presentasi tentang sejarah dan perkembangan Hokben di Indonesia. Presentasi selanjutnya diisi oleh Jasata, Brand Activation Division Head, Hokben.

Topik gathering siang itu adalah memperkenalkan 3 varian baru menu hokben yaitu Hoka Suka, seperti bisa dilihat pada foto di bawah ini.

 

Hoka Suka 1 menunya terdiri dari sate daging ayam, nasi, acar kuning dan kering kentang.

Hoka Suka 2 berisi daging udang, nasi, acar kuning dan kering kentang.

Hoka Suka 3 menyajikan ayam, nasi, acar dan kering kentang.

Kita ketahui bersama makanan Khas Indonesia dari Sabang sampai Merauke kaya akan rempah dan juga memiliki rasa manis, gurih dan rasa pedas. Bahkan, banyak orang yang mengaku merasa makanannya kurang mantap jika tidak ada rasa pedas.

HokBen sebagai pelopor makanan bergaya Jepang di Indonesia terus berinovasi untuk menghadirkan produk dan layanan berkualitas bagi para pelanggan setianya. Dengan melihat Tingginya minat masyarakat Indonesia yang gemar akan makanan pedas, mendorong HokBen untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan Sensasi Dahsyat yaitu memadukan makanan Jepang dengan makanan khas Indonesia.

Sensasi Dahsyat itu dapat kita lihat pada foto di bawah ini, yaitu: Sambal Ijo, Sambal Matah dan Sambal Bawang. Sambal Ijo terinspirasi dari sambal ijonya rumah makan Padang, lalu sambal bawang dari Jawa dan sambal matah dari Bali.

 

Ketiga sambal ini hadir untuk mendampingi Kering Kentang yang renyah dengan bumbu Jepangnya dan Acar Kuning yang rasanya begitu enak dengan bumbu yang lengkap.

Hadirnya varian sambal dalam acara Blogger Gathering ini, memang membuat suasana makan siang kami di HokBen Harapan Indah ini begitu istimewa. Kalau biasanya kita menikmati menu yang pure rasa Jepangnya, maka kini saya merasakan sentuhan Indonesia yang begitu kental pada rasanya. Pedas sambalnya malah lebih terasa dibanding umumnya rumah makan Padang yang saya kunjungi. Sehingga keringat saya bercucuran karena kepedasan, sebab saya menghabiskan ketiga macam sambal yang dihidangkan itu yang memang lezat. Sebuah inovasi cemerlang dalam menanggapi beragamnya selera pengunjung.

Yuk kita nikmati…

Hal lain yang saya dapatkan di HokBen Harapan Indah ini adalah ruangannya yang cukup luas, dengan fasilitas ruangan  outdoor bagi mereka yang merokok. Juga mushalla yang cukup bersih dan nyaman hanya beberapa meter dari ruang makan. Juga tersedia ruang atau privat room yang bisa menampung satu keluarga atau rekanan kantor. Gedung yang berdiri sendiri, juga menambah kenyamanan dan ketenangan resto ini dari berisik dan lalu-lalang pengunjung seperti di mall. Halaman parkir yang cukup luas dengan tarif parkir yang sangat terjangkau yang berlaku flat tanpa hitungan jam, merupakan keunggulan HokBen Harapan Indah ini.

Penasaran? Langsung saja meluncur ke sana.

 

Hadiah kejutan sebagai pemenang foto Instagram

 

Mau acara di rumah atau di kantor? mobil ini siap melayani Anda

 

 

 

 

Puasa Batal Gara-gara Tangguli

Bulan puasa, sekitar 50 tahun lalu.

Libur bulan puasa membuat aku punya banyak waktu untuk bermain. Rasanya tidak ada lagi sudut kampung yang belum aku jelajahi, sendiri atau bersama teman sepermainan.

Pagi itu aku meninggalkan rumah kak Izah, kakak sepupu yang tinggal di seberang jalan rumah kami, salah satu dari tiga rumah keluarga besarku yang sering aku tumpangi untuk tinggal selain rumah keluarga ayah yang berada di Guguak Rang Pisang, 4 kilometer dari Ladang Darek, kampungku.

Aku berjalan menuju Simpang Labuah, simpang empat penjuru angin di tengah-tengah kampungku. Bulan puasa membuat teman-temanku memperpanjang jam tidurnya setelah shalat subuh, hal itu membuat Simpang Labuah sepi tanpa ada anak-anak yang bermain. Lapau kak Nur yang berada di salah satu sudut jalan juga belum buka, hanya ada beberapa ekor anak ayam beserta induknya yang terlihat tengah mengais tanah mencari makan.

Aku belok kanan ke arah timur, menuju jorong Binu. Matahari belum kelihatan karena tersembunyi di balik bukit barisan di mana jorong Binu berada. Berjalan sendiri di tengah sepinya kampung, tidak  membuat aku ikut kesepian. Udara  yang sejuk dan hembusan angin yang sepoi-sepoi serta suara burung yang hinggap dan bermain di ranting kayu, mengantar aku berjalan menuju dusun tempat aku belajar mengaji di surau yang berada di pinggir batang agam.

Sampai di Jembatan yang menghubungkan Binu dengan kampung lainnya, aku juga tidak menemukan seorang temanpun. Aku masuk ke dalam surau, juga kosong. Dengan perasaan malas dan juga rasa sepi  aku keluar dari surau, kembali ke jembatan. Aku berpikir sejenak sambil bersandar di tembok ujung jembatan. Kalau aku ke kanan berarti aku kembali pulang ke Ladang Darek, bila aku ke kiri ada banyak kemungkinan, aku bisa ke Guguak Rang Pisang atau jalan memutar pulang melalui Jorong Koto Nan Gadang dan melewati SD Hilir Lama tempat aku dan teman-teman bersekolah.

Aku lalu berjalan dan belok ke kiri menelusuri  jalan yang membatasi batang agam di sebelah kiri dan sawah di sebelah kanan. Aku mengikuti alur jalan yang berliku mengikuti aliran batang agam, menikung  ke kanan lalu sampai di Batu Bajolang, sebuah bendungan  menghadang aliran sungai yang berfungsi sebagai sumber air untuk irigasi sawah yang berada di Jorong Guguak Rang Pisang. Setelah bendungan  aku melewati kincir penumbuk padi,terus melewati jalan yang semakin lebar.

Menjelang pendakian Gobah jorong Koto Nan Gadang, aku tertarik dengan sebuah aktifitas di sebuah  bangunan terbuka di sebelah kiri jalan, yang sisi kanannya menempel ke tebing dusun Gobah yang tingginya melebihi atap bangunan. Kilang Tebu demikian orang kampung saya menyebut bangunan tersebut. Aku lalu berjalan menuju bangunan tersebut, setelah dekat aku melihat beberapa orang sedang bekerja, ada yang sedang membersihkan daun tebu dari batangnya, ada yang mengangkut tebu tersebut ke dekat kilang.

“Kama ang Mi? Tanya salah seorang yang sedang memanggul tebu yang sudah dibersihkan daunnya dari halaman ke dalam kilang.

“Indak ado, main sen…” jawabku

“Lai puaso? Tanyanya lagi setelah meletakkan tebu di tempat penumpukan di samping mesin kilang, dan kemudian berjalan kembali ke halaman tempat tumpukan tebu yang akan dibawa ke dalam kilang.

“Lai…”

“Lah bara nan umpang?” sambungnya sambil berdiri sejenak dan melihat kepadaku

“Alun ado lai…”

“Iyo santiang…” katanya sambil melanjutkan pekerjaannya mengangkat tebu dan membawanya ke dalam kilang. Aku tidak menjawab hanya membalas dengan senyuman, tapi ada perasaan senang dibilang santiang. Hehehe…

Karena semua yang bekerja di sana mengenalku sebab mereka juga orang sekampung, maka aku dibiarkan masuk ke dalam kilang. Merasa kehadiranku diterima, tanpa berpikir panjang aku lalu ikut membantu mengangkat tebu dari halaman ke dalam kilang, aku hanya sanggup mengangkatnya  dua batang sekaligus, walau dilarang aku diam saja. Baru mengangkat beberapa kali, akumulai merasa letih dan keberatan mengangkat tebu dua batang sekaligus, kemudian aku menguranginya dengan mengangkat hanya satu batang.

“Baa… barek?

Ditegur begitu aku hanya tersenyum malu tanpa menjawab, hanya saja karena beban yang aku bawa lebih ringan dari sebelumnya, membuat langkahku juga lebih ringan dan cepat dalam melangkah. Beberapa kali bolak-balik sambil setengah berlari dari halaman ke dalam kilang, membuat nafasku mulai ngos-ngosan dan keringat juga membasahi tubuhku, jalanku pun tak lagi secepat sebelumnya, mau berhenti ada rasa tidak enak, karena tebu yang akan dipindahkan masih cukup banyak.

“Kok lah panek barantilah dulu, bata pulo puaso biko…!”

Kalimat itu seakan melepaskanku dari ikatan rasa malu yang melilit diriku untuk berhenti mengangkut tebu begitu saja. Setelah meletakkan tebu terakhir yang berada dalam genggaman tangan, aku lalu berjalan menuju bangku kayu yang cukup panjang yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri.

Sambil duduk mengatur nafas aku melihat ke sekeliling. Sejenak aku melihat bagaimana proses penggilingan tebu di kilangan. Seekor kerbau terlihat sedang berjalan mengelilingi kilangan, jejaknya membuat sebuah lingkaran di tanah yang dilewatinya, di bagian atas lehernya diikatkan ujung kayu yang ujung satunya lagi terhubung dengan salah satu dari sepasang kayu bulat yang salah satunya setinggi tubuh orang dewasa. Kedua kayu ini dipasang pada kerangka yang cukup kuat di tengah lingkaran. Saat kerbau berjalan kedua kayu bulat panjang berbentuk silinder dan dihubungkan dengan gir itu berputar berlawanan arah. Seorang pekerja yang berada di dekat kilang sibuk memasukkan sambil mendorong tebu ke sela dua kayu yang sedang berputar yang kemudian terjepit dan membuat air tebu mengalir ke panci penampungan yang berada di bawah kilang.

Disamping kilang diluar jalur jalan kerbau, terdapat sebuah tungku yang cukup besar, di atas tungku terletak kancah, wajan besar yang garis tengahnya hampir sedepa aku. Tidak jauh dari tungku terdapat tumpukan kayu bakar yang sudah dibelah yang panjangnya seukuran lengan orang dewasa, tersusun rapi dekat tebing yang seakan berfungsi juga sebagai dinding bangunan kilang.

Panci penampung air tebu yang berada dibawah kilang sudah hampir penuh, pekerja yang tadi memanggul tebu ke kilang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya kemudian lalu masuk ke kilang, dia menggeser panci yang sudah penuh air tebu dan meletakkan panci kosong di bekas tempat panci sebelumnya, panci yang berisi air tebu lalu diangkat dan dibawa menuju tungku, air tebu lalu dimasukkan ke dalam kancah, dan baru terisi setengahnya.

Dalam menjalankan tugasnya berjalan di seputar kilang memutar kilangan tebu, sering sang kerbau berjalan lambat sambil mengunyah rumput makanannya. Bila hal ini terjadi maka pekerja yang memasukkan tebu ke kilangan akan melecut punggung sang kerbau agar berjalan lebih cepat. Pekerjaan melecut punggung kerbau ini kemudian aku ambil alih dengan mengambil pelecut yang dibuat dari ranting bambu tersebut. Aku ikut berjalan di samping kerbau berkeliling di seputar kilangan, dan melecut punggung si kerbau bila dia berjalan lambat. Karena sering aku lecut walau tidak sekuat yang dilakukan orang sebelumnya, kerbau itu akhirnya bisa berjalan dengan kecepatan yang lebih teratur, sehingga proses penggilingan tebu bisa berjalan lebih cepat.

Menjelang siang, setelah air tebu terkumpul cukup untuk memenuhi kancah, maka proses pengilanganpun selesai. Kerbau lalu dilepaskan dari ikatan kayu kilangan lalu dibawa keluar dan diikatkan di lapangan sambil dikasih makan. Karena kecapekan bekerja sedari pagi, kerbau itu lalu rebahan sambil mulutnya tetap komat-kamit mengunyah rumput.

Kancah yang berada di atas tungku sudah penuh oleh air tebu. Di bawahnya api sudah dinyalakan untuk memasak air tebu, kayu bakar bersilangan di ruang tungku dengan api yang cukup besar. Karena proses memasak air tebu ini cukup lama, untuk menghilangkan kejenuhan aku bolak balik ke lapangan tempat kerbau ditambatkan, lalu memberi makan kerbau dengan rumput. Gerah karena panas, aku kembali lagi ke dekat tungku, melihat keadaan air tebu yang sudah berubah warna, dari bening menjadi keruh kekuningan. Bila kayu bakarnya sudah pendek dan tinggal ujungnya, aku lalu mengambil kayu bakar yang baru ke dekat tebing, lalu meletakkannya di samping tungku. Aku tidak berani memasukkan kayu itu ke dalam tunggku, karena api yang menyala di tungku menyala cukup cukup besar dan panas.

Walau berjalan lambat, aku cukup menikmati bagaimana perubahan yang terjadi di dalam kancah. Mulai dari air tebu yang awalnya bening berwarna keruh keputihan hingga pelan-pelan menguning dan lama-lama menjadi coklat muda yang semakin lama warnanya semakin menua. Juga air tebu yang tadinya encer, pelan-pelan mulai mengental dan agak berat saat diaduk. Agar proses matangnya bagus dan merata, air tebu yang sudah mulai mengental itu memang harus diaduk. Pengaduknya, sebuah kayu yang cukup panjang yang bagian badan hingga ke ujungnya segenggaman tangan orang dewasa, sementara bagian bawahnya lebar seperti sendok, bentuknya pipih, lurus dan ujungnya rata.

Semakin sore air tebunya semakin kental dan warnanya semakin gelap menghitam, bila pengaduknya diangkat dari kancah, maka air tebu yang sudah kental itu akan mengalir seperti susu kaleng yang di tuangkan ke dalam gelas. Air tebu yang sudah kental itupun sudah berganti nama menjadi Tangguli,  demikian orang kampung kami memberinya nama.

Selepas asar, orang kampung satu persatu mulai berdatangan untuk membeli tangguli yang sudah matang ini. Pemilik kilangpun sudah mempersiapkan tempatnya, yaitu potongan bambu sebesar pergelangan yang dipotong satu ruas. Setelah bagian dalamnya dibersihkan, maka tangguli ini akan dituangkan dengan memakai sendok yang terbuat dari tempurung kelapa, lalu bagian mulut bambunya ditutup dengan daun pisang dan diikat dengan serat kulit batang pisang.

Setelah bermain seharian di kilang tebu, menjelang magrib aku pulang. Sebelum meninggalkan kilang, aku dibekali satu tabung tangguli yang tentu saja aku sambut dengan senang hati. Keluar dari kilang dan berjalan menuju rumah, aku berjalan melewati sawah yang membentang di depan kilang hingga ke Ngalau Rangkak, inilah jalan pintas terdekat ke rumah kami di Ladang Darek, aku tidak mau lewat  Jorong Koto Nan Gadang karena jalannya jauh dan memutar, bisa tiga kali lipat bedanya dibanding bila aku mengambil jalan pintas lewat pematang sawah ini.

Lewat pematang sawah yang membatasi antara sawah yang satu dengan yang lainnya, hingga akhirnya bertemu selokan sebagai sumber pengairan, beberapa kali aku mengangkat tabung bambu sambil membayangkan isinya yang hitam, kental dan manis, begitu juga aromanya. Seharian bermain di kilang sambil berpuasa aku tak begitu merasa lapar atau haus, bahkan aku menikmati suasananya. Tapi kenapa ketika magrib hanya tinggal sekitar 1 jam lagi, haus dan lapar begitu menyiksa? Apalagi saat menyadari ada tangguli yang manis dan enak ini ada di tanganku dan aromanya yang membuat godaan untuk membatalkan puasa itu begitu hebat, apalagi aku hanya berjalan sendiri dikelilingi sawah dengan padi yang menghijau dan mulai berputik.

Mencoba untuk bertahan dan melawan dua keinginan yang bertentangan: melanjutkan puasa yang hanya tinggal kurang dari satu jam, melawan lapar dan haus serta rayuan aroma tangguli yang terasa semakin wangi, sungguh sebuah pertempuran batin yang berat. Namun rupanya rasa lapar dan haus serta aroma tangguli berhasil mengalahkan puasaku, aku gagal untuk bertahan. Aku berhenti lalu melihat sekeliling, hamparan sawah di Ngalau Rangkak itu sepi, aku membuka tutup tabung bambu dan  dengan meminum isinya, tangguli kental itu mengalir dengan lamban menuju mulutku, menyentuh bibir dang terus mengalir sepanjang lidah hingga akhirnya tiba di kerongkonganku.

Batal sudah apa yang aku pertahankan seharian di bawah teriknya sinar matahari dan asap yang mengepul dari tungku di kilang. Nikmatnya rasa tangguli hanya hingga tenggorokanku, setelah itu yang tinggal hanyalah penyesalan yang tiada berguna. Hanya satu tegukan tangguli yang aku minum, manisnya yang luar biasa membuat mulutku tak nyaman dan perut terasa tidak karuan. Rasa bersalah dan berdosa membuat aku membuang tabung yang isinya masih banyak itu. Rasa bersalah dan berdosa membuat aku tidak sanggup untuk membawa sisa tangguli itu pulang dan menjawab semua pertanyaan yang akan timbul di rumah nanti.

Dengan langkah gontai aku berjalan pulang, rasa berdosa yang menyelimuti seluruh tubuh membuat aku kehilangan semangat yang sesaat sebelum tangguli mengalir menuju mulutku masih kurasakan. Aku bisa saja pulang ke rumah etek Timah yang berada di seberang jalan rumah kak Izah, tapi rasa bersalah dan berdosa malah membuat aku lebih takut untuk pulang ke sana. Diselimuti perasaan yang tidak karuan itu, aku sengaja berjalan pelan agar aku bisa sampai di rumah pas azan magrib atau setelahnya, dengan harapan, kesibukan berbuka puasa akan mengurangi kemungkinan banyaknya pertanyaan yang akan diajukan kepadaku tentang kepergianku seharian dari rumah.

Apa yang aku harapkan itu akhirnya aku dapatkan juga. Dentuman bunyi bedug dari mushalla dan masjid diiringi alunan Azan magrib terdengar pas saat aku masuk halaman rumah. Berlagak seperti masih puasa, aku masuk rumah lalu menutup seluruh jendela sekeliling rumah, sebagaimana aku kerjakan setiap sore menjelang magrib. Setelah itu baru aku ikut minum teh manis ditemani kolak pisang bercampur ubi. Saat makan kolak itu terbayang lagi tangguli yang aku buang di sawah tadi. Andainya aku membawanya pulang, pasti besok kami akan menikmatinya bersama-sama untuk berbuka puasa, tapi aku segera menepis lamunan itu, lalu berbuka buru-buru, kemudian shalat magrib, selesai shalat aku lalu makan juga dengan buru-buru. Selesai makan aku segera mengambil sarung dan berangkat ke mushalla.

Saat berjalan ke mushalla aku masih diiringi perasaan bersalah dan berdosa, tapi satu hal yang berhasil aku hindari saat itu adalah, pertanyaan dari seluruh keluarga, kak Izah dan suaminya, ayah dan ibu kak Izah. Aku menghindari pertanyaan mereka agar aku tidak berbuat dosa lagi, karena diantara pertanyaan mereka pasti ada satu pertanyaan yang akan sulit aku jawab dengan jujur…

 

=======

“Kama ang Mi? = Kemana kamu, Mi?

“Indak ado, main sen…” =  Tidak ada, main saja…

“Lai puaso?  = Puasa ngak?

“Lai…”  = Ya…

“Lah bara nan umpang?” = Sudah beraba yang jebol?

“Alun ado lai…”  = Belum ada

“Iyo santiang…”  =  hebat…

“Baa, barek?  = Bagaimana, berat?

“Kok lah panek barantilah dulu, bata pulo puaso biko…!” = Kalau capek istirahat dulu, ntar batal puasanya…!

  Menelusuri 3 Propinsi 6,5 Jam Diiringi Hujan

 

 

Batal berangkat ke Mojokerto, saya kembali ke Tangerang. Cukup lama saya menunggu banjir surut dan jalanan kering, hingga selesai shalat zuhur dan makan siang dengan nasi bungkus buat bekal di Kereta yang disiapkan oleh istri kakak.

Jam 14 kurang beberapa menit saya meninggalkan rumah kakak. Sambil berjalan ke jalan raya saya mengeluarkan handphone untuk memesan Uber. Belum sempat mendapatkan Uber motor, saya melihat ada angkot Koasi ngetem menunggu penumpang. Sambil berjalan menuju angkot saya segera mematikan aplikasi Uber yang masih sibuk mencari pengemudi yang berada di sekitar sana.

Saya naik angkot yang masih kosong tersebut, rupanya anggkot ini baru beroperasi karena banjir sudah surut dan jalan sudah kering. Angkot segera berjalan santai sambil mencari tambahan penumpang, setelah naik beberapa penumpang lagi baru pengemudinya menambah kecepatan sambil matanya tetap liar mencari calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan.

Saat angkot melewati kawasan pabrik Pondok Ungu, hujan gerimis mulai turun yang semakin lama semakin lebat. Sampai di pertigaan jalan raya Bekasi dekat pabrik penyulingan air Aqua, hujan semakin lebat. Saya yang tadinya ingin turun dan lalu berjalan ke halte bus Transjakarta yang berada di gerbang komplek perumahan Harapan Indah, akhirnya mengurungkan niat dan meneruskan perjalanan bersama angkot.

Sampai di depan stasiun Bekasi saya turun dari angkot, hujan gerimis masih turun tapi tidak terlalu rapat. Sambil berjalan menuju gerbang stasiun saya mengeluarkan dua kartu Flazz untuk ditempelkan di pintu masuk peron. Saya lupa, mana diantara kedua kartu tersebut yang masih berisi saldo untuk membayar tiket kereta commuterline menuju Jakarta.

Saat menempelkan kartu Flazz di scanner pintu masuk peron, tak satu juga diantara kedua kartu itu yang berhasil, padahal saya yakin salah satu diantara kedua kartu itu masih berisi cukup saldo untuk membayar tiket kereta. Melihat saya gagal berulangkali tersebut, seorang petugas menghampiri saya lalu mencoba kembali melakukan scanning. Gagal dengan kartu pertama si petugas lalu bilang; “kartunya belum diaktifasi, pak! Katanya. Saya lalu menyerahkan kartu yang satu lagi, sama saja! Petugas lalu menyuruh saya mengaktifkan kartu Flazz saya, “silakan bapak aktifkan dulu kartunya di kotak merah itu…” kata petugas tersebut. Rupanya kedua kartu Flazz saya tersebut belum diaktifasi untuk dipakai sebagai pembayaran tiket kereta commuterline.

Setelah menempelkan kartu Flazz di kotak activator yang ditunjuk petugas tersebut, saya kembali ke pintu masuk. Benar saja begitu kartu saya tempelkan, lampu hijau segera menyala dan palang pintunya bisa didorong dan saya berhasil masuk ke peron stasiun.

Saat masih celengukan mencari jalur kereta yang menuju Jakarta Kota, dari pengeras suara stasiun operator mengatakan kereta jurusan Jakarta Kota ada di jalur 3, saya pun berjalan ke jalur tiga.  Tapi baru saja aya berdiri menunggu kereta, operator mengumumkan lagi ada kereta dari Cikarang yang juga menuju ke Jakarta kota akan masuk di jalur 1. Kerumunan penumpang yang tadinya sudah menumpuk di jalur 3 akhirnya berbondong menuju jalur 1.

Setelah kereta dari Cikarang masuk dan berhenti, begitu pintu terbuka penumpang berebutan masuk. Walau tidak terlalu berdesakan, tapi di dalam kereta tersebut cukup banyak penumpang yang berdiri, saya pun tidak kebagian tempat duduk. Rupanya cukup banyak juga penumpang yang naik di stasiun Cikarang dan stasiun lainnya sebelum sampai di stasiun Bekasi ini. Teringat saat pertama masuk peron stasiun bahwa kereta jurusan Jakarta Kota juga akan masuk di jalur 3, saya lalu turun lagi dari kereta dan berjalan kembali ke jalur 3, beberapa saat kemudian kereta di jalur 1 berangkat.

Tidak sampai lima menit setelah kereta di jalur 1 berangkat, kereta jurusan Jakarta Kota berikutnya pun masuk di jalur 3. Karena sebagian besar penumpang telah tersedot ke kereta sebelumnya, maka penumpang yang menunggu kereta di jalur 3 ini tidak lagi banyak, sehingga saat naik kereta tidak lagi berebutan dan semuanya mendapat tempat duduk.

Saya tidak tahu pasti berapa lama kereta yang saya tumpangi ini berhenti, mungkin sekitar 10 menit. Karena banyak juga penumpang yang baru naik, akhirnya saat berangkat meninggalkan stasiun Bekasi, kerta ini penuh juga, terlihat ada beberapa penumpang yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Sendiri di gerbong yang sudah ditinggalkan penumpangnya, merasa jadi bos kereta api… hehehe

Sepanjang perjalanan, beberapa kali hujan menyirami kereta yang saya tumpangi. Karena suhu udara cukup dingin, saya sempat tertidur dan baru terbangun saat kereta sudah sampai di Stasiun Manggarai. Saat terbangun saya lihat kereta sudah nyaris kosong, bahkan gerbong yang saya tumpangi malah berisi cuma saya sendiri, sementara gerbong depan dan belakangnya lumayan berisi beberapa orang.

Karena saya memakai kartu Flazz, saya tidak terlalu terikat di stasiun mana saya akan turun. Saya hanya memikirkan di stasiun mana saya akan turun agar memudahkan saya transit naik bus Transjakarta. Berbeda dengan kalau saya membeli tiket sekali jalan untuk satu tujuan, bila saya tidak turun di stasiun yang saya sebutkan saat membeli tiket, ada kemungkinn saya akan kena denda!

Saya berusaha menahan kantuk yang kadang membuat saya sempat terpejam beberapa menit hingga melewati stasiun Cikini dan baru terbangun lagi ketika mendekati stasiun Gondangdia. Untuk melawan kantuk, saya mengeluarkan handphone lalu online melihat foto-foto teman di Instagram dan juga Facebook. Karena kereta tidak berhenti di stasiun Gambir, perjalanan kereta dari Gondangdia ke stasiun berikutnya terasa lebih cepat.

Saya turun di stasiun Juanda. Tempat ini saya pilih karena lebih dekat ke halte bus Transjakarta yang berada di depan stasiun Juanda dan berhadapan dengan masjid Istiqlal. Sebelum berjalan menuju halte bus Transjakarta, saya lalu mencari mushalla yang ada di lantai dasar stasiun untuk shalat ashar. Selesai shalat saya lalu berjalan menuju halte bus. Keluar dari stasiun hujan masih turun, walau tidak begitu lebat, tapi lumayanlah buat memerciki kepala serta baju yang saya pakai berikut tas yang saya sandang. Walau saya membawa payung, tapi rasanya tanggung untuk mengeluarkannya dari tas, karena area terbuka yang langsung kena hujan saat turun dari tangga penyeberangan ke halte bus Transjakarta hanya sekitar 15 meter.

Setelah masuk ke halte bus Transjakarta dengan memakai kartu Flazz yang tadi juga dipakai untuk naik kereta, saya lalu menunggu bus jurusan Kalideres. Agar kebagian tempat duduk, saya menaiki bus yang datang dari arah Harmoni menuju halte terakhir di Pasar Baru. Saat penumpang turun di Pasar Baru, saya satu-satunya penumpang yang tidak ikut turun. Seperti dugaan saya sebelumnya, bus tersebut segera penuh oleh penumpang.

Hujan dan cuaca dingin kembali membuat saya tertidur di dalam bus yang membawa saya ke Kalideres. Saya terbangun saat bus berhenti di halte Rawa Buaya, Cengkareng. Karena tidurnya cukup pulas, membuat saya terbangun dengan kondisi yang lebih segar. Saya mengambil handphone dan mencoba online, rupanya baterai Samsung J7P  saya tinggal 16 persen, saya lalu mengambil powerbank dan kabel data, sejenak kemudian pengisian baterai handphone tersebut berjalan lancar.

Sampai di terminal Kalideres dan turun dari bus, saya berhenti sejenak di halte, tidak langsung turun. Hujan dan genangan air masih menjadi kendala bagi saya untuk berjalan menuju terminal angkot F2 yang menuju Cadas, Tangerang, yang jaraknya dari halte bus  Transjakarta sekitar 100 meter. Akhirnya setelah berfikir sejenak saya mengambil keputusan untuk naik angkot jurusan Kota Bumi yang melintas di depan halte bus Transjakarta. Karena hujan agak lebat, saya terpaksa memakai payung menuju angkot yang berhenti hanya sekitar 10 meter di depan saya. Untunglah angkot yang saya tumpangi itu langsung jalan dan tidak ngetem menunggu penumpang di terminal. Hanya saja keluar dari terminal angkot berjalan lebih santai sementara pengemudinya meneriakkan “Bumi, bumi, Kota Bumi…! Di sepanjang jalan depan terminal hingga di depan pasar Hipli Semanan.

Saat melewati kawasan Batu Ceper, terdengar azan magrib berkumandang, saya membatin, semoga angkot yang saya tumpangi ini bisa sampai di pertigaan Nanggrek sebelum Isya dan melaksanakan shalat Magrib di masjid yang berada di sudut pertigaan tersebut. Karena saya tidak yakin perjalanan saya kali ini memenuhi syarat untuk melakukan shalat jamak Magrib dengan Isya.

Rupanya doa saya dikabulkan Allah. Begitu angkot yang saya tumpangi sampai di Nangrek, setelah turun dan membayar ongkos angkot, saya bergegas menuju masjid, bersuci di toilet yang terpisah agak jauh dari tempat wudhuk, lalu berwudhuk dan setelahnya langsung masuk masjid dan shalat Magrib. Selesai shalat Magrib saya lalu melihat jam dan jadwal shalat Isya. Rupanya masih ada waktu 12 menit menjelang masuknya waktu shalat Isya. Saya memilih beristirahat sambil menunggu datangnya waktu shalat Isya, agar bisa shalat berjamaah dan bisa langsung istirahat saat sampai di rumah.

Selesai shalat Isya saya duduk di teras masjid, mengambil handphone yang masih di charge dan membuka aplikasi Uber untuk mengantar saya pulang. Tidak lama menunggu, saya mendapatkan Uber pesanan saya. Menempuh perjalanan terakhir sepanjang 10 km lebih alhamdulillah lancar tanpa hujan, saya sampai di rumah pukul 20.33. Perjalanan 6,5 jam dengan berganti 5 moda transportasi: Koasi, Kereta Commuterline, Bus Transjakarta, Angkot KWK dan terakhir ojek online Uber. Total perjalanan sekitar 80 kilometer.

Karena kepulangan saya di luar rencana, dimana seharusnya saya sedang dalam perjalanan menuju Mojokerto, maka saya tidak menemukan nasi di rumah. Untung toko sebelah masih buka, maka makan malamnya cukup dengan Sarimi isi 2! Alhamdulillah…