Ode Buat Ibu

Ibu

Kakiku telah letih

Menapaki jalan-jalan yang telah kulewati saat mencarimu

Sejak engkau pergi malam itu

Masih begitu nyata dimataku

Tentara yang memegang senjata itu menodong dan menggiringmu pergi

Tanpa menghiraukan ratapan 6 anak-anak yang diantaranya masih balita

Serta perempuan-perempuan lain yang sudah renta

Sejak itu

Lelah kami menunggu ibu kembali dengan airmata yang membasahi pipi

Namun ibu tak kunjung pulang

Hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburannya

Tak ada lagi pelukan hangatmu disaat tidurku yang dibalut dingin kampung kita

Tak ada lagi hari-hari penuh canda tawa diantara anakmu yang beranjak remaja

Kampung terasa begitu sepi

Waktu berjalan terasa begitu lambat

Hingga

Satu persatu  anak ibu menghilang

Pergi membawa nasib kerantau orang

Meninggalkan bocah kecil yang kehilangan kasih sayang

 

Ibu

Kini bocah kecil itu telah beranjak tua dan renta

Pecariannyapun telah berhenti

Karena

Kami telah ikhlaskan kepergian ibu

Kami tak akan menggugat takdir yang telah ditentukan buat ibu

Kami telah memaafkan orang-orang yang telah memfitnah ibu

Kami juga telah memaafkan tentara-tentara yang telah menghabisi ibu

Kami tak ingin dendam merusak hidup anak ibu

Kami ingin hidup damai dengan beribu cucu ibu

 

Fatamorgana…

“Uda, biko sore tolong antakan awak ka Subarang Padang, da!

Srrr…, dadaku berdegup kencang. Gadis pemilik rumah yang disewa oleh bosku untuk studio reklame, yang kuincar diam-diam, minta tolong di antarkan kerumah kakaknya di Subarang Padang. Aku bagaikan kejatuhan bintang dari langit, mendengar permintaannya itu. Adakah selama ini dia juga memperhatikan aku, sebagaimana aku diam-diam tertarik dan mulai jatuh cinta padanya?

Konsentrasi kerjaku mulai buyar, khayalanku menerawang jauh. Aku tak sabar menunggu jam kerjaku selesai. Rasanya semua yang ada di hadapanku begitu indah, seindah bayangan-bayangan yang berkelebat di mataku, maupun rencana-rencana yang terbersit di hatiku.

Jam 5 sore aku membereskan semua peralatan kerjaku, lalu shalat ashar. Selesai shalat aku bersiap siap untuk berangkat dan nampaknya aku tak perlu menunggu lama. Dia muncul dari dalam rumah, aku tak bisa menyebutkan betapa cantiknya dia saat itu. Debaran jantungku semakin tak menentu, karena ini adalah pertama kalinya aku berjalan bersama seorang gadis, sejak aku merantau ke kota Padang ini. Lanjutkan membaca “Fatamorgana…”

Hari ini, 57 tahun yang lalu

Hari ini, 57 tahun yang lalu

suara tangisan memecah kesunyian penuh ketegangan

di saat fajar menyingsing ketika subuh menjelang

sebuah penantian selama sembilan bulan

seorang bayi mungil lahir dari rahim sang ibu

namun, tiada ayah yang mendampingi

karena dia telah lebih dulu pergi dipanggil Tuhannya

menghadap sang pemilik kehidupan

mengiringi gugurnya sehelai daun penuh catatan di Lauhulmahfuuz Lanjutkan membaca “Hari ini, 57 tahun yang lalu”

Tahajud

Tuhan….
begitu kelu lidahku memohon kepadamu
karena aku tahu diriku bukanlah siap-siapa
aku bukanlah hambamu yang suci dari noda
aku bukanlah orang suci yang selalu dekat denganmu

namun
aku tahu Engkau maha pengasih maha penyayang
aku tahu Engkau maha pengampun dan penerima taubat
aku tahu Engkau maha adil lagi bijaksana

karena itu
aku tak akan pernah bosan dan lelah
rukuk dan sujud di hadapanMU dengan khusyuk
memohon, mengharap dan meminta
walau mulutku akan kering
walau airmataku akan kering
namun aku tak akan menyerah
telah kutanamkan keyakinan di dalam diriku
dengan memasrahkan hidup dan matiku ada di tanganMU
aku tak akan pernah meragukan diriMU
akan mengabulkan permohonanku, harapanku dan permintaanku
wahai yang Maha Pengasih dan tak pilih kasih
wahai yang Maha Penyayang tak terbilang sayang
terimalah
kabulkanlah
doa-doaku

amiin…

 

091212