Nostalgia Bersama Penggembala Sapi

Masjid itu terletak persis di sudut jalan. berlantai dua, serta kubah yang bertengger di lantai tiga. Posisi mihrabnya sejajar dengan jalan yang membentang dari arah barat laut ke tenggara. Sisi kanan masjid langsung berhadapan dengan tebing, yang tingginya sejajar dengan langit-langit lantai dua. Bagian kiri dan belakang masjid adalah jalan yang berfungsi ganda sebagai halaman masjid. Sedang dibagian depan masjid, terdapat bangunan lain berbentuk rumah, dipakai khusus buat belajar mengaji dan kegiatan lainnya, sebagai ruang serba guna atau acara peringatan keagamaan, seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, maupun perayaan Khatam Al-Qur’an. Kalau malam berfungsi sebagai tempat tidur anak laki-laki remaja hingga menjelang dewasa dan belum berumah tangga. Bangunan ini disebut sebagai surau kampuang.

Disisi kiri atau selatan maupun belakang atau timur jalan, terdapat tebing sedalam hampir empat meter, yang dibawahnya di masing-masing sisi terdapat tabek, atau kolam ikan milik penduduk.

Persis disudut tikungan, terdapat jalan kecil menurun yang menikung kekanan beberapa derajat diantara dua tabek dan kemudian lurus kearah selatan dan berujung di Karan, rumah keluarga ayahku, sekitar tiga ratus meter dari masjid.

Aku sedang bermain di jalan yang juga merupakan halaman masjid yang diberi nama Sofia itu. Ketika seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dariku dan kupanggil tuan Man, lewat sambil menuntun sapi yang akan digembalakannya di sawah yang telah selesai di panen. Lanjutkan membaca “Nostalgia Bersama Penggembala Sapi”

Tragedi Sepatu Baru

 

Tulisan sebelumnya : Merantau ke Pekanbaru (31 Tamat)

Setibanya aku dan Tuan Maia di kampung, aku terpaksa menginap di rumah keluarga istrinya, di Pintu Koto, perhentian terakhir oplet yang menambang dari Kamang Ilia ke Bukittinggi. Karena kami sampai di Pintu Koto hari sudah tengah malam. Dari perhentian oplet ke rumahnya kami berjalan kaki hanya beberapa menit.

Besoknya setelah makan pagi, kami pulang ke Ladang Darek, berjalan kaki hampir tiga kilometer. Sewaktu mau berangkat, aku di beri sepasang sepatu baru dan langsung di suruh pakai. Seingatku, inilah baru pertama kali aku memakai sepatu. Rasa senang dan juga canggung bercampur menjadi satu. Selama ini aku kemana-mana selalu berkaki ayam, alias tanpa alas kaki walau hanya sekadar tarompa Japang atau sandal jepit.

Kutimang-timang sepatu itu dengan perasaan senang yang tak dapat kulukiskan, tanpa kusadari aku sering tersenyum simpul sendiri, hadiah yang sangat tak terduga. Aku tidak tahu siapa yang membelikan sepatu ini, tuan Maia atau mungkin kakakku? Entahlah, siapapun itu yang membelikannya, nyatanya sekarang sepatu itu telah berada di hadapanku. Lanjutkan membaca “Tragedi Sepatu Baru”

Doa

Alhamdulillah…
kewajiban telah di tunaikan
saatnya bersyukur dengan telah datangnya hari baru
saatnya mengais rizki dan mengisi kehidupan
semoga bisa berbagi dengan yang lebih membutuhkan                                                                                                                              bermodalkan ikhlas dan kasih sayang

Tuhan,
Redhai langkah kami hari ini,
menjalani takdir yang telah Engkau gariskan
tuntunlah kami agar selalu di jalan yang lurus
tegurlah kami bila menyimpang
berilah kami hanya rizki yang halal                                                                                                                                                                            untuk diri dan keluarga kami

jauhkan kami dari kerakusan dan ketamakan
bebaskan kami dari memakan yang bukan hak kami

amiin ya rabbal alamiin

Entahlah…

Anakku, 
kamu telah menampar ayahmu pagi ini
kamu bangunkan kalbu ayah dari tidur panjangnya dengan tanyamu yang menyentak
sebuah pertanyaan yang ayah tak tahu apakah pernah terlontar dari hati ayah sediri atau tidak
karena ayah tak tahu lagi,
seperti apa cinta yang ayah miliki kini, 
atau jangan-jangan ayah tak memilikinya lagi
cinta ayah kini hanyalah untuk kalian anak-anakku
karena kebahagiaan kalian adalah puncak dari segala cinta yang ayah miliki

 

051212

Ke Pandeglang, ke Sekolah yang Asri dan Sarat Prestasi

Berbagi ilmu dengan guru di 6 kota.

Kota keempat yang saya kunjungi bersama rekan Yulef Dian dalam berbagi ilmu kepada guru ini adalah Pandeglang. Sehari sebelum. Sehari sebelum hari pelatihan saya d isms oleh Rian Sanjay dari Indosat Bekasi.

Pak Dian, Driver yang akan mengantar bapak ke Pandeglang besok namanya pak Dian.

Adalah suatu kebetulan bila bila nama saya ada Dian-nya dan rekan Yulef juga ada Dian-nya. Maka besok akan ada tiga Dian dalam satu mobil yang akan membawa kami ke Pandeglang. Saya jadi tersenyum dalam hati.

Berhubung awal perjalanan kami besoknya adalah dari Tangerang, maka untuk memudahkan keberangkatan rekan Yulef yang tinggal di Bekasi, menginap di rumah saya. Sehingga kami bisa berangkat bersamaan pagi hari esoknya. Sanjay dalam smsnya juga mengatakan bahwa kami ditunggu jam 6 pagi di Galeri Indosat Tangerang yang ada di  Lippo Karawaci. Karena saya sudah mengenal lokasinya karena pernah tinggal di daerah Karawaci selama setahun, maka saya tenang-tenang saja.

Pada hari H nya, setelah shalat subuh di masjid dekat rumah, kami bersiap termasuk sarapan. Jam setengah enam kami berangat dari rumah dan berjalan kaki menuju halte Telkom Divre Jakarta Barat, di jalan S. Parman. Tak lama menunggu bus kota jurusan Tangerang yang melewati Karawaci lewat, setelah naik kamipun meluncur menuju Karawaci. Lanjutkan membaca “Ke Pandeglang, ke Sekolah yang Asri dan Sarat Prestasi”