Tamu Istimewa di Rumah Kami (2)

Menyadari bahwa saya salah jalan, akhirnya saya menyetop angkot KWK B 01, jurusan Grogol-Muara Karang. Dengan badan berkeringat karena berjalan dan kepanasan di bawah sinar matahari sore, plus polusi udara Jakarta. Ditambah lagi rasa stress waktu yang semakin petang dan ketakutan terlambat sampai di Bandara, di atas angkot saya hanya bisa diam dalam kecemasan dan detak jangtung yang semakin kencang. Saat itu saya hanya bisa berdoa, sayang doa saya itu jelek yang sungguh tidak pantas untuk ditiru, yaitu agar pesawat yang membawa Fitri sedikit delay dan jangan mendarat dulu sebelum saya sampai di bandara. Enak banget!  🙂

Belum lagi sampai di persimpangan Pluit Selatan, yang di bagian utara persimpangannya terdapat halte busway yang sebelumnya sudah saya lewati bersama Zulfikar Akbar, saya langsung turun dari angkot, membayar ongkos Rp. 2.000,- lalu berjalan cepat menuju lampu merah, setelah sampai belok kekiri memasuki jalan Pluit Selatan, lalu tancap gas berjalan  lebih cepat lagi seperti atlet triathlon, menuju titik kumpul menunggu taksi, sekitar 200 meter dari persimpangan. Lanjutkan membaca “Tamu Istimewa di Rumah Kami (2)”

Tamu Istimewa di Rumah Kami

Pesta ulang tahun Kompasiana berjudul Kompasianival, meninggalkan banyak kesan yang takkan terlupakan bagi saya dan keluarga. Pertama pulangnya salah seorang anak saya di dunia maya, yaitu Anazkia dari Malaysia. Kedua datangnya anak saya Fitri Yenti dari kampung ke Jakarta juga untuk mengikuti Kompasianival ini. Lalu bagaimana serunya menjemput kedua putri saya ini di Bandara Soekarno Hatta? Silakan mengikutinya sambil ngopi dan ngemil kacang atau gorengan… 🙂

Rencana pulangnya Anazkia dari Malaysia sudah dikabarkannya lebih dari dua bulan lalu. Saya menunggunya dengan berdebar-debar. Kenapa? Karena terbayang kembali kenangan serunya menjemput Ani Ramadhani sewaktu dia pulang tahun lalu, saat saya menjemputnya berdua dengan pak Thamrin Dahlan ke Bandara Soekarno Hatta. Untunglah Anazkia pulang kampungnya tidak melewati Bandara Soekarno-Hatta, Bandara yang menjadi sarang perampok para TKW, di balik topeng Terminal Khusus kedatangan para Pahlawan Devisa tersebut. Lanjutkan membaca “Tamu Istimewa di Rumah Kami”

Pesta Itu Telah Usai (Tapi Tidak Dihatiku)

 

 

Pagi menjelang jam 9, aku sampai di rumah itu. Sebuah rumah yang cukup besar di daerah Jakarta Selatan. Begitu sampai aku disodori ringkasan permasalahan yang timbul di komputernya, setelah itu dia pamit untuk pergi ke tempat kerjanya. Begitu juga sang istri, ikut keluar ada urusan lain.

Tinggallah aku sendiri di ruang kerjanya, seorang pembantu berusia diatas 50 tahunan sibuk di dapur, yang terletak jauh dari ruang kerja.

Ditinggal sendiri di rumah besar dan luas tanpa ada penghuni lain, aku merasakan kesunyian mulai menyelimutiku. Pekerjaanku yang hanya mengutak-atik program komputer, tak cukup kuat untuk menghindarkan aku dari suasana yang sunyi itu.

Sendiri, berteman sepi…. 🙁

Aku membuat status itu di FB, agar dalam kesendirian dan kesunyianku itu aku masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman di luar sana.

Walaupun statusku itu mendapat tanggapan dari beberapa orang teman, namun rupanya itu tak cukup untuk mengusir kesepian yang ku rasakan. Pikiranku menerawang dan melayang, jauh dari rumah yang saat itu ku tunggui. Terbayang anakku di Bekasi yang tengah sakit, yang aku tahu pasti saat itu juga di rumah sendiri hanya di temani pembantu. Sementara suaminya menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga, pergi bekerja. Sepasang cucukupun tengah pergi ke sekolah, menuntut ilmu untuk masa depannya.

Aku mengambil telepon genggamku, lalu menelpon anakku. Nihil, tak ada nada panggil yang terdengar, aku gelisah, ada apa dengannya sehingga telepon genggamnya di matikan? Konsentrasiku buyar, namun aku berusaha untuk tenang, namun tak bisa. Dadaku berdegup kencang, selama ini tak pernah dia mematikan telepon genggamnya. Aku berusaha agar tidak panik, aku lalu teringat seorang temannya yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumahnya. Aku lalu menelpon dan mendapat sambungan, aku lalu mengatakan kalau telepon anakku tak menyala, dan minta tolong dia untuk  membantu menghubunginya.

Aku kembali meneruskan pekerjaanku, kembali ke alam kesunyian, kesunyian yang menyiksa hatiku. Pikiranku kembali melayang, kini yang melintas adalah kenangan semalam, pesta ulang tahun Kompasiana yang dijuluki Kompasianival.

Aku datang ke Kompasianival bersama anakku yang baru pulang dari Malaysia, disamping peralatan tempurku. Kami juga membawa sekarung kaus BHSB, untuk di jual kepada para mereka yang senang dengan perjuangan BHSB, menghibahkan buku-buku pelajaran ke sekolah-sekolah yang terletak di pelosok negeri.

Aku memang tidak melibatkan diri secara penuh pada salah satu grup yang aku ikuti, arena aku tidak ingin ada kecemburuan dari banyak grup lain yang aku juga menjadi anggotanya. Sebagai orang tua, aku ingin bersikap adil kepada mereka semua. Dengan tidak terikatnya aku dengan salah satu grup dalam Kompasianival ini, aku bebas mengunjungi mereka semua di both masing-masing grup, mensupport dengan semangat dan menghargai kerja keras mereka yang begitu antusias dan bersemangat mempersiapkan diri.

Dengan bebasnya aku menelusuri setiap grup, akhirnya aku berhasil menemui anak-anakku, adik-adikku maupun teman sebaya serta yang lebih tua yang datang dari seluruh pelosok Indonesia. Kami bersalaman, berpelukan melepaskan rasa rindu. Betapa mengharukan sekaligus juga membahagiakan pertemuan itu. Sebuah kerinduan yang terpendam begitu lama di dunia maya, persahabatan yang terjalin oleh tertulisnya rangkaian kata, dalam tawa dan canda terkadang juga fatwa, saat itu menjelma menjadi nyata, mereka hadir di depan mata.

ada yang terasa hangat dibalik pelupuk mataku…

Pertemuan sejenak malam itu, sungguh tak bisa kulupakan. Kerinduan yang belum sepenuhnya terbebaskan, kini kita harus berpisah lagi. Kembali ke habitat masing-masing di kehidupan yang sepenuhnya nyata, kehidupan sehari-hari sebagaimana adanya aku saat ini. Ditinggal sendiri berkawan sunyi berselimutkan sepi.

Aku tak ingin mendustai diri, khususnya pada anak-anakku atau juga adik-adikku. Belum cukup rasanya aku melepaskan rindu pada kalian. Pada tawamu, pada candamu dan pada tingkahmu, aku akan senantiasa merindukan kalian.

Pesta memang sudah usai, lampu-lampu sudah dimatikan, pintu-pintu sudah ditutup, kitapun melangkah gontai meninggalkan gedung itu. Tapi di hatiku pesta itu tak pernah berakhir, mungkin dalam waktu yang lama, karena kalian senantiasa ada di hatiku, apakah kalian akan senantiasa disana, hingga akhir hayatku? Entahlah, biarlah perjalanan waktu yang menjawabnya.

 

 

 

Ke Karawang Aku Datang

Berbagi ilmu dengan Guru di 6 Kota (2)

Berangkat dari Tomang pukul 5.30 pagi, saya naik busway dengan tarif Rp. 2.000,- Sampai di Semanggi saya turun dari busway, lalu berjalan ke halte bus reguler. Setelah menunggu sekitar 10 menit, bus yang saya tunggu datang, bus Patas AC Mayasari Bakti jurusan Bekasi.

Saya menikmati perjalanan pagi itu, jalanan masih cukup sepi karena kami berlawanan arah dengan kendaraan yang ada di sebelah kanan kami yang mulai ramai, walaupun belum macet.

Karena sepinya jalan yang kami lewati, Semanggi – Bekasi Timur hanya memakan waktu 29 menit. Itu juga gara-gara perjalanan kami tersendat menjelang pintu tol Jati Bening. Di jalur cepat jalan tol Jakarta – Cikampek itu sebuah truk pengangkut batu bata semen mengalami kecelakaan. Seluruh muatannya tumpah ke jalan berpatahan, malah banyak yang diantaranya hancur tak berbentuk lagi menjadi butiran halus.

Disaat matahari baru menanjak memperlihatkan diri dari balik awan yang menyelimuti bumi, suatu musibah menimpa sebuah truk pengangkut bata semen di dekat Jati Bening...

Dari pintu tol Bekasi Timur, saya bersama rekan Yulef Dian yang sudah duluan menunggu di sana naik ojek menuju kantor Indosat Area Botabek, di jalan Veteran   samping masjid Agung Al-Barkah, Bekasi.

Di depan kantor Indosat saya melihat beberapa mobil sudah standby, kepada salah satu petugas yang ada disana saya lalu menanyakan mobil mana yang akan berangkat ke Karawang. Sambil menunjuk salah satu mobil dia mengatakan: “Nanti sekalian bareng pak Joko, pak!”  Karena belum kenal dengan yang namanya pak Joko, maka saya hanya menjawab: “iya, pak, terima kasih…!”

Singgah sejenak di Galeri Indosat Karawang

Tak menunggu lama, orang yang kami tunggu datang dan kami langsung diajak masuk mobil. Setelah berada di dalam mobil baru saya dan Yulef sempat memperkenalkan diri.  Namanya Joko Kartono, TO Cikarang dan Rengasdengklok.

Dari Bekasi, lewat jalan tol kami langsung menuju Karawang. Kami sampai di Karawang dan singgah di Galeri Indosat, di komplek Ruko Pavilin Shop. Karena hari masih pagi, jam baru menunjukkan angka 07.40, kami disuruh istirahat dulu di lantai dua Galeri Indosat. Pak Joko menawari kami  nasi Padang buat sarapan pagi, yang kami terima dengan suka cita, karena saya memang belum sempat sarapan tadi  pagi kecuali segelas teh manis di rumah. Yulef malah cuma sempat minum segelas air putih di tempat kostnya di Tambun, maklum bujangan.

SMA Telagasari Karawang, tempat diadakannya pelatihan

Mendekati jam 8.30 kami meninggalkan Galeri Indosat, lalu membelah kota Karawang menuju Telagasari, dimana lokasi SMA Negeri 1 berada.

Karawang yang saya kenal selama ini hanyalah sebagai gudang beras, namun dengan berkembangnya industri, Karawang kini juga mulai beranjak menuju kota Industri dengan berdirinya beberapa pabrik di sana. Karena ini adalah pertama kali saya menyusuri kota Karawang, maka belum terlalu banyak hal-hal yang bisa saya ungkapkan di sini.

Jam sembilan lewat beberapa menit kami sampai di komplek SMA Negeri 1 Telagasari. Adanya kegiatan pelatihan blog, internet serta media sosial yang diselenggarakan di sini sudah terlihat dengan jelas begitu kami memasuki gerbang sekolah. Sebuah spanduk yang menjelaskan acara yang digagas Indosat tersebut, terbentang di sana. Mobil yang kami tumpangi  lalu menyusuri gerbang dan terus menuju ke pekarangan dan halaman bagian dalam sekolah yang cukup luas itu, lalu berhenti di depan ruangan laboratorium komputer yang sanggup menampung sekitar 50 peserta itu.

 

Suasana pelatihan dengan guru yang berasa dari Karawang, Cikarang dan Rengas Dengklok

 

Turun dari mobil saya langsung menuju ruang pelatihan dan mendapatkan sudah cukup banyak peserta yang hadir. Setelah meletakkan bagpack dan mengeluarkan kamera, saya lalu berjalan mengitari SMA Negeri 1 Telagasari ini, menunggu di mulainya acara pelatihan.

Tepat jam 9.30 pelatihan dimulai dengan pengenalan produk Indosat yang juga diselingi dengan kuis interaktif. Berhubung area manager Indosat Karawang masih dalam perjalanan keliling ke counter di sekitar Karawang dan Rengasdengklok, maka sambutan secara formal atas pelatihan ini di undurkan setelah rehat minum kopi.

Yulef Dian dengan presentasi pelatihan pengenalan Internet, Blog dan Media sosial

Sesi pertama pagi itu adalah presentasi pengenalan Blog, Internet dan Media Sosial yang disampaikan oleh saudara Yulef Dian. Presentasi ini cukup menarik perhatian para peserta karena didukung dengan data, ilustrasi maupun gambar serta grafik yang cukup menarik, dan perkembangannya hingga saat ini. Serta pemutaran video tentang Matt manusia si penari sebagai selingan.

Kata sambutan dari Area Manager Indosat Karawang, setelah rehat minum kopi,

Setelah istirahat untuk melaksanakan shalat zuhur dan juga makan siang, jam 1 siang acara dilanjutkan dengan sesi kedua, yaitu praktek pembuatan blog untuk semua peserta. Seperti kejadian sebelumnya di Bekasi, praktek pembuatan blog ini kurang maksimal, karena melambatnya sinyal jaringan internet yang diserbu hampir 40 peserta secara bersamaan ke situs yang sama, WordPress.

Saya dengan materi pembuatan Blog dengan platform WordPress

Mendekati jam 15.00 pelatihan hari pertama ini pun usai yang akan disambung esok harinya dengan materi pelatihan yang berbeda, yaitu Indosat i-School. Menunggu team Indosat berbenah, saya menyempatkan diri melihat kaegiatan ekstra kurikuler para pelajar SMA Negeri 1 Telagasari ini. Walau ada beberapa kegiatan dalam kelompok kecil lainnya, tapi saya lebih tertarik mengabadikan kegiatan senam aerobik massal yang dilaksanakan di bawah teriknya matahari sore itu. Meskipun harus dengan keringat bercucuran yang membasahi pakaian sekolah mereka, para pelajar tersebut dengan semangat mudanya mengikuti latihan tersebut dengan penuh antusias.

Para pelajar SMA Negeri 1 Telagasari, Karawang, tengah mengikuti kegiatan Ekskul di bawah teriknya panas matahari

Setelah selesai berbenah, saya bersama Yulef Dian dan Team Indosat Karawang yang di komandani oleh pak Joko Kartono bersiap meninggalkan SMA Negeri 1 Telagasari, Karawang. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan komplek sekolah tersebut, persis di pintu gerbangnya kami berhenti sejenak, untuk apalagi kalau bukan sedikit bernarsis ria berfoto bersama. Sayangnya semua peserta sudah pulang duluan, sehingga dokumentasi foto bersama ini kurang lengkap. Tapi ibarat kata pepatah, tak dapat rotan, akarpun jadilah.

Selesai mejeng bersama, kamipun meninggalkan  sekolah tersebut. Sebuah sejarah telah dibuat, begitu juga torehan pengalaman yang akan mengisi bingkai perjalanan hidup juga telah didapatkan. Pelan namun pasti lingkungan sekolah tersebut kami tinggalkan, sebagian dari kami akan datang lagi esok harinya. Semoga saya pun suatu saat nanti bisa kembali kesana, menapaktilasi perjalanan dalam rangka berbagi ilmu ini untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Sebuah perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, khususnya bagi diri saya pribadi.

Berpose sejenak bersama team Indosat Karawang di gerbang SMA Negeri 1 Telagasari, Karawang.

Berbagi Ilmu Dengan Guru di 6 Kota: Kota Pertama, Bekasi

Titik awal pelatihan blog untuk guru di 6 kota, STMIK Bina Insani di jalan Ahmad Yani, Bekasi.

Saat mendapat tantangan dari Indosat Regional Bodetabek sebagai tenaga pengajar pada pelatihan Blog dan pengenalan sosial media dan internet, untuk guru di enam kota di Bodetabek, yaitu Bekasi, Karawang, Tangerang, Pandeglang, Bogor dan Depok, saya langsung menyanggupi.

Pelatihan ini juga berkaitan dengan diluncurkannya program Indosat i-School. Sebuah program terintegrasi melalui internet yang menghubungkan antara pihak sekolah dengan murid dan pihak orang tua murid. Dengan program i-School ini, pihak sekolah akan senantiasa memberikan laporan perkembangan pendidikan anak didik, kepada pihak orang tua. Begitu juga sebaliknya, pihak orang tua akan senantiasa mengetahui perkembangan pendidikan anak-anak mereka melalui program i-School ini dengan mengaksesnya melalui jaringan internet.

 

Eldi, Marketing Communication Indosat Botabek Area, membuka pelatihan.

Karena pelatihan yang saya tangani ini terdiri dari dua bagian, maka saya mengajak seorang teman untuk saling berbagi. Awalnya saya mengajak Wijayakusumah alias Omjay, pakar pendidikan yang juga seorang guru di Labschool Jakarta. Tapi setelah mengetahui jadwal pelatihan, Omjay menyatakan tidak bisa, karena bertepatan dengan hari mengajarnya atau pelatihan lain yang juga sudah masuk kedalam agendanya. Akhirnya saya mengajak saudara Yulef Dian, seorang pakar komputer dan juga blogger tamatan Universitas Bung Hatta, Padang. Kebetulan kami juga tergabung dalam komunitas Blogger Bekasi, dimana Omjay juga terlibat di dalamnya.

Ucapan selamat datang dari pimpinan STMIK Bina Insani, Bekasi

Kota pertama yang kami kunjungi adalah Bekasi. Pelatihan yang di tangani oleh Indosat area Bekasi di adakan di STMIK Bina Insani di jalan Ahmad Yani, di samping komplek pertokoan  Bekasi Cyber Park, Bekasi.  Acara pelatihan ini di buka oleh mbak Eldi,  Marketing Communication Indosat Regional Jabodetabek,  kemudian dilanjutkan dengan presentasi produk dan program Indosat oleh Area Manager Indosat Bekasi, Nurwahedi.

Nurwahedi, Area Manager Indosat Botabek, dalam presentasi produk dan program Indosat.

Pemateri pertama di acara yang dimulai pukul 10 ini adalah Endy J. Kurniawan, Marketing Communication Head at Indosat, PR, Digital Marketing, Community Management and Value Added Services for Botabek Area including Karawang, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang and Serang. Sebagai pakar komunikasi, Endy berhasil memukau para peserta pelatihan, sehingga waktu 1,5 jam berlalu tak terasa. Presentasi menarik yang diselilingi dengan tanya jawab ini, terpaksa segera ditutup karena sudah mepet dengan waktu shalat Jum’at. Begitu selesai para peserta segera bergegas menuju Islamic Center yang terdapat di seberang jalan di hadapan STMIK Bina Insani.

Pemateri pertama Endy Junaedy Kurniawan Marketing Communication Head at Indosat.

Selesai shalat Jum’at dan makan siang, saya kebagian jadwal melanjutkan pelatihan dengan praktek pembuatan Blog dengan platform blog WordPress. Praktek pembuatan blog ini sayangnya tidak berjalan dengan mulus, karena serentaknya para peserta yang online menuju situs yang sama yaitu situsnya WordPress, mengakibatkan menurunnya kecepatan transmisi sinyal saluran internet. Sehingga di akhir pelatihan, peserta yang sukses membuat blognya hingga tuntas sampai mengisi konten dan berhasil ditayangkan, hanya beberapa orang.

Saya kebagian tugas mengajak para peserta pelatihan praktek langsung pembuatan blog pribadi.

Presentasi terakhir hari itu adalah Pengenalan media sosial, Facebook dan Twitter dan pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran bagi guru di sekolah, yang presentasinya disampaikan oleh Yulef Dian. Para peserta yang tadinya agak mengalami kekecewaan karena tidak bisa dengan tuntas membuat blog mereka, saat itu mulai terhibur karena presentasi ini diselingi dengan pemutaran video seorang penari yang berhasil keliling dunia hanya dengan modal menari di depan umum di negara-negara yang dikunjunginya

Yulef Dian dengan presentasi Pengenalan dan Pemanfaatan Sosial Media, Blog dan Internet dalam proses belajar mengajar.