Merantau ke Pekan Baru (13)

Dengan menahan perasaan galau dan diselimuti kecemasan akhirnya pelayangan yang aku tumpangi sampai juga di dermaga sungai seberang, aku bernafas lega, karena apa yang aku cemaskan dan takuti tidak terjadi.

Karena tadi bus kami yang terakhir naik, sekarang bus kami pula yang pertama turun, karena jembatan penyeberangan antara pelayangan dan jalan yang terbentang di hadapan kami persis berada di depan bus yang kami tumpangi.

Setelah pelayangan benar-benar merapat dan tertambat dengan kuat, sopir kami mulai menyalakan mobilnya. Stokar mengambil besi engkol mesin bus, memasukkannya di lubang engkol mesin di depan bus lalu memutarnya dan hanya dengan sekali putaran, mesin bus Sinar Riau itu menyala berderum. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (13)”

Merantau ke Pekan Baru (12)

Panas matahari pagi membangunkan aku dari tidurku. Rupanya aku tertidur tidak lama sejak keluar dari lubang kalam. Kini kudapati bus berhenti, rupanya aku di baringkan di atas bangku tempat dudukku yang menyambung dengan bangku sopir. Aku lalu melihat ke belakang, semua bangku kosong, begitu juga familiku tak ada di sampingku. Tiba-tiba aku mendengar pintu bus di buka, dan muncullah sopir bus kami. “awak lah tibo di palayangan Rantau Berangin…!” katanya.

Aku lalu melihat kedepan, rupanya benar, kami akan naik pelayangan lagi. Ketika itu aku mau turun, karena semua penumpang telah berada pelayangan. Tapi sopir melarang aku turun, karena bus sudah akan naik pelayangan. Bus yang di depan kami saat itu sudah mulai memasuki pelayangan dan mengambil posisi parkir. Setelahselesai, sekarang bus kami yang akan naik pelayangan. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (12)”

Merantau ke Pekan Baru (11)

Bus Sinar Riau yang kami tumpangi pelan-pelan meninggalkan daerah pelayangan, bus tidak bisa berjalan cepat karena jalanan sempit, disamping itu juga becek dan licin. Kendaraan yang parkir di sebelah kanan kami, yang menunggu antrian untuk naik pelayangan cukup banyak, tapi rasanya tak sebanyak di tempat kami antri tadi.

Setelah kami lepas di ujung antrian, barulah bus bisa berjalan agak cepat. Tapi kondisi jalan tetap menjadi kendala, lumpur, licin dan berlubang-lubang. Namun semakin jauh kami dari lokasi pelayangan, kerusakan jalan makin berkurang, sehingga bus bisa melaju lebih cepat. Dan itu juga dibantu oleh jalanan yang mulai sepi dari perkampungan penduduk. Yang kadang-kadang memperlambat laju bus adalah tikungan tajam, sehingga sopir harus memperlambat kendaraan. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (11)”

Merantau ke Pekan Baru (10)

Baru saja aku selesai makan, pak sopir naik keatas bus dan memberi tahu penumpang agar turun, karena sebentar lagi bus akan naik pelayangan dan penumpang di persilakan berjalan kaki naik pelayangan dan menunggu di ruang tunggu.

Kami semua turun dari bus, lalu menuju ke pinggir sungai. Aku di tuntun oleh familiku, tanganku dipegangi agar aku tak jauh darinya. Pelayangan yang akan kami naiki saat itu masih belum merapat, tapi sudah semakin dekat ke dermaga dipinggir sungai. Petugas pelayangan meminta kami jangan terlalu dekat ke pinggir sungai, untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan.

Pelayangan semakin dekat ke dermaga, hingga akhirnya benar-benar merapat. Petugas pelayangan segera beraksi. Ada yang memasang papan jembatan untuk kendaraan, juga untuk para penumpang. Ada lagi yang mengikat pelayangan dengan rantai ke tiang besi di pinggir sungai agar tak merenggang dari dermaga. Penumpang turun dipersilakan dulu melewati jembatan yang menghubungkan pelayangan dengan dermaga, bersamaan dengan kendaraan yang mereka tumpangi turun satu-persatu dari pelayangan.

Setelah kendaraan dan para penumpang turun telah habis, barulah kami menaiki pelayangan, melewati jembatan kayu. Sebagian orang laki-laki dewasa, tidak mau menyeberang melewati jembatan kayu. Dengan kakinya yang panjang mereka melangkahi celah antara dermaga dengan pelayangan. Lalu secepatnya mencari bangku kosong di ruang tunggu.

Dengan tangan tetap dipegang oleh familiku, aku menyeberang dari dermaga ke pelayangan. Aku sedikit gamang begitu menginjakkan kaki di atas pelayangan, karena pelayang terasa bergoyang karena didorong gerakan air sungai. Kami juga segera mencari bangku tempat duduk dan mendapatkannya. Aku duduk sambil menyandarkan badanku ke dinding, goyangan pelayangan itu masih terasa.

Disaat aku masih gamang dengan goyangan pelayangan itu, bus yang di depan kami mulai menaiki pelayangan. Bebannya yang berat, membuat pelayangan itu sedikit terangkat di bagian ruang tunggu dan agak terbenam di mana bus itu naik. Aku semakin cemas, dalam pikiranku bagaimana kalau pelayangan ini tenggelam? Aku berpegangan erat-erat ke papan bangku tempat aku duduk. Setelah badan bus itu masuk seluruhnya ke atas pelayangan dan mengambil posisi parkir agak merapat ke ruang tunggu, barulah pelayangan itu kembali keposisi normal. Ketika kendaraan kedua naik yaitu bus Sinar Riau yang kami tumpangi, kembali pelayangan itu bergoyang dan terangkat. Tapi kini goyangannya tidak seperti bus pertama tadi naik. Sehingga aku mulai agak merasa tenang.

Setelah kendaraan terakhir sebuah truk penuh muatan naik, para petugas mulai menurunkan kayu jembatan, begitu juga rantai pengikat pelayanganpun dilepaskan. Pelan-pelan pelayangan bergerak melepaskan diri menjauhi dermaga. Posisinya yang tadi lurus pelan-pelan mulai serong, dengan sudut yang terikat kabel mengarah ke hulu sungai. Setelah posisi pelayangan itu sesuai dengan yang diinginkan, pelan-pelan dia mulai bergerak menjauhi dermaga tempat kami menunggu tadi.

Walau air sungai mengalir cukup deras, pelayangan yang kami naiki bergerak cukup tenang, ini mungkin karena beratnya beban muatan di atasnya. Rasa gamang yang tadi aku rasakan sedikit demi sedikit mulai hilang. Aku lalu melihat ke dermaga dan jalan yang baru saja kami tinggalkan, pemandangan kesana cukup indah, lampu-lampu sitarongkeng para pedagang terlihat indah dari pantulan air sungai. Begitu juga dermaga seberang sungai yang sedang kami tuju, memperlihatkan keindahan yang sama, sehingga pelannya laju pelayangan ini tidak membuat aku bosan menunggu hingga sampai ke seberang.

Keasyikanku melihat pemandangan di sekitar sungai yang memantulkan kelap kelip lampu penerangan di atasnya, rupanya harus diakhiri. Tanpa kusadari pelayangan yang kami tumpangi hampir merapat ke dermaga, aku dan familiku bersiap meninggalkan pelayangan, begitu juga penumpang yang lain.

Setelah pelayangan benar-benar merapat dan para petugas telah memasang jembatan kayu untuk menyeberang ke dermaga, juga pelayangan telah ditambatkan. Kami mulai bergerak keluar turun dari pelayangan. Kami kembali bertemu dengan jalan yang becek dan aspal yang mulai pecah-pecah.

Bus yang di depan kami telah turun dan mencari tempat berhenti untuk menunggu penumpangnya naik. Begitu juga bus Sinar Riau yang kami tumpangi, juga telah turun dari pelayangan disusul truk barang.

Semua penumpang Sinar Riau kembali menaiki bus, dan duduk di tempatnya masing-masing. Setelah semuanya lengkap, bus melanjutkan perjalanannya menuju Pekanbaru. Sopir satu kembali mengemudikan bus yang kami tumpangi.

 

Bersambung

Merantau ke Pekan Baru (9)

Setelah muatannya penuh, cukup lama aku menunggu dan memperhatikan, bagaimana pelayangan itu menyeberangi sungai yang lebar dan airnya cukup deras itu. Dari tempat aku berdiri, kulihat pelayangan itu bergerak sangat lambat. Apalagi suasana malam yang gelap di tengah sungai, membuat pergerakan pelayangan itu terlihat begitu pelan. Aku tidak tahu berapa menit lamanya proses penyeberangan itu, namun lambat tapi pasti, dia semakin mendekat kearah pinggir sungai ketempat aku berada. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (9)”