Merantau ke Pekanbaru (8)

Buruknya jalan yang kami lewati , membuat para penumpang bagaikan sedang menumpang perahu yang sedang diamuk badai. Terayun kekiri dan kekanan dan terhuyung kedepan bila bila tiba-tiba roda depan bus masuk lubang yang agak dalam.

Perjalanan malam dengan pemandangan terbatas, disertai tubuh yang lelah diayun dan di guncang oleh jalan bus yang tidak stabil, membuat mataku mengantuk. Kepalaku beberapa kali terantuk ke dasbor bus, karena tanganku yang memegang besi pegangan terlepas karena tertidur. Akhirnya aku tertidur sambil bersandar sandaran bangku bus, tapi inipun tak nyaman. Badanku sering miring ke kanan dan mengenai tangan sopir yang sedang mengemudi. Karena merasa terganggu, badan atau kepalaku suka disikut dan didorong oleh sopir, hingga kembali ke posisi semula, atau miring kekiri kearah familiku. Tapi itu tak berlangsung lama, karena kemudian aku tak merasakan apa-apa lagi, tidur pulas. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekanbaru (8)”

Merantau ke Pekan Baru (7)

Bus Sinar Riau yang kami tumpangi sampai di kelok 9, atau tikungan terakhir dalam pendakian menjelajahi hutan raya Bukit Barisan.  Setelah melewati tikungan terakhir itu kami mulai melewati jalan yang tidak terlalu menanjak, walau juga belum sepenuhnya datar.

Belum begitu jauh kami melewati tikungan terakhir itu, jalan yang kami lewati tak lagi semulus jalan sebelumnya. Bus kami mulai melewati jalan berlumpur dan berlubang disana sini. Aspal jalan sudah tak lagi kelihatan, karena tertutup tanah lumpur. Bus pun mulai berjalan zig-zak menghindari lubang-lubang yang menganga sepanjang jalan. Kecepatan bus pun jauh berkurang, pak sopir bekerja keras mengatasi keadaan. Dia ekstra hati-hati, karena kalau terlalu kepinggir di sisi kiri, maka jurang dalam menganga siap menelan kami. Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (7)”

Merantau ke Pekan Baru (6)

Setelah selesai makan, semua penumpang dipanggil melalui pengeras suara agar kembali naik bus. Begitupun kami, segera kembali naik bus. Setelah semua penumpang lengkap naik semua, bus yang kami tumpangi melanjutkan perjalanan. Sopir yang mengemudikan bus yang kami tumpangi ini telah berganti dengan sopir dua, tidak lagi sopir yang tadi yang dipanggil sebagai sopir satu. Sopir yang sekarang orangnya agak pendiam dan kurang suka mengobrol seperti sopir pertama.

Bus melaju meninggalkan nagari Lubuak Bangku, komplek rumah makan terbesar menjelang memasuki hutan raya Bukit Barisan, yang membelah dua pulau Sumatera menjadi Barat dan Timur. Pintu gerbang hutan Bukit Barisan ini adalah Kelok Sembilan. Dinamakan kelok Sembilan karena memang untuk mendaki puncak Bukit Barisan itu, semua kendaraan akan melewati jalan mendaki yang berkelok-kelok, dan jumlah kelok atau tikungan yang akan dilewati itu banyaknya Sembilan. Makanya dinamai Kelok Sembilan.

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (6)”

Merantau ke Pekan Baru (4)

Setelah menembus pebukitan, bus kami kembali memasuki perkampungan, Simpang Batuampa. Bus bisa kembali melaju agak kencang karena perkampungannya tidak begitu ramai dan jalannya lumayan lebar. Kami melewati kebun-kebun dengan aneka ragam tanaman. Kebun jagung, kacang tanah dan sayur-sayuran, tapi pohon pisang tetap lebih dominan. Disetiap sudut kebun, halaman maupun pinggir sawah yang berbatasan dengan kampung, daun pisang yang lebar itu berayun dan berkepak ditiup angin. Disela-sela kebun itu menjulang tinggi pohon kelapa dengan buahnya yang sarat, tergantung diantara pelepah daun.

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (4)”

Merantau ke Pekan Baru (3)

Dari dalam bus aku melihat timbunan pisang yang masih lengkap dengan tandannya, menumpuk di depan beberapa kios. Begitu juga karung beras yang sering disebut goni, bersusun rapi di depan kios lainnya.

Kami melewati stasiun kereta api dengan rel ganda, tempat persilangan kereta api yang datang dari Bukittinggi dan yang datang dari Payakumbuh. Saat itu aku tak melihat ada kereta api disana, stasiun itu kosong. Aku belum tahu, seperti apakah kereta api yang di katakan pak Sopir itu?

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (3)”